Prof. M.C. Ricklefs di Bali tahun 2007. (Dokumentasi pribadi)

DALAM sejarah dinasti Jawa Mataram (abad XVI sampai sekarang) sudah diketahui ada beberapa perempuan yang memainkan peranan penting. Akan tetapi sumber-sumber sejarah yang masih ada jarang menjelaskan peranan mereka secara memuaskan. Babad-babad dan sumber-sumber lain lebih menekankan kegiatian para tokoh pria seperti pangeran, raja, kyai dsb. Namun demikian, di antara para perempuan berpengaruh yang paling menonjol dalam sejarah Mataram, Ratu Pakubuwanalah (lahir sekitar 1657; wafat 1732) merupakan tokoh yang kehidupannya dan pengaruhnya cukup jelas.

Ratu Pakubuwana keturunan kaum bangsawan Jawa yang tertinggi, kisahnya dimulai dari seorang anak Panembahan Senapati Ingalaga (bertakhta c.15841601), raja yang meletakkan fondasi-fondasi kerajaan Mataram. Anak Panembahan Senopati itu bernama Pangeran Juminah atau Blitar. Anak, cucu dan cicit Pangeran Blitar itu juga dinamakan Pangeran Blitar. Yang terakhir ini adalah ayah Ratu Pakubuwana. Selama hidupnya, seperti biasa di kalangan bangsawan Jawa, Ratu Pakubuwana diberi nama-nama yang berlainan. Nama yang paling lama dipakai adalah Ratu Mas Blitar, yaitu nama Blitar yang merupakan tradisi keturunannya.

Ratu Pakubuwana menikah dengan Pangeran Puger, yang pada 1704 memberontak terhadap Amangkurat III (bertakhta 17038; wafat 1734). Puger melarikan diri ke Semarang, pusat kumpeni Belanda di pesisir Jawa. Kumpeni mengakui dia sebagai Susuhunan Pakubuwana I (bertakhta 170419) dan mengumpulkan kekuatan untuk menyerang keraton Kartasura. Sebelum penyerangan itu dapat dilaksanakan, pada 1705 Amangkurat III melarikan diri dari keratonnya ke Jawa Timur.  Lalu Pakubuwana I bersama Ratu Pakubuwana masuk ke keraton yang ditinggalkan kosong itu. Akan tetapi ada isu yang cepat muncul: pusaka-pusaka kerajaan adalah barang-barang kebesaran bekekuatan gaib yang biasanya dianggap syarat mutlak sebelum seorang raja dianggap sah?

Soalnya, kebanyakan pusaka-pusaka itu selalu dirahasiakan dan hanya boleh dilihat atau dipegang oleh beberapa orang yang kekuatan spiritualnya setara dengan kekuatan gaib benda pusaka itu. Oleh karena itu, tidak banyak orang yang dapat mengenal pusaka-pusaka tersebut. Pakubuwana I menugaskan isterinya Ratu Pakubuwana untuk mencarikan dan mengidentifikasi pusaka-pusaka itu.

Itu merupakan bukti bahwa Sang Ratu adalah ahli ilmu gaib dalam lingkungan keraton. Akan tetapi, segera menjadi jelas bahwa hampir semua pusaka-pusaka lebih dari 60 keris, tombak, dan sebagainya dibawa oleh Amangkurat III waktu melarikan diri ke Jawa Timur. Kisah pusaka-pusaka itu berlangsung cukup lama sehingga barang-barang itu akhirnya dikembalikan ke Kartasura pada 1737, sesudah Pakubuwana I dan Ratu Pakubuwana wafat.

