Sejumlah saksi dari Kemusuk dihadirkan untuk membuktikan silsilah Soeharto. Foto: Memoar Romantika Probosutedjo: Saya dan Mas Harto.

PADA 13 April 2018, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy blak-blakan membuka ihwal pelabelan komunis yang dialamatkan pada Presiden Joko Widodo oleh lawan-lawan politiknya. Label tersebut, kata Romi, awalnya terjadi saat kampanye Pilpres 2014.

Menurut Romi, isu bohong itu disebar secara masif melalui tabloid Obor Rakyat. Di dalam tabloid itu, disebut Jokowi merupakan anak seorang Tionghoa bernama Oey Hong Liong, aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI).

Perihal publikasi riwayat orang nomor satu di negeri ini, sebuah majalah hiburan berbasis di Jakarta, POP akronim Peragaan, Olahraga, Perfilman pernah bikin heboh.

Tak biasanya, majalah yang memuat tulisan-tulisan mode, gosip dan profil publik figur, kecantikan, berita olahraga, serta ulasan film itu mempublikasikan artikel terkait kehidupan pribadi Presiden Soeharto.

Di dalam POP, tahun II, nomor 17, Oktober 1974, terdapat artikel berjudul Teka Teki Sekitar Garis Silsilah Suharto. Tak banyak. Hanya lima halaman. Namun, artikel itu sanggup membuat presiden panas telinga.

Artikel tersebut dibuka dengan terjemahan cuplikan buku The Smiling General karya O.G. Roeder, penulis Jerman. Dalam bukunya The Indonesian Presidency, Angus McIntyre menyebut The Smiling General adalah buku pertama yang menyoal masa kanak-kanak Soeharto. Buku itu terbit dalam bahasa Inggris pada 1969.

The Smiling General diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada 1970 dengan judul Soeharto: Dari Pradjurit sampai Presiden, kemudian berubah menjadi Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto.

Roeder menulis buku itu dengan alasan ingin menyajikan potret seorang pemimpin nasional yang baru menjabat, dan tak dikenal luas dunia. Meski begitu, Roeder menganggap bukunya bukan biografi resmi, walau mendapatkan bantuan dari sejumlah orang Indonesia.

Artikel di dalam POP membantah tulisan Roeder, yang menyebut ayah Soeharto adalah Karto (Kartoredjo) dan ibu bernama Fatimah. Bisa dikatakan, artikel ini adalah tulisan pembanding terhadap karya Roeder.

Investigasi

POP menulis, tepat saat anak Karto, yakni Soeharto, dilahirkan di Desa Kemusuk Argamulya, Godean, di Desa Suronatan, Yogyakarta, juga lahir seorang anak bernama sama, dari ayah bernama R. Rio Padmodipuro. POP dengan mantap menulis, Soeharto yang dilahirkan dari ayah bernama R. Rio Padmodipuro merupakan Soeharto yang kemudian jadi presiden kedua Indonesia.

Artikel POP menerangkan bahwa Soeharto adalah anak dari seorang lurah keturunan Sultan Hamengku Buwono II, Raden Rio Padmodipuro atau Raden Lurah Prawirowiyono. Setelah lahir di Suronatan, Yogyakarta, pada 8 Juni 1921, Rio kemudian menitipkan anak dan istrinya, Nyai Atmopawiro, kepada kenalannya bernama Kartoredjo, yang menjadi ulu-ulu (aparat pengairan desa) di Desa Kemusuk.

Nyai Atmopawiro sendiri, versi POP, merupakan istri pertama Rio. Namun POP tak menyebut nama asli Nyai Atmopawiro.

Dalam memoar Saya dan Mas Harto, Probosutedjo mengemukakan bahwa Atmopawiro adalah ayahnya. Sedangkan ibunya bernama Soekirah, yang diakui pula oleh Soeharto sebagai nama ibu kandungnya.

