Judul: Moonrise over Egypt; Sutradara: Pandu Adiputra; Produser: Amir Sambodo, Adie Marzuki; Pemain: Pritt Timothy, Vikri Rahmat, Satria Mulia, Drh. Ganda, Reza Anugrah, Bhisma Wijaya, Ina Marika, Harry Bond Jr., James Dixon, Mark Sungkar; Produksi: Tiga Visi Sinema; Durasi: 113 menit; Rilis: 22 Maret 2018. Foto: Randy Wirayudha/Historia.

DUA pemuda pejuang berlarian ke dalam hutan diburu serdadu Jepang. Langkah kaki mereka lambat laun tak sinkron dengan irama nafas akibat kelelahan. Mereka akhirnya tertembak. Salah satu yang tewas adalah Ahmad Sjauket (Hadil), putra H. Agus Salim.

Adegan pengejaran dan penembakan itu mengawali film roman sejarah bertema perjuangan diplomatik Indonesia di Mesir. Dengan tajuk Moonrise over Egypt (Bulan Sabit di Langit Mesir), sutradara Pandu Adiputra melukiskan bagaimana delegasi Indonesia yang dipimpin Menteri Luar Negeri (Menlu) H Agus Salim (Pritt Timothy) jempalitan untuk memetik pengakuan internasional pertama, dari Kerajaan Mesir medio 1947.

Delegasi Indonesia, terdiri dari Menteri Muda Penerangan AR Baswedan (Vikri Rahmat), HM Rasyidi (Satria Mulia), dan Nazir Datuk Pamuncak (Drh. Ganda), awalnya disambut hangat karena memenuhi undangan Sekretaris Jenderal Liga Arab Abdul Rahman Hassan Azzam atau dikenal Azzam Pasha (James Dixon). Azzam mendampingi mereka sampai ke Hotel Continental di Kairo dan memandu mereka menemui Perdana Menteri Mesir Mahmoud El Nokrashy Pasha (Mark Sungkar).

Kami ingin melihat negara dengan populasi muslim terbesar meraih kemerdekaannya. Agar menjadi tonggak bagi negara-negara lainnya lepas dari cengkeraman kolonialisme, cetus El Nokrashy saat beramah-tamah.

Namun, pertemuan delegasi Indonesia yang ditambah dua mahasiswa PPKI di Kairo, Zein Hasan (Reza Anugrah) dan Hisyam (Bhisma Wijaya) itu terdengar Duta Besar (Dubes) Belanda untuk Mesir Willem van Rechteren Limpurg (Harry Bond Jr.) dan Dubes Keliling Belanda Cornelis Adriaanse (Alex Jhunnany). Mereka langsung bergerak.

Drama pun dimulai. Konflik demi konflik nan seru silih berganti hadir memenuhi film sepanjang 113 menit ini. Konflik antara Indonesia dan Belanda itu akhirnya menyeret Mesir. Bahkan PM El Nokrashy sampai dijadikan target pembunuhan oleh Jansen (Cris de Lima), intel yang digunakan oleh Adriaanse.

Dalam suasana sulit itu, Agus Salim memasrahkan diri kepada Allah SWT. Dia mengirim surat kepada El Nokrashy. Hasil upaya itu menjadi penentu keberhasilan atau kegagalan misi diplomatik Indonesia.

Dan, sutradara berhasil menutup film dengan ending apik berupa konflik El Nokrashy-Jansen-Hisyam. Konflik yang menjadi klimaks film itu merupakan personifikasi genial sang sutradara untuk menggambarkan konflik dua bangsa yang berseteru (Indonesia dan Belanda) dan menyeret tuan rumah. Hasilnya? Silahkan tunggu tanggal mainnya.

[pages]

Menarget Generasi Zaman Now

Film ini bisa dibilang film pertama tentang perjuangan diplomasi Indonesia. Film yang akan ditayangkan serentak di berbagai bioskop pada 22 Maret 2018 ini cukup apik sebagai entertainment lantaran kaya bumbu dan sarat konflik. Sutradara tak takut menyelipkan beberapa scene fiktif, termasuk kisah percintaan Hisyam dengan Zahra, seorang mahasiswi Malaya (Ina Marika), agar lebih nge-pop dan bisa dicerna generasi muda dari usia 13 tahun.