Sang ratu itu juga muncul sebagai peminat dan pencipta beberapa buku penting yang hampir semuanya berakar dalam tradisi suci Islam. Dia tampil sebagai ingkang ayasa (yang menciptakan) naskah Serat Menak yang tertua yang pernah diketahui, ditulis pada 1715 dan masih tersimpan di Perpustakaan Nasional RI. Serat Menak itu sebagian dari tradisi suci mengenai para nabi Islam. Tokoh utama dalam buku itu adalah Menak Amir Hamza, paman Nabi Muhammad. Sekitar awal 1720-an, Ratu itu juga tampil sebagai ingkang ayasa sebuah naskah yang berjudul Babad Jawi, yang menceritakan sejarah Jawa dari tokoh-tokoh legendaris yang paling awal (Adam, Watu Gunung dan sebagainya) sehingga zaman keraton Kartasura.

Pada tahun-tahun terakhir pemerintahan Pakubuwana I, Ratu Pakubuwana isteri utama (garwa padmi) sang raja itu sangat berpengaruh. Pengaruhnya agak ditakuti oleh kompeni Belanda. Satu sumber VOC menggambarkan dia sebagai seorang yang ambisius dan mudah melepaskan rasa dendam. Dia ibu sang raja muda yang kelak menjadi Amangkurat IV (1719-26), tapi hubugan antara ibu dan anak itu cukup buruk.

Ratu Pakubuwana lebih suka anaknya lain, yakni Pangeran Purbaya. Seorang pangeran yang taat Islamnya dan juga lebih disukai oleh orang banyak, bersama dengan seorang anak Ratu Pakubuwana lain, Pangeran Blitar. Pakubuwana I sendiri, yang sudah tua (umur 70-an) dan sudah agak pikun, juga lebih suka Purbaya dan Blitar daripada raja mudanya. Akan tetapi, kompeni Belanda bersikeras bahwa raja muda itu harus tetap dipelihara sebagai penggantinya.

Pada tanggal 22 Pebruari 1719, Pakubuwana I wafat. Raja muda sekarang Susuhunan Amangkurat IV diantarkan ke keratonnya oleh wakil VOC di Kartasura. Tapi, selama dua bulan dia menolak untuk dilantik secara resmi sebagai raja baru, sementara menunggu konfirmasi dari markas besar kompeni Belanda di Batavia. Selama dua bulan itu, dia minta supaya Ratu Pakubuwana memelihara pusaka-pusaka yang ada (yang tidak banyak pada waktu itu). Sekali lagi Sang Ratu tampil sebagai ahli ilmu  gaib keraton.

Namun Ratu Pakubuwana dan cukup banyak tokoh keraton lain kurang senang pada Amangkurat IV dan lebih memihak Pangeran Blitar dan Purbaya. Pada Juni 1719, Pangeran Blitar memberontak dengan dukungan Purbaya dan kebanyakan tokoh agama di Kartasura. Penyerangan mereka terhadap keraton ditentang oleh kekuatan Kumpeni dan akhirnya gagal. Para pemberontak terpaksa melarikan diri ke arah tanah Mataram (Kartasura, di wilayah tanah Pajang). Dengan demikian mulailah Perang Suksesi Jawa II (1719-23). Pada akhir 1719, para pemimpin kompeni di Batavia menggambarkan Amangkurat IV sebagai seorang raja yang ditinggalkan oleh semua rakyatnya dan menghadapi hampir semua dunia Jawa sebagai musuhnya.

Pemberontakan itu sangat mengganggu hati Ratu Pakubuwana, yang harus menyaksikan perang berdarah di antara anak-anaknya. Menurut sumber Jawa Babad Utama Surakarta (versi yang selesai ditulis pada 1836), dia malah sempat berpikir untuk bunuh diri. Karena dia sangat dicurigai oleh kompeni, Sang Ratu dijaga ketat di Kartasura oleh VOC. Selama perang itu berlangsung, ada dugaan bahwa Sang Ratu bersama tokoh-tokoh tinggi lain sebetulnya tetap memihak secara rahasia dengan para pemberontak.

Pemberontakan itu akhirnya gagal. Pangeran Blitar meninggal pada 1721 dan dikuburkan di Nitikan (sekarang bagian dari Yogyakarta). Pangeran Purbaya, bersama beberapa tokoh pemberontak lain, menyerah pada 1723. Purbaya ditahan oleh kompeni di Tangerang, dekat Batavia, dan wafat di situ pada 1726, sedangkan tokoh-tokoh lain diasingkan ke Sri Lanka.

