Museum PETA (Pembela Tanah Air) di Bogor. Foto: tempatwisatadibogor.net.

DARI kejahuan, bangunan coklat muda itu sekilas mirip stasiun kereta. Tembok tinggi memagari hampir semua sisi bangunan. Pintu masuknya, berukuran besar dan membentuk lorong sepanjang sekira 10 meter, seperti tempat tunggu penumpang kereta.

Siang itu, di halamannya, tiga pekerja sibuk di halaman. Ada yang mengecat dinding, merapikan rumput halaman, ada pula yang membersihkan selokan. Mereka seolah berkejaran dengan waktu. Rencananya, pada 14 Februari tahun ini, akan ada sebuah acara untuk mengenang pemberontakan PETA di Blitar 68 tahun silam.

Makanya kita di sini korve (kerja bakti) terus, ujar Lettu Caj Soeroso, perwira seksi Museum PETA, yang mengawasi pembenahan itu dan sesekali ikut membantu.

Di dalam museum, puluhan pelajar SMU Kesatuan Bogor serius mengamati satu per satu koleksi, termasuk senjata-senjata era Perang Dunia II. Ngeri juga ngelihatnya, habis senjata. Sekarang mah udah nggak biasa kali ya, ujar Dmitri, salah seorang pelajar, kepada Historia.

Dmitri dan teman-temannya sedang tugas kunjungan mata pelajaran Ilmu Sejarah. Dia mengatakan baru kali pertama berkunjung Museum Peta. Ini kebetulan aja, lagi ada tugas aja, lanjutnya. Dia tak menyangka bagian dalam museum bagus. Kalau dari luar sih kayaknya nggak serapi di dalamnya.

Warisan Kolonial

Terletak di Jalan Jenderal Sudirman No 35 Bogor, bangunan yang kini jadi Museum PETA ini merupakan tempat tinggal para pengawal dan pegawai gubernur jenderal di masa kolonial. Ia satu dari sekian bangunan di lahan seluas 13 hektar yang terletak sekira 700 meter utara Pesanggrahan Buitenzorg atau rumah peristirahatan (landhuis) milik Gubernur Jenderal Gustav Willhelm van Imhoff (1705-1750), yang kini menjadi Istana Bogor.

Van Imhoff hanyalah satu dari sekian banyak pembesar dan orang kaya Belanda yang membangun landhuis di sana. Buitenzorg (kini Bogor) kala itu jadi pilihan untuk tempat beristirahat. Hawa dan pemandangannya sangat memukau. Selain itu, kebijakan ekonomi VOC yang menekankan tanaman budidaya seperti kopi dan teh makin menarik orang-orang kaya Belanda mengunjunginya. Para gubernur jenderal secara berkala melakukan perjalanan ke Buitenzorg (sekarang Bogor), tulis Susan Blackburn dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun.

Van Imhoff membangun landhuis-nya setahun setelah dia mendapatkan lahan luas di Kampoeng Baroe pada Agustus 1744. Nah berbarengan dengan membangun sebuah pesanggrahan itu, tempat para pengawalnya di sini dibangun pula, tulis Blackburn.

Bangunan tempat para pengawal dan pegawai gubernur jenderal itu memanjang seperti benteng. Pintu masuknya, berupa lorong tinggi; di kiri-kanannya terdapat ruangan dengan jendela yang tinggi. Letaknya paling depan di antara bangunan-bangunan lain.

Setelah VOC bubar, pemerintah Hindia Belanda menjadikan kompleks itu sebagai asrama bekas tentara batalyon ke-19 KNIL. Pada masa Jepang, bangunan itu dan beberapa bangunan lain di kompleks yang sama dijadikan tempat pendidikan tentara PETA (Pembela Tanah Air), tentara sukarelawan bentukan Jepang.

Pembela Tanah Air dan Pemberontakan

Seperti di wilayah-wilayah Asia Tenggara yang lain, Jepang membentuk pasukan pribumi di Jawa dan Sumatra, dikenal dengan Gyu Gun untuk mengatasi kekurangan pasukan dalam Perang Pasifik.

Untuk menyamarkannya, Jepang membuat skenario seolah-olah pendirian pasukan pribumi itu merupakan permintaan rakyat Indonesia sendiri. Gatot Mangkupradja, mengirim surat pembaca yang dimuat Harian Tjahaja pada pertengahan 1943 berisi permintaan pembentukan pasukan sukarela pribumi. Namun, Sukarno punya pendapat lain. Aku sendirilah yang pada akhir tahun 1943 mengusulkan orang-orang yang nantinya menjadi kolonel dan jenderal dalam Tentara Nasional Indonesia itu, ujarnya dalam otobiografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Menurut Sukarno, ketika Komando Tertinggi Jepang meminta bantuan untuk membuat pasukan sukarela pribumi, dia langsung mengajukan gagasannya. Pasukan itu bukan semata harus ditanamkan rasa benci terhadap Sekutu tapi juga rasa cinta tanah air. Jepang menyetujuinya, dan Sukarno memilihkan orang-orangnya.

