Gang yang dilalui oleh Sudiyo dan Oding Suhendar dalam melarikan Bung Karno dari sasaran granat, 1957. Foto: repro Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967 karya Mangil Martowidjojo

HANYA beberapa jam pascaperistiwa, intelijen mulai bekerja. Petugas keamanan menyisir beberapa tempat, termasuk ke Gang Ampiun, Cikini, Jakarta Pusat.

Mustafa Kamal Saleh, 86 tahun, warga gang Ampiun, ikut kena getahnya. Rumah miliknya yang dikontrak sekelompok pemuda asal Bima disambangi petugas keamanan. Rumah yang setelah dikontrak lebih dikenal sebagai Asrama Sumbawa itu digeledah, penghuninya ditangkap.

Tiap yang masuk sini ditangkep, tiap yang masuk sini ditangkep, kenang Mustafa saat ditemui Historia di Gang Ampiun.

Mustafa juga ketiban urusan panjang. Sebulan setelah peristiwa, habis subuh, dia dicokok petugas menyusul penangkapan 20 anak kosnya yang sudah ditangkap lebih dulu. Dibawa ke markas Komando Militer Kota Besar Djakarta Raja (KMKB DR). Ditanyai seputar hubungannya dengan para pemuda yang menyewa rumahnya. Mustafa apes, karena setelah penangkapan itu dia tak pulang: menginap sebulan, lantas dipindah ke rumah tahanan militer Budi Utomo, penjara Glodok dan ditahan di Gang Tengah, Salemba. Total hampir setahun.

Keberhasilan pemerintah menangkap pelaku dalam waktu singkat malah mengundang kecurigaan kalau skenario peristiwa Cikini disusun pemerintah. Sebab utama begitu cepat ditangkapnya pelaku Peristiwa Cikini adalah pengkhianatan seorang penghuni asrama Sumbawa itu, tulis Leirissa dalam PRRI-Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis.

Apalagi sejak awal Kepala Intelijen Letkol Sukendro sudah menduga keterlibatan Kolonel Zulkifli Lubis, mantan wakil KSAD yang sejak lama kurang akur dengan Sukarno. Para anggota komplotan dikaitkan dengan peran tokoh intelijen tersebut. Apalagi komplotan perencana pembunuh Sukarno yang berlatar belakang anggota Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dengan Zulkifli Lubis sama-sama antikomunisnya.

Dalam persidangan yang digelar mulai 15 Agustus 1958, terungkap hubungan Lubis dengan komplotan. Mereka memang saling kontak namun Lubis bersikeras menolak jika dituduh jadi aktor intelektual percobaan pembunuhan itu. Lubis malah menganjurkan untuk tidak menggunakan kekerasan. Pengakuan Lubis berlawanan dengan tuduhan pihak pemerintah, khususnya intelijen pimpinan Sukendro yang menuduh Lubis menyokong aksi komplotan.

Lubis akhirnya boleh berlega hati. Dalam persidangan terungkap fakta bahwa ide pembunuhan datang dari Jusuf Ismail, anggota komplotan penghuni Asrama Sumbawa, Gang Ampiun, Cikini. Ismail mengaku ide pelemparan granat datang spontan, saat dia melihat mobil presiden terparkir di halaman sekolah Tjikini pada 30 November petang.

Sebelum melancarkan aksinya, Ismail terlebih dulu menemui Saleh Ibrahim, kepala asrama, dan penghuni asrama lainnya. Ibrahim mencegah agar Ismail tak buru-buru beraksi dan terlebih dulu membicarakannya dengan Lubis yang saat itu tengah bersembunyi di bilangan Cideng, Tenabang. Ismail manut. Dia pergi ke Tenabang untuk temui Lubis. Tapi sial, sepeda motornya mogok.

Ismail tak mau kehilangan kesempatan. Granat sudah di tangan. Dia, Saadon bin Mohammad dan Moh. Tasrif bin Husein langsung berjalan menuju SR Tjikini. Mereka sempat mengintai Presiden Sukarno selama beberapa saat sebelum melakukan aksinya. Mengetahui presiden keluar dari sekolah, kelima granat dilemparkan secara bergantian dari tepi jalan depan gedung sekolah Tjikini.