Memang film ini kita sesuaikan juga dengan selera generasi zaman now. Namun bukan berarti keluar dari pakem sejarah yang sesuai kejadian nyata, meski ada dramatisasinya, cetus Amir Sambodo sang produser eksekutif.

Kritikus film Salim Said turut menyanjung bahwa kisah pertempuran diplomatik Indonesia vs Belanda di Mesir itu dikemas cukup apik. Film ini enak ditonton. Dibikin dan dimainkan dengan bagus. Yang harus kita perhatikan juga adalah dimensi diplomatik dalam film ini. Bagaimana Agus Salim menggunakan sentimen Islam dalam mencari dukungan, ujar Salim Said dalam konferensi pers usai penayangan screening film.

Senada dengan Salim, sejarawan Rushdy Hoesein memuji tim produksi yang berani mengangkat perjuangan RI di arena diplomasi, meski ditambah sejumlah alur cerita fiktif. Seperti Titanic saja, itu kan juga roman sejarah. Ada cerita-cerita fiktif baru yang diselipkan. Tidak ada salahnya. Acungan jempol, saya bilang ini keberanian. Tapi nanti baru akan terbukti setelah ditonton banyak orang. Kita lihat reaksi mereka, timpal Rushdy.

Yang Menyimpang

Terlepas dari scene-scene fiktifnya, ada sejumlah adegan film ini tak sesuai fakta historis, terutama menyangkut detail sebagaimana terdapat di film-film perjuangan lain macam Soekarno atau Jenderal Soedirman. Bagi penonton yang paham sejarah, ketidakakuratan detail cukup mengganggu. Di adegan pembuka, misalnya, ketidakakuratan detail terjadi pada properti dan wardrobe. Salahsatu tentara Jepang yang mengejar pejuang digambarkan memakai helm M1. Helm itu buatan Amerika Serikat, musuh Jepang di Perang Pasifik.

Ketidakakuratan terjadi juga di scene eksekusi Sjauket. Sang eksekutor menggunakan pistol Luger buatan Jerman, bukan Nambu pistol khas perwira Jepang. Sebelumnya, dua pejuang yang dikejar Jepang berlarian sambil menenteng senapan semi-otomatis M1 Garand. Padahal, senjata buatan Amerika itu baru tersebar di Indonesia seiring masuknya serdadu Belanda-NICA. Artinya, M1 Garand masuk setelah Jepang hengkang. Seharusnya adegan pembuka itu tak perlu dihadirkan. Kesan saya seperti adegan perang-perangan amatiran, ujar Salim Said.

Lebih parah lagi, adegan terbunuhnya Sjauket itu digambarkan tak sesuai fakta sejarah, di mana dia tewas saat dikejar Jepang di dalam hutan. Faktanya, Sjauket itu kan meninggal ditembak Jepang, ketika dia dan rombongannya hendak melucuti dan mengambil persenjataan Jepang, jelas Rushdy.

Lepas dari fakta, teknis film ini sengaja dibuat up to date. Musik dan tata suara, misalnya, sebagaimana dijelaskan produser, dibuat agak kekinian agar bisa menarik minat penonton muda. Beberapa lagu yang ditampilkan cenderung jazzy dan kadang nada rock. Sayangnya, film ini gagal menyuguhkan atmosfer Kairo di era 1947.

Meski beberapa adegan syuting langsung di Kairo, berbagai perabotan kurang mendukung sensasi jadul film. Beberapa efek visual yang digunakan untuk mendukungnya pun masih kasar. Tak butuh orang jago kritik film untuk membedakan suasana di beberapa adegan asli atau rekaan visual.

Satu keganjilan yang kocak terpancar dari scene ketika Thariq (Donny Fadhli), pengajar Indonesia di Al Azhar, memberi uang kepada Hisyam. Cangkir kopi yang diangkat Thariq tampak masih tertempel label ber-bar code. Well, sepertinya zaman itu (1947) produk-produk perabotan belum ada yang harus dicek harga di kasir dengan barcode. Mungkin sebelum syuting tim properti luput mencopotnya. Wallahu a'lam.

[pages]