Betapapun, Tentara ke-16 AD Jepang akhirnya mendirikan Pembela Tanah Air (PETA) pada 3 Oktober 1943 dengan berbekal Osamu Sirei (Undang-Undang) No. 44. Tentara ke-16 mempercayakan tugas itu kepada Beppan (badan intelijen Tentara ke-16), yang lalu mendirikan Jawa Boei Giyugun Kanbu Rensentai (Pusat Latihan calon Pemimpin Tentara Sukarela Pembela Tanah Air di Jawa) di Bogor. Tempat resentai menempati bekas kompleks prajurit batalyon 19 KNIL. Dipergunakannya pada tanggal 15 Oktober 1943, terang Soeroso.

Dalam pendidikan di Bogor, Jepang lebih menekankan seishin (semangat) kepada para calon perwira, yang datang dari beragam kalangan dan daerah di Jawa. Olah fisik porsinya lebih banyak ketimbang teknik dan pengetahuan militer. Pendidikan itu dirancang untuk menghasilkan keberanian dan ketahanan fisik, tulis Joyce C Lebra dalam Tentara Gemblengan Jepang.

Latihannya dilakukan tiap hari dan sangat keras. Mantan perwira PETA yang kemudian jadi presiden Indonesia, Soeharto, pernah menggambarkan betapa kerasnya latihan di sana. Pelatihan di PETA, ujarnya, di luar imajinasinya. Kami terus-menerus melakukan latihan militer, teori dan latihan semangat dari jam 5.30 pagi sampai tengah malam. Latihan yang diberikan kepada komandan pleton yang akan memimpin pasukan di garis depan benar-benar sangat keras, ujarnya sebagaimana dikutip David Jenkins dalam Soeharto dan Barisan Jenderal Orba.

Jepang membagi tiga pangkat untuk perwira PETA. Daidancho untuk komandan batalyon, Chudanco untuk komandan kompi, dan Shodanco untuk komandan pleton. Calon Daidancho diambil dari tokoh-tokoh daerah, bisa politisi, pemimpin agama, ataupun pejabat (lama pendidikan 2 bulan); sementara Chudanco berasal dari guru atau pejabat daerah yang lebih rendah (lama pendidikan 3-4 bulan); dan Shodanco berasal dari pelajar sekolah menengah atas (lama pendidikan 6 bulan). Untuk bintara dan tamtama, masing-masing hanya ada satu jenjang: Bundancho dan Giyuhei.

Sebagian besar anggota PETA tinggal di asrama, kecuali Daidan yang boleh tinggal di rumah masing-masing. Sementara untuk nonperwira, mereka menempati barak-barak yang disediakan. Jepang juga memberi jatah pakaian dan jatah makan masing-masing anggota dengan cukup baik. Mereka juga diizinkan menerima kunjungan sanak famili pada hari Minggu. Selain itu, pada tahap awal, gaji bulanan dapat diterima terus setiap bulan, yang dibedakan antara golongan perwira dan bawahan, tulis Alamsjah Ratuperwiranegara dalam Ex PETA dan Gyu Gun: Cikal Bakal TNI. Alamsjah, kemudian menteri agama era Orde Baru, merupakan eks Gyu Gun pasukan pribumi di Sumatra.

Mereka berlatih fisik dan teknik militer di lapangan yang terletak di tengah antara bangunan depan (kini museum) dan belakang. Pelatihnya tentara Jepang dan diasisteni pemuda-pemuda Indonesia lulusan Seinen Dojo (Pusat Pengembangan Pemuda), Tangerang seperti Suprijadi, Zulkifli Lubis, Kemal Idris, ataupun Daan Mogot. Untuk teori, mereka mendapatkannya di kelas-kelas yang ada. Bahan bacaannya semua disediakan penyelenggara, termasuk majalahPradjoerit, yang dipimpin Oto Iskandardinata dan Syamsuddin St. Makmur.

Namun, seiring melemahnya kekuatan Jepang dalam perang, kesejahteraan para PETA ikut kena imbas. Semisal, jatah makanan memburuk ataupun gaji sering telat. Para instruktur Jepang sendiri, sepengalaman Lubis, tak sebergairah ketika mendidik para pemuda di Seinen Dojo. Zulkifli Lubis merasa bahwa selama di Seinen Dojo Tangerang, semua instruktur itu berpnampilan rapi dan bersih. Mereka mengajar secara serius dan seksama. Akan tetapi, tidak demikian halnya di Bogor, tulis Peter Kasenda dalam Kolonel Misterius di Balik Pergolakan TNI AD.