Usai aksi, mereka kabur ke Tenabang, menemui Lubis yang jadi incaran pemerintah gara-gara percobaan kudeta terhadap Kabinet Ali Sastro kedua. Mendengar laporan aksi penggranatan itu, Lubis sudah punya firasat bakal kena tudingan. Ini pasti kita kena tuduh, ujar Lubis kepada Ibrahim Saleh, sebagaimana ditulis Tempo, 29 Juli 1989.

Benarkah Lubis punya kaitan resmi dengan Peristiwa Cikini? Saya memang kenal orang-orangnya. Tersangkut boleh saja. Tapi kalau saya dikatakan menyuruh mereka itu, itu sangat keliru sama sekali, ujar Lubis. Menurut Lubis, sejak beberapa waktu sebelumnya dia telah mewanti-wanti para pemuda GPII agar tidak berbuat kekerasan dan mereka mematuhinya. Dalam persidangan, Jusuf Ismail pun mengakui perintah Lubis tersebut.

Tuduhan pemerintah bahwa Peristiwa Cikini didalangi Lubis dan perwira-perwira PRRI/Permesta pun mentah. Dari keterangan mereka yang dituduh sebagai pelaku Peristiwa Cikini itu, tidak dijumpai seorang pun yang menyatakan perbuatannya mempunyai sangkut-paut dengan gerakan dan sikap Letkol Ahmad Husein, Letkol Barlian, dan Letkol Sumual, tulis Leirissa.

Lubis menuturkan lawan-lawan politiknya sejak lama berusaha menuduhnya dengan macam-macam perbuatan makar. Permintaan Lubis ke Jaksa Agung beberapa tahun kemudian agar dugaan keterlibatannya dalam Peristiwa Cikini dimejahijaukan pun tak pernah dikabulkan. Pemerintah hanya menjawab, masalah tersebut sudah selesai. Para pelaku menyebut-nyebut nama Lubis di pengadilan besar kemungkinan lantaran tak kuat menghadapi siksaan saat diinterogasi KMKB.

Menurut sejarawan Leirissa, para pelaku terkait erat dengan gerakan DI/TII pimpinan SM Kartosuwiryo. Kebetulan banyak pula mantan pasukan DI/TII yang berhasil menyusup ke dalam tubuh organisasi itu. Sejumlah penghuni asrama Sumbawa pun bekas pasukan tersebut. Selain anti-komunis, belakangan diketahui mereka ingin menjadikan Indonesia negara Islam.

Sebuah dokumen yang tersimpan di Pusat Dokumentasi Sejarah TNI menyebutkan kalau perintah pembunuhan datang langsung dari S.M. Kartosuwiryo. Kata dia, seperti dikutip dari dokumen pemeriksaan itu, tak boleh ada matahari kembar. Matahari kembar yang dimaksud adalah dia dan Sukarno dalam satu wilayah negara.

Sukarno tak bisa begitu saja mengabulkan permintaan hukuman mati, satu hal yang dia benci. Terlebih Kartosuwirjo adalah temannya ketika sama-sama mondok di rumah H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya. Sukarno selalu ingat masa-masa ketika mereka berjuang bahu-membahu memerdekakan Indonesia. Pergumulan batin kuat terjadi di dalam dirinya. Tapi Sukarno akhirnya menandatangani keputusan hukuman mati terhadap Kartosuwirjo dan beberapa pelaku Peristiwa Cikini. Ingatannya akan korban-korban yang berjatuhan dalam Peristiwa Cikini, termasuk anak-anak tak berdosa dan ibu hamil yang tewas bersimbah darah, yang membawanya pada keputusan harus mengambil keputusan tersebut.

Karena seorang fanatik yang ingin membunuhku, banyak yang harus kehilangan nyawanya. Ini bukan satu tindakan untuk memenuhi kepuasan hati. Ini tindakan untuk menegakkan keadilan, ujar Sukarno.