Mak Wok tak pernah mendapatkan pendidikan teater atau sinematografi. Semua dilakukannya secara otodidak. Foto: Vista, 15 Maret 1991.

SAAT ini sangat langka pemain pendukung di dalam sebuah film bisa dikenal publik. Dahulu ada Wolly Sutinah terkenal dengan nama Mak Wok.

Mak Wok bermain di banyak film, dengan peran sebagai pemain pendukung, tapi dikenal luas para penggemar film dan dunia hiburan tanah air. Bahkan orang-orang masih mengenangnya hingga kini.

Mak Wok lahir dengan nama Sutinah di Magelang pada 17 Juli 1915. Kedua orangtuanya seniman opera (sandiwara), yang masuk-keluar perkumpulan-perkumpulan opera dan kerap manggung dari satu kota ke kota lainnya.

Sutinah kecil kemudian dibawa orangtuanya yang manggung di Jakarta. Saat itu, di Jakarta semarak hiburan panggung. Sutinah rajin menonton pertunjukan. Terpikat dunia sandiwara, dia tak melanjutkan sekolah.

Saat usia 10 tahun, Sutinah sudah naik pentas. Karena orangtuanya tak memberi restu, dia mencuri-curi ikut main sandiwara, sebagai pemain ekstra, menyanyi, menari, dan mendapatkan peran kecil.

Buku Apa dan Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978 menyebut Sutinah pernah ikut dalam kelompok sandiwara Tionghoa bernama Sim Ban Lian yang kerap membawakan cerita-cerita klasik Tiongkok. Dari sinilah dia mahir silat dan memainkan toya, yang mengantarkannya berperan di film Pat Kiam Hiap (1933) dan Ouw Pe Coa (1934) besutan The Teng Chun.

Setelah itu Sutinah kembali ke dunia panggung, menggembara dengan berbagai rombongan sandiwara keliling. Dari panggung sandiwara ini pula dia bertemu Husin Nagib yang kemudian menjadi suaminya. Dari perkawinan inilah lahir Aminah Tjendrakasih, yang mengikuti jejaknya di dunia seni peran.

Dunia film tak benar-benar ditinggalkan. Dia sempat bermain di film Aladin dengan Lampoe Wasiat, Poesaka Terpendam, Koeda Sembrani, dan Panggilan Darah seluruhnya dirilis tahun 1941.

Ketika pendudukan Jepang, bersama Tan Tjeng Bok, dia ikut sandiwara Bintang Djakarta. Dia juga sempat bermain di dua film, yakni Ke Seberang (1944) dan Jatoeh Berkait keduanya tahun 1944.

Sempat kembali ke pentas selama masa revolusi, Sutinah kembali ke dunia film sejak 1950 dengan membawakan peran-peran kecil dan memuncak pada 1970-an.

Kenapa Mak Wok?

Sejak kecil, Sutinah biasa dipanggil Wuk yang merupakan panggilan kesayangan bagi anak perempuan di Jawa. Nama itu masih melekat ketika dia remaja, sehingga dipanggil Wuk Tinah.

Suatu saat Sutinah ikut rombongan sandiwara keliling untuk pentas di Filipina. Selama di sana interaksi dengan seniman setempat terjalin. Rupanya seorang sutradara sandiwara bernama Gary mengalami kesulitan mengucapkan panggilan Wuk Tinah. Menurut majalah Femina edisi 8 November 1977, sang sutradara kemudian memberikannya nama Miss Wolly.

Nama tersebut rupanya membawa hoki sehingga dilekatkan di depan namanya. Bahkan setelah puas keluar-masuk berbagai kelompok sandiwara, bersama suaminya, dia mendirikan perkumpulan sandiwara sendiri: Miss Wolly Opera majalah Aneka, 1 Agustus 1954 menyebut Wolly Opera adalah milik orangtuanya. Di sini dia mematangkan segala bakatnya, dari menyanyi, menari, hingga melawak.

Lalu, kenapa lebih dikenal dengan nama Mak Wok ketimbang Wolly Sutinah?

Ceritanya sederhana. Husin Nagib dan Roekiah, seorang aktris tenar, bersaudara angkat. Anak Roekiah, Rahmat Kartolo, kerap memanggil Wolly dengan sebutan Mak. Aminah Tjendrakasih juga memanggil Roekiah dengan sebutan yang sama. Bila Rahmat dan Aminah memanggil bersamaan, kompak Wolly dan Roekiah menyahut.

Rupanya untuk menghilangkan kekeliruan itu, lalu panggilan Mak untuk Wolly ditambah Wuk, yang lama-lama berubah jadi Mak Wok, tulis Femina.

Emak Bawel

Bisa dikatakan, tahun 1970 hingga 1980-an merupakan masa keemasan Mak Wok. Dia bermain di sejumlah film komedi yang dibintangi pelawak-pelawak ternama, seperti Ateng-Iskak, Bing Slamet, S. Bagio, Ratmi-B29, Benyamin S, dan Warkop DKI.

Mak Wok memang memegang peran-peran kecil. Namun, karakternya yang kuat, biasanya sebagai emak-emak rewel dengan logat Betawi kental, membuatnya dikenang orang.

Karakternya di film-film Benyamin S mungkin yang paling diingat penggemar film. Di film-film itu dia nyaris menjadi pasangan abadi Hamid Arief.

Selain komedi, Mak Wok ikut bermain di film-film bergenre drama, horor, dan religi. Tapi tetap saja komedi lebih lekat dengan perannya. Bisa dikatakan, Mak Wok merupakan ikon emak-emak bawel tahun 1970-an. Karakternya bikin sebel, gregetan, sekaligus mengundang tawa.

Film saya memang banyak, biarpun peranan saya kecil, hanya ikut ngeramein saja, kata Mak Wok kepada Femina.

Di layar kaca, Mak Wok muncul di sejumlah program acara TVRI. Salah satunya serial Rumah Masa Depan garapan Ali Shahab.

Mak Wok tak pernah benar-benar meninggalkan panggung sandiwara. Sejak 1950-an dia masih kerap meramaikan pementasan teater. Bahkan dia ikut mendirikan Teater September pada September 1979.

Serangan jantung membuat Mak Wok wafat pada 9 September 1987 di usia 72 tahun. Padahal 12 jam sebelum wafat, Mak Wok masih sempat muncul bersama rekan-rekannya dari Teater September dalam drama komedia berjudul Kumpul Kebo di panggung Dunia Fantasi Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta.

Wolly Sutinah alias Mak Wok dimakamkan di TPU Karet, Jakarta.

Mak Wok merentang zaman di dunia hiburan, terutama film, bukan lewat peran-peran utama. Namun, karakternya yang kuat mampu membuat orang tak pupus memori tentang sosoknya. Hebatnya, dia tak pernah mendapatkan pendidikan teater dan sinematografi. Semua dilakukan otodidak.