Walaupun VOC dan Raja Amangkurat IV yang didukungnya menang dalam perang suksesi Jawa II itu, wenang Susuhunan itu tetap kurang stabil. Menurut sebuah laporan kompeni pada tahun 1720, sang Raja itu dibenci oleh banyak orang dan kegiatan-kegiatannya diruntuhkan dan ditentang secara rahasia oleh ibunya sendiri, Ratu [Pakubuwana].  Sang Ratu Pakubuwana tetap memainkan peranan yang menonjol dalam intrik-intrik keraton pada jaman Amangkurat IV itu.

Pada Maret 1726 Amangkurat IV jatuh sakit berat. Dia menyangka diracun dan mencurigai beberapa tokoh antara elit, termasuk ibunya, Ratu Pakubuwana. Tapi kelak, pada waktu sudah dekat dengan ajalnya, sang raja hanya mempercayai ibunya untuk mempersiapkan semua obat dan makanannya. Itulah sesuatu yang agak mengejutkan, karena hubungan ibu-anak itu tidak pernah hangat. Pada waktu itu, Ratu Pakubuwana sudah tunanetra, toh masih sangat berpengaruh dalam lingkungan keraton. Pada 20 April 1726 Amangkurat IV akhirnya wafat.

Susuhunan baru, Pakubuwana II (bertahta 1726-49) adalah cucu muda Ratu Pakubuwana (umurnya baru 16 tahun) dan berada di bawah pengaruh eyang putrinya. Bagi Ratu Pakubuwana, raja muda ini memberikan kesempatan bagus baginya untuk membentuk karakter dan wewengan yang sesuai dengan harapan serta mimpi sang eyang putri. Ratu Pakubuwana memimpikan sebuah kerajaan yang diilhami oleh kesalehan dan standar-standar Islam yang murni melalui gaya Sufi. Aliran tarekat sufi mana yang dianut oleh Ratu Pakubuwana tidaklah jelas, tapi pada waktu itu tarekat Shattariyah rupanya yang paling kuat antara kalangan elite Jawa, termasuk para perempuan elite.

Ingkang Ayasa Sakti Mandraguna

Pada kurun 1729-30 Ratu Pakubuwana yang sudah tua dan tunanetra, tapi masih sangat berpengaruh sekali lagi tampil sebagai ingkang ayasa beberapa buku yang dianggap penuh dengan kekuatan gaib. Seorang ingkang ayasa (yang menciptakan) tidak harus menulis sebuah buku sendiri melainkan menentukan isi dan menyuruh penulisan buku itu. Dengan demikian, daya gaib ingkang ayasa itu bisa mengalir ke dalam buku-buku  kuat itu.

Buku yang pertama adalah Carita Sultan Iskandar, yang berdasarkan kisah Alexander Agung (Zulkarnain) dalam al-Quran (18: 83-99). Buku ini ditulis pada September-Oktober 1729. Dalam naskah Ratu Pakubuwana itu, cerita pendek dalam Alquran dikembangkan sehingga menjadi kisah yang lebih dari 130 halaman. Manggalanya (bagian awal) menjelaskan bahwa Ratu Pakuwana adalah ingkang ayasa dan mempunyai kekuatan gaib, dicintai oleh Tuhan, sudah menerima penengahan Nabi Muhammad sendiri dan tetap dijaga oleh para malaikat.

