loading...

Jurnal Mesin Waktu Bambang Hartono

Mendengarkan orang tua bercerita, bagi saya, adalah sebuah hal yang menyenangkan.

Orang tua adalah cerminan nyata dari sebuah garis waktu. Keriput yang tertera di wajah mereka adalah guratan pengalaman. Ada masa lalu indah, ada juga kesedihan yang akhirnya membuat orang tua tersebut mengenyam banyak pelajaran. Pengalaman adalah kekuatan dari orang tua.

Oleh karena itu, mendengarkan orang tua berkisah, bagi saya, laiknya menaiki mesin waktu. Semakin menyenangkan ketika kisah yang diceritakan dihiasi dengan emosi. Imaji tentang masa yang diceritakan semakin nyata tergambar di kepala.

Hal inilah yang saya rasakan kala bersua Michael Bambang Hartono, atlet bridge Indonesia yang sudah berusia 79 tahun. Ada momen ketika saya merasa, dia sudah mengajak saya menaiki mesin waktu versi dirinya.

***

Siang itu, tepatnya Rabu (29/8/2018), saya bersama awak tim video dan kolaborasi kumparan, menemui Bambang Hartono di kantornya yang berada di daerah Slipi, Palmerah, Jakarta Barat. Kami sudah membuat janji untuk mengadakan sesi wawancara siang itu.

Sesampainya di sana, selain pihak keamanan yang sudah menanyai kami macam-macam (ini wajar, menurut saya), ada beberapa hal baru yang saya ketahui. Media PR kantor Bambang menyambut kami baik, serta memperkenalkan budaya kantor Bambang sehari-hari.

Saya terkesiap. Kantornya begitu besar, tapi tetap ada kesan kesederhanaan di sana. Suasana santai terasa, tapi ada juga intensitas kerja tinggi di sana. Lukisan-lukisan terpampang rapi di setiap sudut ruangan, berpadu dengan warna tembok putih kecoklatan sehingga suasana nyaman sukses dibangun sedemikian rupa.

Setelah menanti sekian lama, akhirnya Bambang muncul. Dengan jaket merah, sepatu merah, serta ID Card Asian Games 2018 yang terkalung di lehernya. Ia menyambut kami ramah. Sesi wawancara dimulai; ia dengan tegap duduk di kursi hitam sambil memandangi kami lekat.

Pertanyaan dan jawaban saling berkelindan keluar dari mulut kami serta mulut Bambang. Sebuah proses lumrah dalam satu sesi wawancara. Terkadang, terselip humor di sana. Namun, ada juga ketegasan, apalagi memang Bambang adalah pemimpin di kantornya. Namun, ada satu hal lain yang saya tangkap dalam sesi wawancara ini.

 Saya pandangi mata Bambang lekat-lekat. Saya dengarkan setiap ucapan yang terlontar dari mulutnya dengan fokus tinggi. Awalnya ini memang karena tuntutan kerja, tapi, pada akhirnya saya malah terbawa suasana. Mungkin, bagi tim lain yang hadir juga saat itu, ini adalah hal biasa. Tapi, bagi saya lain.

Saya seolah diajak Bambang menelusuri mesin waktu. Saat dia berbicara tentang awal mula perkenalannya dengan bridge, bagaimana bridge dimainkan paman-pamannya di masa silam dulu saat penjajahan Jepang, serta bagaimana dia pernah dicurangi saat ikut Kejuaraan Dunia Bridge di Bali, semua tampak nyata di pikiran saya. Saya seperti ikut terlibat, dalam sebuah kisah yang dituturkan oleh Bambang.

Hal ini serupa dengan yang pernah saya alami saat mewawancarai Totok Risantono, mantan pemain Persebaya era 70an, dan Oerip Slamet Prihadi, mantan jurnalis Jawa Pos, di Surabaya pada awal 2017 silam. Ketika itu, mereka berdia benar-benar sukses membawa saya larut dalam ceritanya. 

Jika Totok sukses membawa saya larut saat dia berkisah tentang (alm.) Rusdy Bahalwan, Slamet sukses membawa saya larut saat dia menceritakan soal sejarah Bonek dan Persebaya di tahun 70an. Mendengarkan keduanya berkisah, seperti mendengarkan dongeng dari ibu saat beliau menceritakan masa kecil dan remajanya yang beliau habiskan di Lubang Buaya, Jakarta Timur, di tahun 1970.

Ya, sudah, terima kasih, ya, ucapan dari Bambang ini langsung membuat saya sadar kembali. Oh, sesi wawancaranya sudah usai. Kami segera membereskan peralatan, pamit, dan beranjak pergi dari kantor Bambang. Tak lupa, senyum kami sunggingkan atas keramahan dan bantuan yang sudah diberikan pihak-pihak yang membantu kami mewawancarai Bambang siang itu.

Siang itu, Jakarta masih panas. Tapi, tidak dengan kepala saya yang baru selesai bermain-main di mesin waktu.

***

Pengalaman adalah guru yang paling baik. Hal ini merupakan adagium yang sudah dipercayaoi masyarakat sejak lama. Manusia belajar dari pengalaman. Manusia juga menjadi lebih dewasa dan kuat karena pengalaman.

Pertanyaannya, dari mana caranya mendapatkan pengalaman tersebut? Banyak hal yang bisa dilakukan. Bisa dengan mengalaminya sendiri, atau bisa juga dengan mendengar cerita dari orang yang pernah mengalami banyak hal. Saya memilih pilihan kedua siang itu.

Entah kenapa, siang itu, di mata saya Bambang Hartono yang dikenal orang karena kekayaannya yang bernilai 165 triliun rupiah, serta juga dikenal sebagai atlet bridge andal, tampak seperti orang tua biasa di mata saya. Orang tua yang ingin didengarkan ceritanya.

Oleh karena itu, saya betah berlama-lama mendengarkannya dan, jika boleh, saya ingin mendengarkan cerita beliau lagi.

Related Posts

", numPosts: 4, summaryLength: 370, titleLength: "auto", thumbnailSize: 250, noImage: "//3.bp.blogspot.com/-ltyYh4ysBHI/U04MKlHc6pI/AAAAAAAADQo/PFxXaGZu9PQ/w250-h250-c/no-image.png", containerId: "related-post-1723771114857493937", newTabLink: false, moreText: "Read More", widgetStyle: 3, callBack: function() {} };

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel