Charles Ponzi, pencetus skema investasi bodong/Foto: Boston Library

SATU per satu skandal investasi bodong terbongkar dan menggegerkan publik. Kerugian yang ditimbulkan mencapai triliunan. Setelah kasus Wedding Organizer (WO) Khalisa, dan First Travel, kini sedang hangat kasus umrah murah Abu Tours & Travel.

Modus mereka adalah mengeruk keuntungan dari suntikan dana sejumlah investor atau member. Bermodal iming-iming balik modal berlipat dalam waktu cepat atau berangkat umrah dengan murah, mereka memperdaya para korban dengan model investasi tipu-tipu yang dikenal dengan Skema Ponzi. (Baca: Umrah Bodong Ala Ponzi)

Investasi ala MLM (Multi-level Marketing) itu dicetuskan penipu ulung asal Italia bernama Charles Ponzi. Mahaguru investasi bermodel Piramida itu telah memakan banyak korban di Amerika Serikat (AS).

Selayang Pandang Ponzi

Carlo Pietro Giovanni Guglielmo Tebaldo Ponzi lahir di Lugo, Italia, 2 Maret 1882. Putra dari pasutri Oreste dan Imelde Ponzi ini sejak muda nyambi kerja di kantor pos saat kuliah di Sapienza-Universita, Roma. Sebagaimana lazimnya pemuda Italia yang marak merantau di masa itu, Ponzi ikut menyeberangi Samudera Atlantik menuju the Land of Opportunity Amerika Serikat.

Dengan sangu seadanya plus mimpi besar, Ponzi menumpang kapal SS Vancouver dan menginjakkan kakinya di Boston pada 15 November 1903. Saya datang ke negara ini (AS) hanya bawa uang 2,50 dolar Amerika dan harapan (mendapatkan) satu juta dolar, cetus Ponzi dalam wawancaranya dengan surat kabar New York Times yang dikutip Norton Reamer dan Jesse Downing dalam Investment: A History.

Ponzi memulai dari nol, mulai dari bekerja mencuci piring hingga dipromosikan menjadi pelayan di sebuah restoran. Namun, dia dipecat setelah tertangkap basah mencuri uang kembalian pelanggan dan beberapa properti restoran.

Gagal di Amerika, Ponzi mencoba peruntungannya ke Montreal, Kanada pada 1907. Keahlian berbahasa Inggris dan Prancis (selain bahasa Italia) memudahkan Ponzi melamar pekerjaan jadi asisten teller di Banco Zarossi, bank milik pebisnis Luigi Zarossi. Karier Ponzi menanjak sampai manajer.

Pekerjaan inilah yang lantas membidani sebuah skema investasi yang dikenal sebagai Skema Ponzi. Inspirasinya dari metode gali lubang-tutup lubang yang dilakoni Zarossi. Bos Ponzi itu memanfaatkan aliran uang deposito di banknya dengan iming-iming pengembalian 6 persen pada para nasabah baru. Tujuannya, untuk mendanai berbagai investasi lain. Sialnya, investasi itu gagal. Zarossi lalu kabur ke Meksiko dengan membawa sejumlah uang nasabah-nasabah barunya itu.

Sedangkan Ponzi, sempat dipenjara di Quebec karena memalsukan cek dan baru dibebaskan pada 1911. Namun, dia kembali ditahan di Penjara Atlanta gegara terlibat bisnis penyelundupan imigran. Dua tahun meringkuk di balik jeruji besi, Ponzi kemudian bekerja serabutan sekembalinya ke Boston. Pria flamboyan itu tetap mampu memadu kasih dengan Rose Gnecco yang lantas dinikahi pada 1918.

Pada 1919, Ponzi memulai perusahaan kecil di Boston. Idenya berawal dari datangnya sepucuk surat kiriman sebuah perusahaan di Spanyol yang menanyakan katalog iklan Amerika. Ponzi menemukan secarik International Reply Coupon (IRC), kupon yang bisa ditukar dengan sejumlah cap pos atau perangko prioritas dari negara lain, di dalam surat itu.

Ada kesempatan dalam kesempitan, pikir Ponzi. Dia menemukan kelemahan dalam sistem (IRC) yang dalam teorinya, membuatnya bisa mendatangkan banyak uang, ungkap Vikas Khatri dalam World Famous Crooks & Con Men. Dengan membeli IRC di sebuah negara, keuntungan bakal datang begitu IRC itu ditukar dengan perangko-perangko mahal di negara lain.

Ponzi langsung menutup celah sistem yang dimaksud dengan menempatkan agen-agennya di berbagai negara. Agen-agen itu dikirimi modal (uang) untuk membeli IRC dan mengirimkannya kembali ke Amerika. Alhasil, Ponzi tinggal menukarkan perangko-perangko mahal itu untuk dijual lagi dengan harga lebih mahal dari modal awal. Dengan cara ini, Ponzi meraup untung sampai 400 persen.

Kebangkitan dan Keruntuhan Skema Piramida

Untuk menjalankan skema piramida dengan sasaran sejumlah investor, pada Januari 1920 Ponzi mendirikan perusahaan yang lebih besar, The Securities Exchange Company. Ponzi menjanjikan iming-iming balik modal dan keuntungan 50 persen hanya dalam waktu 45 hari.

Berbekal kepandaian pendekatan personal dan kharisma, Ponzi berhasil menggaet 18 orang menjadi investor pertamanya dengan nilai investasi 1.800 dolar. Sesuai janjinya, Ponzi melimpahkan keuntungan kepada para investor pertamanya itu.

Seiring waktu, investasi itu menarik lebih banyak orang. Manipulasi dengan skemanya itu mendatangkan keuntungan luar biasa. Ponzi disebutkan bisa mengantongi 250 ribu dolar per hari.

Ponzi merayakan kesuksesannya dengan foya-foya. Dia juga membeli sebuah mansion mewah di Lexington.

Tidak sedikit yang penasaran terhadap Skema Ponzi itu. Suratkabar Boston Post menginvestigasinya. Beragam temuan langsung membuat perusahaan Ponzi terguncang dan mengalami rush. Tak ada lagi investor baru yang menyuntik dana.

Memang Skema Ponzi tidak berbeda dengan MLM. Bisnis Skema Ponzi hanya bisa terus berjalan asal ada member (investor) baru, ujar Bhima Yudhistira Adhinegara, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), ketika dihubungi Historia.

Begitu skemanya ambruk, Ponzi ditangkap pada 12 Agustus 1920 dengan 86 dakwaan terkait penipuan dan penggelapan uang. Di pengadilan, Ponzi mengaku bersalah dan divonis 14 tahun penjara. Setelah bebas pada 1934, dia dideportasi ke Italia. Tiga tahun berselang, istrinya menceraikannya.

Nasib lantas membawanya ke Brasil untuk bekerja sebagai agen perjalanan Maskapai Ala Littoria, hingga pecahnya Perang Dunia II (1939-1945). Terlunta-lunta di Brasil, Ponzi kian melarat dan kesehatannya memburuk. Pada 15 Januari 1949, Ponzi tutup usia akibat pendarahan otak di Rumah Sakit Sao Francisco de Assis, Rio de Janeiro.

Warisannya, Skema Ponzi, tetap eksis di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia dalam kerangka MLM. MLM sekiranya masuk pertama kali pada 1970-an. Itu ada yang namanya PT Amindo Jaya. Kemudian pada 1990-an ada Herbalife dan Tupperware yang sampai sekarang masih bisa bertahan karena sistem MLM-nya tetap jualan barang, bukan jualan member, tandas Bhima.