Malah Sang Ratu itu dinamakan jimat orang-orang di pulau Jawa. Buku tersebut, menurut manggala itu, ditujukan oleh Ratu Pakubuwana supaya cucu saya yang memerintahi semua nusa Jawa tetap lama menjadi raja, dicintai oleh Tuhan dan kedua oleh Rasulullah, dia yang mirip Nabi Yusuf, cucu saya Sang Raja. Lalu dijelaskan bahwa versi bahasa Jawa ini berasal dari sebuah versi dalam bahasa Melayu yang diantarkan ke keraton Sultan Agung satu abad sebelumnya. Sudah jelas bahwa inilah buku yang isinya penting, yang ingkang ayasa-nya seorang yang saleh dan memiliki kekuatan gaib yang luar biasa dan yang tujuannya adalah untuk memperkuatkan dan menyempurnakan kerajaan Pakubuwana II melalui semua kekuatan itu.

Sesudah Carita Sultan Iskandar selesai, para penulis Sang Ratu menulis buku lain yang judulnya Carita Nabi Yusuf. Sekali lagi, buku ini merupakan semacan perkembangan dan perluasan (sampai 206 halaman) dari cerita mengenai Nabi Yusuf dalam al-Quran (surah 12). Manggalanya hampir sama dengan yang terdapat dalam Carita Sultan Iskandar. Jelas bahwa inilah juga sebuah buku yang mengandung kekuatan gaib yang berasal dari sifat-sifat unik Ratu Pakubuwana dan yang diharapkan bisa menyempurnakan kerajaan cucunya Pakubuwana II. Para penulis yang menyerat naskah itu dikatakan akan menerima syafaat dari Tuhan sebagai ganjaran atas kegiatannya. Buku ini selesai ditulis pada Januari 1730.

Buku yang paling luar biasa berjudul Kitab Usulbiyah, mulai ditulis pada Desember 1729. Buku ini tidak berdasarkan Alquran, melainkan semacam versi Jawa yang unik mengenai sejarah para Nabi dari tradisi-tradisi Islam, yang sebagian ditempatkan di pulau Jawa. Judulnya yang berarti buku mengenai asal-usul para Nabi (kitab usul ambiya) mengingatkan kita kepada buku Arab mengenai para Nabi dengan judul Qisas al-anbiya.

Pengaruh dari tradisi mengenai miraj (perjalanan malam Nabi Muhammad waktu dinaikkan ke langit dan bertemu dengan Allah) juga kelihatan. Episode pusat dalam buku tersebut adalah pertemuan Nabi Muhammad dan Yesus (Nabi Ngisa). Dalam pertemuan itu, Nabi Muhammad memakai mahkota yang dihiaskan dengan dua garuda dan batu permata. Barang ini jelas mahkota kerajaan Majapahit, yang dideskripsikan dalam beberapa sumber lain dan akhirnya hilang dalam Perang Suksesi Jawa III (1746-57). Sedangkan Nabi Ngisa dikatakan menguasai dua bahasa: Arab dan Jawa. Nabi Ngisa akhirnya mengakui Nabi Muhammad sebagai atasannya.

Betapa penting naskah Kitab Usulbiyah dijelaskan pada akhir buku itu. Di situ kita membaca bahwa Usulbiyah malah mengandung kalam Allah dan boleh disamakan dengan Alquran. Seorang yang tidak mempercayai isi Usulbiyah adalah seorang kafir. Buku itu mempunyai daya untuk memberkahi siapa saja yang mempunyainya. Seorang kafir pun akan menjadi seorang Muslim. Seorang bodoh akan menjadi seorang cerdas, malah menjadi seorang yang menguasai ngelmu sempurna. Seorang yang membawa Usulbiyah ke dalam perang, tidak akan kena senjata musuhnya, karena di bawah naungan Tuhan, setara dengan naungan di bawah seribu payung. Dan sekali lagi digarisbawahi bahwa ingkang ayasa itu adalah tokoh luar biasa, Ratu Pakubuwana.

Selain buku-buku yang besar itu, juga ada beberapa karangan lebih kecil yang rupanya berhubungan dengan Ratu Pakubuwana, karena terdapat dalam jilid naskah yang sama. Antara lain Gita Sifat Nabi, mengenai keturunan Nabi Muhammad, keutamaannya, fisiognominya, perang-perangnya, pengajarannya, cintanya untuk kaum miskin dan sebagainya. Suatu teks pendek lagi berkisah mengenai tokoh legendaris Syekh Samsu Tambred, seorang anak yang mempunyai pengetahuan mistik yang sempurna (berdasarkan sumber-sumber Persia mengenai Shamsuddin Tabrizi, yang mengilhami Jalaluddin Rumi). Juga cerita-cerita mengenai tokoh-tokoh Islam lain, yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Enuh.

Suatu teks yang menarik sekali dalam koleksi teks-teks karya Ratu Pakubuwana berjudul Suluk Garwa Kancana. Arti judul itu tidak sepenuhnya jelas. Rupanya dalam konteks ini garwa tidak berarti istri, melainkan berasal dari kata Bahasa Jawa Kuna gha (rumah). Jadi, arti judulnya adalah Lagu Rumah Emas. Yang menarik adalah pernyataan pada permulaanya bahwa Suluk Garwa Kancana ini berasal dari seorang yang dinamakan Susunan Ratu (kang saking Susunan Ratu). Gelar itu memang dipakai oleh Sultan Agung pada 1630-an. Sekali lagi ada hubungan dengan raja Mataram yang paling penting itu, satu abad sebelum jaman Ratu Pakubuwana.

Isi Suluk Garwa Kencana menggambarkan kerajaan Jawa sebagai semacam kebaktian sufi. Dan rupanya ini adalah filsafah agama-politik yang diserat kepada Sultan Agung, malah mungkin sekali diciptakan oleh Sultan Agung sendiri. Jelas bahwa konsep-konsep yang dikandung dalam suluk ini senada dengan teks-teks lain yang berhubungan dengan Ratu Pakubuwana, yaitu proyek memperdalam pengaruh Islam dalam kehidupan dan kebudayaan kerajaan Jawa.

Ahli Siasat Politik

Ratu Pakubuwana wafat pada Januari 1732. Agak mengejutkan bahwa tokoh berpengaruh ini permaisuri (garwa padmi) Pakubuwana I, ibu Amangkurat IV, eyang putri Pakubuwana II tidak dikuburkan di makam-makam kerajaan Mataram di Imogiri, melainkan di suatu kuburan yang sederhana di Nitikan, Yogyakarta. Kuburannya berada di dekat makam Pangeran Blitar, anak tercintanya yang memberontak pada 1719 dan meninggal dua tahun kemudian.

Pengikut-pengikut sang ratu masih merupakan sebuah klik yang sangat perpengaruh dalam lingkungan keraton, sehingga pengaruh Ratu Pakubuwana masih berlangsung kendati dia sudah wafat. Ada klik-klik lain, tetapi para pendukung Islamisasi keraton yang paling berkuasa. Di bawah pengaruh mereka, Pakubuwana II memang mulai menjadi seorang raja Sufi yang saleh. Pada 1740 Perang Pecinan berkobar. Kaum Cina bersama dengan banyak orang Jawa melawan Kompeni Belanda. Sang Raja sangat bingung: bagaimana dia harus menghadapi krisis ini? Akhirnya dia memihak dengan pejuang-pejuang Cina dan Jawa yang anti-VOC.

Pakubuwana II memerintahkan penyerangan terhadap benteng kompeni di Kartasura pada bulan Juli 1741. Kira-kira 35 orang kompeni dibunuh, namun korban meninggal di pihak Jawa lebih banyak. Kompeni berhasil mendorong para penyerang keluar dari bentengnya, namun mereka dikepung selama tiga minggu oleh laskar Jawa. Akhirnya kompeni menyerah. Komandan dibunuh bersama dengan beberapa perwira lain, sisanya di-Islamkan secara paksa. Dengan aksi ini, Pakubuwana II tampil sebagai raja Sufi yang menang dalam Perang Sabil tehadap orang kafir. Inilah puncak proyek Islamisasi almarhum Ratu Pakubuwana.

