Arca Harihara, setengah Dewa Siwa dan setengah Dewa Wisnu, sebagai penggambaran dewa jasad Sri Kertarajasa Jayawarddhana atau Raden Wijaya, raja pertama Majapahit. Foto: Tropenmuseum/wikimedia.org.

ADA dua prasasti yang bercerita soal keberhasilan Raden Wijaya mengusir musuh dan menjadi raja di Majapahit. Namun, tak ada satu pun yang menyebut soal kedatangan bangsa Mongol ke Jawa. Apalagi soal kemenangan Raden Wijaya atas Mongol.

Menurut epigraf, Boechari, kedua prasasti itu dikeluarkan oleh Raden Wijaya. Salah satunya, Prasasti Kudadu yang berangka tahun 1294, berisi penetapan Desa Kudadu sebagai daerah perdikan bagi rama atau pejabat Desa Kudadu.

Di bagian sambandha, yaitu bagian yang menyebutkan sebab pemberian anugerah, dikatakan rama desa itu berjasa memberi tempat persembunyian bagi Raja Kertarajasa. Ketika itu dia belum menjadi raja dan bernama Nararya Sanggramawijaya. Dia dikejar-kejar musuh dan tersesat sampai Desa Kudadu. Musuh yang mengejar itu adalah Sri Jayakatwang, raja Gelang Gelang.

Dia menyerang Sri Krtanagara, bertindak sebagai musuh, melakukan perbuatan hina, mengkhianati sahabat, mengingkari perjanjian, ingin membinasakan Sri Krtanagara di negara Tumapel, tulis Boechari dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti. Sri Kertanagara adalah raja terakhir Singhasari.

Setelah dinobatkan sebagai raja, Raden Wijaya membalas jasa dengan menetapkan desa perdikan bagi pejabat Desa Kudadu dengan anak, cucu, cicit, dan piutnya.

Sejarah Nasional Indonesia II menyebut Prasasti Kudadu sebagai satu di antara sedikit prasasti yang membeberkan sejarah secara panjang lebar dalam bagian sambandha. Prasasti lainnya yang menyinggung perjuangan Raden Wijaya adalah Prasasti Sukamrta, meski amat singkat.

Prasasti Sukamrta berasal dari tahun 1296. Isinya memperingati penetapan Sukamrta kembali menjadi daerah otonom atas permohonan Panji Patipati pu Kapat. Dia hendak menirukan perbuatan ayahnya, Panji Patipati.

Permohonan itu dikabulkan Sri Kertarajasa Jayawarddhana, nama penobatan atau gelar Raden Wijaya, karena Panji Patipati pu Kapat telah setia dan berbakti. Ketika Kertanagara tewas, dia setia di sisi Raden Wijaya dalam pelarian. Dia juga ikut bersama Raden Wijaya menyerang negeri penjahat yang mengkhianati Raja Kertanagara.

Dalam Prasasti Sukamrta disebut soal Raden Wijaya yang menyeberangi lautan sebagaimana disebut dalam Prasasti Kudadu soal kepergiannya ke Madura.

Kudadu memang bicara soal perangnya, tapi tidak menyebut Tatar. Tak ada prasasti satu pun yang jelas-jelas menyebut soal Mongol di Jawa, ujar Titi Surti Nastiti, epigraf dari Puslit Arkenas, ketika ditemui di kantornya.

Menurut Titi kedatangan Mongol atau bangsa Tatar di Jawa hanya muncul dalam sumber-sumber naskah, seperti Nagarakrtagama, Pararaton, dan beberapa kidung. Dalam (Prasasti, red) Sukamrta justru menyebutkan Wijaya menjadi raja tanpa minta bantuan kesaktian orang lain, semata-mata karena kesaktiannya sendiri, jelas Titi.

Sekarang ini, kata Titu, kisah kemenangan Raden Wijaya atas bangsa Mongol seringkali dianggap sebagai prestasi. Kemenangan itu diartikan sebagai kisah kepahlawanan Raden Wijaya yang berani mengusir bangsa asing. Namun, Raden Wijaya tak menuliskan dalam salah satu prasastinya. Kemungkinan karena peristiwa itu memalukan baginya karena dia licik, kata Titi.

Dalam Kidung Harsawijaya, para penghuni keputren di Keraton Daha, termasuk putri bungsu Kertanagara, Pusparasmi, pun memperlihatkan amarahnya terhadap Raden Wijaya yang menyerang keraton bersama bangsa Tatar. Raden Wijaya dianggap tak kenal terima kasih karena mengkhianati pelindungnya, Jayakatwang.

Menyoal isi prasasti, kata Titi, biasanya hanya mengungkapkan poin-poin penting. Balas jasa pada pejabat desa lebih sering menjadi inti isi prasasti seperti dalam Prasasti Kudadu dan Sukamrta. Kalau bukan itu, maka soal pendirian bangunan suci.

Kalau ada yang di luar itu biasanya tidak ditulis. Toh, kalau Mongol yang membantu, dia (Wijaya, red) kan tidak memberikan hadiah tanah atau apa pun kepada mereka. Ya, tidak usah ditulis. Pola pikirnya begitu pada masa itu, kenapa prasasti dikeluarkan, jelas Titi.

Apalagi, Titi melanjutkan, belum pernah ada prasasti yang isinya memberikan penghargaan bagi bantuan asing. Malah untuk menambah prestasi raja, disebutkanlah dalam prasasti Sukamrta itu, bahwa tidak ada yang membantu dia. Dia menang karena perjuangan sendiri. Ini agar dia tambah dihargai, katanya.

Dalam peristiwa itu, justru Jayakatwang bukan Mongol yang diingat sebagai musuh terbesar Kertanagara dan Raden Wijaya. Di semua sumber, meski Jayakatwang mengizinkan Wijaya memperoleh tanah di Tarik, dia selalu dilukiskan sebagai pengkhianat Raja Kertanagara.

Tapi sebetulnya itu pun tidak terlalu banyak dibahas. Paling banyak justru dalam naskah, kata Titi.

Begitu pula menurut Agus Aris Munandar, arkeolog Universitas Indonesia, bahwa peristiwa Mongol yang diusir dari Jawa tak begitu dianggap berarti oleh orang Jawa masa lalu. Bagi mereka, bangsa Tatar adalah bangsa asura atau bangsa raksasa yang biadab. Begitu pula bangsa Tatar menganggap Jawa sebagai kaum biadab. Saat itu, mereka menganggap pusat dunia ada di negaranya. Karenanya, kedua bangsa itu saling merendahkan.

Bagi orang Jawa ada konsep yang menganggap itu orang luar, penghuni bawah tanah yang keluar, harus diusir. Karena itu dianggap asura, tak perlu disebutkan (dalam prasasti, red), jelas Agus.

Agus pun berpendapat, kemenangan bagi Raden Wijaya adalah ketika dia berhasil mengusir Jayakatwang. Adapun bangsa Tatar hanyalah merupakan bantuan dari para Asura untuk memenangkan sang dewa yang menjelma pada Raden Wijaya. Kalau mau dipandang dari sudut pandang patriotisme, boleh. Akhirnya kita pernah menendang, mengusir pasukan Tiongkok kembali ke negaranya, boleh, selorohnya.