Dalam artikel POP, Rio menitipkan anak dan istrinya karena takut ketahuan keluarga istri keduanya. Setelah menikah dengan Nyai Atmopawiro, Rio diambil menantu oleh Mas Wedono Jayeng Prakosa, seorang wedana keraton yang sangat dekat dan disayang almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Saat diungsikan, usia Soeharto enam atau tujuh tahun.

Sejak itu, Rio tak pernah lagi bersua anaknya hingga dia meninggal dunia pada 6 Agustus 1962. Menurut Raden Wedono Sastroatmojo, abdi dalem juru serta Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang diwawancarai POP, ayah Soeharto tak pernah lagi menghubungi dan memberikan nafkah, karena takut pada mertuanya yang punya kekuasaan besar.

Terlihat, si penulis artikel benar-benar melakukan penelusuran ke lokasi yang diduga dari mana Soeharto berasal. Penelusuran POP dimulai dengan menziarahi makam Nyai Atmopawiro, yang mereka yakini ibu kandung Soeharto. Keterangan ibunda Soeharto ini didapat POP dari seorang redaktur Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, bernama Wardoyo alias Pak Besut.

POP menulis, Pak Besut bertemu Soeharto, yang mengatakan menziarahi makam ibunya, Nyai Atmopawiro. Perbincangan itu terjadi pada September 1973. Obrolan itu lalu dibicarakan Pak Besut di RRI Studio Nusantara II, yang diberi judul mikul duwur mendem jero (yang baik diungkapkan, yang buruk disimpan).

POP juga menemui dan mewawancarai sejumlah narasumber yang dekat dengan orang tua Soeharto, seperti BPH Hadinegoro, putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang menjadi ketua Museum Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat; RM Purbowaseso alias Rama Gayeng, yang disebut paman Soeharto; Raden Wedono Sastroatmojo, abdi dalem juru serat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang mengurusi keuangan para abdi dalem kraton; dan KRT Danudiningrat Pangageng Tepas Darah Dalem Kraton Ngayogya yang mengurusi pekerjaan berhubungan dengan para trakh kraton.

Dari nama-nama dan jabatannya, narasumber POP bukan orang sembarangan. Mereka ada di sekitar lingkaran kekuasaan Yogyakarta.

Yang agak aneh, saat POP menulis perbincangan antara Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Soeharto. Ketika itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjabat wakil presiden.

Konon, dalam satu pertemuan empat mata tanpa pihak ketiga ikut hadir, Pak Harto pernah bertanya siapakah penyongsong Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Yang dijawab oleh Sri Sultan bahwa penyongsong ayahandanya ada tiga orang. Salah seorangnya daripadanya bernama RL Prawirowijono yang kemudian bergelar R. Rio Padmodipuro, tulis POP, edisi Oktober 1974.

Di lain waktu, menurut POP, Sri Sultan sempat menunjukkan secarik kertas, yang berisi silsilah Soeharto dari garis ayahnya. Meski demikian, tak ada penjelasan bagaimana POP bisa mengetahui perbincangan keddua petinggi negara itu.

POP menyimpulkan, Soeharto tahu dan sadar dia keturunan ningrat tapi menerima kenyataan bahwa dia dibuang oleh ayahnya. Dalam riwayat hidupnya, Soeharto tetap menerima diri sebagai anak petani dari Desa Kemusuk. Manifestasinya, lanjut POP, tercermin pada perhatiannya yang besar terhadap nasib para petani dan perkembangan bidang pertanian saat menjadi presiden.

Pemuatan silsilah itu mengundang Soeharto untuk turun tangan. Dia mengumpulkan wartawan di Bina Graha, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dan menyampaikan silsilah keluarga versinya. POP dibredel. Pemimpin redaksinya dipenjara.

Baca juga: 

Teka-Teki Silsilah Presiden Soeharto
Menengok Kisah Masa Kecil Sukarno dan Soeharto