Kaset pita. Foto: Markus Spiske/Unsplash dan Tobias Tullius/Unsplash.

PENYANYI keroncong Anastasia Astutie masih ingat ketika dia rekaman dengan menggunakan alat rekam analog (kaset pita). Agak melelahkan ya, ujarnya kepada Historia. Dia mengibaratkannya rekaman menggunakan kaset seperti mengetik menggunakan mesin tik manual, sementara rekaman digital (menggunakan CD) ibarat mengetik menggunakan komputer. Kalau mesti ngulang kan mesin tik manual kita mesti me-re type dari atas. Kalau komputer kan dilihat yang salah-salah saja, ujarnya.

Namun Astutie bersyukur karena sewaktu rekaman dengan peralatan rekam analog dia tetap bisa menghemat waktu lantaran kemampuan vokalnya. Aku sih alhamdulillah kalau soal nyanyi lancar aja, ujar penyanyi kelahiran Surakarta itu. Menurutnya, lama-tidaknya proses rekaman seorang penyanyi atau musisi sangat ditentukan oleh skil musisi yang bersangkutan. Semakin rendah skil musisi yang rekaman, makin besar pula peluang dia melakukan kesalahan. Eksesnya, waktu yang dibutuhkan makin banyak. Tak heran bila banyak musisi bekerja mati-matian hingga menjelang pagi saat rekaman. Aku sih nggak, paling malam jam 12, lanjutnya.

Betapapun, dia tetap menikmati rekaman analog maupun digital. Pun dia menikmati mendengarkan musik dengan kaset, CD, atau media lain yang lebih modern.

Sejak Philips, perusahaan elektronik Belanda, meluncurkannya pada Agustus 1963, compact cassette atau kaset mulai dikenal orang. Penggunaannya meluas, termasuk untuk merekam karya musik rekaman musik pertama yang menggunakan pita magnetik dilakukan Bing Crosby di acaranya Crosbys Philco Radio Show. Perpusahaan-perusahaan pembuat kaset bersaing memenangi pasar.

Inovasi terus berjalan. Pada akhir 1965, sebuah perusahaan memproduksi massal kaset musik di Hannover, Jerman. Selang setahun, Mercury Record mempelopori penggunaannya di Amerika Serikat. Sejak itu, perusahaan-perusahaan rekaman (label) lain mengikuti.

Pita Pengabadi Suara

Menurut Muhammad Mulyadi, sejarawan Universitas Padjajaran, dalam Industri Musik Nasional (Pop, Jazz, dan Rock, 1960-1990), perusahaan rekaman dalam negeri kali pertama menggunakan kaset pada 1973. Segera kaset musik menarik perhatian banyak orang. Selain lebih murah, kaset bisa dibawa ke mana saja. Bagi artis dan kalangan industri (label, produser, pencipta lagu, distributor), kehadiran kaset mengajak mereka masuk ke dalam era musik yang lebih baru dan praktis.

Perlahan tapi pasti, kaset populer. Kebiasaan label mengirimi kaset-kaset penyanyinya ke radio-radio untuk diputar (promosi) secara tak langsung menahbiskan eksistensi kaset sebagai media perekam suara baru yang diakui. Belum lagi banyak pihak yang menjadikan kaset artis-artis populer sebagai hadiah kuis. Tumbuhnya produsen kaset kosong dalam negeri sejak 1974, seperti PT Metro Utama Raya Electronics, turut memassalkan penggunaan kaset di Indonesia.

Popularitas kaset juga ikut terdongkrak sekaligus mendongkrak oleh produk-produk elektronik, terutama radio tape. Booming-nya terjadi setelah perusahaan Sony memperkenalkan walkman pada 1984, yang mempermudah orang menikmati musik.

Respon masyarakat terhadap keberadaan kaset sangat positif lantaran mereka bisa lebih menikmati musik dari penyanyi favoritnya. Para pecinta musik, terutama anak muda, pun akhirnya hampir tak bisa lepas dari kaset. Bambang Prianggono, pegawai Pertamina Makassar berusia 53 tahun, salah satunya.

Bambang gemar membeli kaset musisi-musisi favoritnya seperti Lobo, Jim Reeves, atau Bee Gees. Tiap ada album baru dari musisi favoritnya, dia berusaha membelinya. Zaman segitu harganya 500 sampai 750 rupiah. Biasanya setelah pulang dari beli kaset itu saya langsung dengarin lagunya sampai habis, ujarnya.

Mulai membeli kaset sewaktu duduk di bangku SMP, Bambang kemudian jadi kolektor. Koleksi mulai tahun 1973, ujarnya. Dia menyimpan rapi sekitar 750 kaset koleksinya rapi dalam rak bersusun.

Kegemaran yang sama dilakoni Riani Hendriani, ibu rumahtangga berusia 46 tahun. Dia mulai mengoleksi kaset sejak masih sekolah. Awalnya sih biasa aja. Tapi setelah kenal seseorang yang suka dengerin lagu dari kaset itu, lama-lama mulailah suka dengerin lagu sambil baca novel, ujarnya.