Akan tetapi, nasib peperangan segera berubah. Pihak kompeni yang bersekutu dengan Cakraningrat IV mulai memenangkan pertempuran. Lalu Sang Susuhunan Pakubuwana II mempertimbangkan kembali keadaannya dan di bawah pengaruh ibunya, Ratu Amangkurat menghubungi kompeni untuk meminta ampun dan rekonsiliasi. Para tahanan kompeni di Kartasura dilepaskan dan kembali ke Semarang pada Januari 1742. Pendukung paling penting proyek Islamisasi yang berasal dari almarum Ratu Pakubuwana, Patih Natakusuma, ditangkap oleh VOC pada bulan Juni 1742 dan diasingkan ke Sri Langka.

Rekonsiliasi antara kompeni dan Pakubuwana II berdampak besar atas politik Perang Pecinan. Oleh karena perubahan sikap itu, pihak anti-kompeni sekonyong-konyong harus memandang Pakubuwana II bukan sebagai raja Sufi yang mengalahkan kafir kompeni, melainkan sebagai orang murtad. Mereka kemudian berbaris menuju keraton Kartasura. Pada Juni 1742 para pemberontak menaklukkan keraton itu. Sang Susuhunan dipaksakan melarikan diri bersama dengan kesatuan VOC kecil yang menjaganya di keraton. Kartasura dirampok dan banyak barang kuno yang berharga hilang sama sekali.

Selama Pakubuwana II di luar dari keratonnya, menurut salah satu babad, dia berjumpa dengan Sunan Lawu makhluk halus yang memerintah di Gunung Lawu dan dapat bantuan gaib darinya. Perjumpaan itu sulit untuk disesuaikan dengan agenda Islamisasi almarhum Ratu Pakubuwana.

Pada November 1742, tentara Madura menaklukkan keraton itu lagi, memaksakan para pemberontak untuk melarikan diri, merampas apa saja yang masih tertinggal di Kartasura, dan selama beberapa minggu lamanya Pakubuwana II menolak untuk pulang ke keratonnya yang amat rusak itu. Akhirnya pada 21 Desember, Pakubuwana II bersama dengan kesatuan kompeni diperbolehkan untuk pulang ke keratonnya. Menurut sumber Belanda, pada waktu itu keraton Kartasura rusak dan dirampas mutlak.

Pengaruh almarhum Ratu Pakubuwana, bersama dengan agenda Islamisi keraton sang ratu dan pendukung-pendukungnya, berakhir pada malapetaka yang amat besar. Dua kali dalam tahun 1742, keraton saleh itu sudah jatuh ke tangan para musuh dinasti Mataram dan dibuat rusak oleh mereka. Akhirnya keraton Kartasura ditinggalkan dan Pakubuwana II pindah ke keraton barunya di Surakarta pada Februari 1746. Tentu saja orang Jawa dalam lingkungan keraton tetap menganut agama Islam, dan gaya Sufi tetap berpengaruh. Namun rupanya agenda untuk memperkukuh pengaruh Islam dalam kebudayaan keraton seperti yang didorong oleh Ratu Pakubuwana, tidak lagi muncul.

Akan tetapi, menurut tradisi lokal di pekuburan Nitikan, kekuatan gaib Ratu Pakubuwana tetap berlangsung. Katanya, setiap malam Selasa kliwon kadang-kadang sebuah keris muncul mencuat dari makam sang ratu itu. Jadi, mungkinkah kekuatan Ratu Pakubuwana sebetulnya belum hilang secara total?

Penulis adalah profesor emeritus di Australian National University dan penulis banyak artikel maupun buku mengenai sejarah Indonesia. Buku terbarunya, biografi Pangeran Mangkunagara I berjudul Soul Catcher: Javas fiery prince Mangkunagara I, 1726-1795 baru  diterbitkan oleh NUS Press, Singapore. Edisi bahasa Indonesia sedang direncanakan.

Baca juga tulisan Ricklefs yang ini: Asal-usul Pangeran Samber Nyawa