Para anggota, yang berdiskusi satu sama lain, juga makin sering mendapat kabar kekejaman Jepang di berbagai tempat. Mereka tak terima. Suprijadi salah satunya. Bersama beberapa kawannya, seperti Kemal Idris, dia sering bertukar pikiran tentang rencana mengadakan perlawanan terhadap Jepang. Apa pun yang diperlakukan Jepang kepada kita, harus kita hadapi, ujar Kemal Idris menirukan ucapan Suprijadi sebelum pemberontakan terjadi, dimuat dalam Kemal Idris: Bertarung dalam Revolusi.

Tekad Suprijadi sudah bulat. Ketika ditugaskan membentuk batalyon di Jawa, setelah lulus dari Bogor pada Desember 1943, dia memanfaatkan momentum itu untuk menyusun perlawanan. Pada 14 Februari 1945, Suprijadi dan beberapa temannya berontak melawan Jepang di Blitar. Akibat peristiwa itu, Jepang marah. Suprijadi dan teman-teman pun hilang.

Saya kira dia dibunuh oleh Jepang, ujar Kemal Idris.

Meski pendidikan angkatan keempat PETA sempat berjalan pada Juli 1945, Jepang keburu menyerah pada 15 Agustus. Setelah dilucuti, PETA pun dibubarkan. Sukarno tak mau memenuhi tuntutan mantan anggota PETA agar institusi itu dijadikan tentara nasional. Selain tak yakin bisa mengendalikan para opsir muda di tengah kecamuk revolusi itu, PETA itu merupakan ciptaan Jepang dan jika dipertahankan akan dapat menimbulkan reaksi negatif di pihak Sekutu, tulis Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945-1967.

Para lulusan PETA lalu menjadi kekuatan mayoritas tentara Indonesia yang juga terdiri dari eks KNIL, laskar, dan pelajar. Yang paling tenar antara lain Sudirman, Achmad Yani, dan Soeharto.

Museum

Sempat dijadikan markas Depot Troepen Zeni oleh Belanda yang kembali ke Indonesia setelah Perang Dunia usai, bekas pusat pendidikan PETA lalu diserahkan kepada pemerintah Indonesia pasca-Konferensi Meja Bundar. Oleh pemerintah, kompleks itu lalu dijadikan Pusat Pendidikan Zeni Angkatan Darat pada 1952.

Pada 1993, Yapeta (Yayasan Pembela Tanah Air) badan yang didirikan para mantan lulusan PETA meminta bangunan paling depan di kompleks itu, kira-kira seluas satu hektar, kepada Angkatan Darat. Bangunan itu akan dijadikan museum. Berbekal SK No.270/SKEP-013/XII/1994, panitia pembangunan disusun dan renovasi pun dimulai. Ketuanya Pamoe Rahardjo, sementara Purbo Soewondo dan seniman Edhi Sunarso masing-masing menjadi Pengawas Bidang Sejarah dan Bidang Teknik. Umar Wirahadikusumah lulusan PETA gelombang kedua duduk sebagai Pelindung.

Namun, pengelola tak banyak mengubah bangunan museum. Hanya bagian dalamnya saja kita sesuaikan dengan kebutuhan, dipergunakan sebagai museum, tetapi tampak luar masih asli, ujar Soeroso. Selain itu, bekas kelas-kelasnya masih ada. Tapi itu bukan lokasi ataupun kewenangan museum, tetapi kewenangan dari Pusdik Zeni.

Selepas Indonesia merdeka, kompleks bekas pusat pendidikan PETA digunakan banyak instansi militer, seperti zeni, Kodim, dan Dinas Sejarah AD.

Pada 18 Desember 1995, Yapeta lalu membuka bangunan itu sebagai Monumen dan Museum PETA. Peresmiannya dilakukan Presiden Soeharto. Ada tiga media yang di-display: diorama (14 buah), monumen dalam bentuk relief (14 buah), dan koleksi otentik berupa senjata, foto, dan lain-lain. Senjata-senjata itu diperoleh dari mantan pejuang-pejuang kita, terutama tentara PETA, yang yayasan minta dan kumpulkan, ujar Soeroso.

Selang 15 tahun kemudian, Yapeta menyerahkan pengelolaan museum itu kepada Dinas Sejarah Angkatan Darat, yang berkantor pusat di Bandung. Karena memang tempat ini adalah tempat Angkatan Darat, ujar Soeroso. Yapeta ingin bukti-bukti perjuangan para pemuda di PETA bisa diakses lebih banyak orang, dengan menyerahkan pengelolaan kepada institusi yang lebih kokoh. Pengunjung pun tak dipungut bayaran. Ini kan museum TNI, ya dibiayai pemerintah, terang Soeroso.

Sayangnya, museum yang tiap Senin-Jumat buka dari pukul 8 hingga 15 itu justru tutup pada Sabtu dan Minggu, kecuali ada reservasi terlebih dulu. Sabtu-Minggu kalau ada konfirmasi, ya kita siap, tutup Soeroso.