Bersama kekasihnya, Riani menjadikan kaset sebagai perekat hubungan. Mereka kerap menyambagi toko kaset atau mendengarkan lagu berdua. Namun lantaran terlalu sering diputar, kaset kesayangannya rusak. Dia sedih. Dia berusaha mencari gantinya. Beruntung, dia masih mendapatkannya. Hatiku sangat senang sekali. Mulailah aku hati-hati dan merawat kaset-kaset yang ada.

Ganti Era, Pita Dilupa

Di era keemasannya, kaset memberi pemasukan besar kepada negara. Pada akhir 1980-an, industri musik menyumbang hampir 100 milyar rupiah kepada kas negara. Pemasukan itu diperoleh melalui stiker Pajak Pertambahan Nilai sebesar Rp 575,00 pada setiap kaset yang dipasarkan, tulis Mulyadi dalam Industri Musik Nasional.

Kaset juga membuka lahan bisnis turunan. Selain alat pemutar seperti radio tape dan alat-alat yang dipakai label dalam memproduksi sebuah album, rak kaset dengan beragam model atau cairan pembersih kaset merupakan sedikat dari banyaknya produk bisnis turunan kaset. Para pengusaha yang jeli kerap memanfaatkan bentuk kaset untuk digunakan sebagai model-model produknya, semisal gantungan kunci atau tas bermodel kaset.

Bisnis turunan terbesar lainnya adalah toko kaset. Pada 1980-an hingga 1990-an, hampir tiap pasar di tingkat kecamatan selalu punya toko kaset. Di Jakarta atau kota-kota besar lain, sebaran toko kaset lebih luas. Muda-mudi menjadikan toko kaset sebagai tempat favorit untuk dikunjungi. Tak hanya membeli, di sana mereka kerap ngobrol, berbagi info, bahkan nongkrong. Kondisi tersebut dimanfaatkan pelaku bisnis untuk memasarkan dagangan. Yang paling umum adalah tiket konser, kaos, ataupun produk perawatan kaset.

Namun, kemilau era keemasan kaset itu kini hampir sirna. Zaman mengharuskannya legowo memberi tempat kepada yang lebih muda. Seperti pendahulunya, piringan hitam, kaset harus memberi tempat kepada teknologi yang lebih muda, mudah, dan murah, dari Compact Disc (CD) hingga MP3.

Berangsur-angsur, produser pun bermigrasi dari kaset pita ke CD. Untuk album lama, banyak produser yang mentransfer album-album kasetnya ke keping cakram dengan menggunakan alat pentransfer yang tersedia di pasaran. Kualitas suara bisa dipoles lebih baik dan jauh lebih mudah dengan teknologi digital.

Namun, hingga kini eksistensi kaset belum benar-benar punah. Beberapa label masih tetap memproduksi kaset. Hosana Record, label yang memproduksi album-album keroncong Astutie, salah satunya. Meski kini produksi utamanya berupa CD atau DVD, Hosana tetap memproduksi kaset. Di Jawa Tengah saja, orang itu masih banyak yang senang mendengarkan lewat kaset, ujar Astutie.

Betapapun, kaset telah menggoreskan kenangan dengan segala plus-minusnya. Banyak orang kini melupakannya, meski tak sedikit pula yang merindukannya. Desis suara atau pita kusut saat disetel, me-rewind atau memutar lebih cepat untuk mendapatkan lagu kesukaan, menggulung pita dengan pulpen atau pensil, menyambung pita yang putus, atau merekam lagu-lagu favorit ke dalam kaset kosong kini hanya bagian cerita masa lalu. Kenangan itu masih dirawat segelintir orang, terutama kolektor kaset.

Jose Choa Linge, pendiri event organizer Prijolin Enterprise dan Komunitas Pecinta Musik Indonesia (KPMI), mulai mengoleksi kaset sejak 1980-an. Dia fokus kepada kaset-kaset musik dalam negeri. Dia tak mematok pada satu genre musik. Saya ambil semua penyanyi. Mau cengeng kek, rock kek, jazz, keroncong, oke saja, ujarnya.

Kini, koleksinya mencapai sekira 10 ribu kaset. Menurutnya, dengan mengoleksi kaset, dia bisa menambah wawasan musik. Dia juga ingin melestarikan sebuah era perkembangan musik Indonesia. Selain itu, kaset juga memberinya banyak tantangan. Kaset sangat menantang. Dari cover aja sudah keliatan indah, ujarnya.

Hingga kini, kualitas suara kaset-kaset Jose masih baik. Dia merawatnya secara rutin. Kaset-kaset yang rusak diperbaikinya. Bila ada bagian-bagian kaset yang telah uzur, dia mengganti dengan bagian dari kaset lain. Saya malah seneng kalau rusak, saya benerin. Bahkan yang kusut saya strika. Saya berani main setrika, jelasnya.

Baca juga: 

Derap Musik Rap
Memahami Masa Lalu Melalui Musik
Dari Gramofon hingga Music Streaming