Para jenderal purnawirawan yang merambah dunia hiburan: Herman Sarens Sudiro, Hoegeng Imam Santoso, dan Acub Zaenal. Ilustrasi: Gun Gun Gunadi/Historia

MANTAN Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmatyo baru saja memasuki masa pensiun pada akhir Maret lalu. Jelang masa purnabaktinya, nama Gatot kerap bergaung meramaikan bursa pemilihan presiden 2019 mendatang. Ketokohan lulusan Akmil angkatan 1982 ini disebut-sebut calon kuat menyaingi Presiden Jokowi selaku petahana. Namun kepada awak media, Gatot menyatakan akan mengisi waktunya sebagai orang sipil bersama keluarga.

Di masa purnatugas, sementara ini saya ingin fokus dulu mencurahkan waktu untuk keluarga, demikian kata Gatot.

Adalah lumrah bila seorang jenderal purnawirawan memasuki gelanggang politik. Biasanya ia mendapat tempat baru sebagai menteri atau petinggi partai. Barangkali masih ada kontribusi bagi negara yang belum tersalurkan selama berseragam tentara. Mantan Danjen Kopassus, Prabowo Subianto ataupun Luhut Panjaitan yang kini menjabat Menko Kemaritiman termasuk kategori ini.

Menekuni dunia bisnis dan beralih menjadi pengusaha? Itu pun biasa. Untuk alasan keamanan dan prestise, para konglomerat maupun taipan industri kerap menggandeng jenderal beken yang baru pensiun ke dalam jajaran direksi perusahannya.

Sudah sejak lama, sejumlah jenderal purnawirawan dikabarkan asyik berdagang, lansir majalah Tiara No. 48, 15-28 Maret 1992 dalam artikel bertajuk Kesibukan Para Jenderal Purnawirawan.

Mereka antara lain Pangkopkamtib Jenderal TNI Soemitro (1971-1974); Gubernur Jakarta Letjen KKO AL Ali Sadikin (1966-1977); Pangkostrad Letjen TNI Kemal Idris (1967-1969); Gubernur Jakarta Letjen TNI Tjokropranolo (1977-1982); KSAD Jenderal TNI Widodo (1978-1980).

Bisnis umumnya menjadi pilihan utama. Itu karena bisnis termasuk lapangan yang paling terbuka bagi pendatang baru, tulis majalah Tiara.

Kendati demikian, beberapa jenderal mengambil jalur yang lebih unik: berkecimpung di dunia hiburan. Inilah mereka.

Jenderal di Depan Layar

Dikenal flamboyan dan berpenampilan dendi, Brigjen Herman Sarens Sudiro tak kesulitan bermain adu peran. Pada dekade 1980-an, masa pensiun mantan Komandan Korps Hankam ini diisi dengan menjadi aktor layar sinema. Terang Bulan di Tengah Hari, Masizi, Roman Picisan, Biarkan Saya Cemburu, Syekh Siti Kobar Membangkang adalah beberapa judul film yang Herman terlibat didalamnya

Selain dunia olahraga, saya juga pernah main di dunia film. Banyak produser film yang memburu saya untuk mendukung filmnya, seperti Ratno Timoer, Zoraya Perucha, dan produser-produser film luar negeri, kata Herman dalam otobiografinya Ancemon Gula Pasir: Budak Angon Jadi Opsir karya Restu Gunawan.

Tak hanya itu, si jenderal necis juga beberapa kali dinobatkan gelar: pria berbusana terbaik. Pada 1987, Herman menjadi pria berbusana terbaik yang diselenggarakan Yayasan Busana Indonesia. Penghargaan yang sama diterimanya pada 2003 dalam Anugrah Citra Kartini. Diusianya yang kian sepuh, Herman bahkan masih dipercaya membintangi iklan untuk sebuah merk oli terkenal.

Bermain film memang bukan satu-satunya bidang yang digeluti Herman pasca pensiun. Berawal dari hobi, Herman mengembangkan kegemarannya menjadi lahan penghasil duit. Diantaranya: wisata berburu, pacuan kuda, promotor tinju, hingga bisnis diskotik.

Selain Herman, mantan Panglima Kodam Cendrawasih periode 1970-1973 dan Gubernur Irian Jaya Mayjen (Purn.) Acub Zaenal memilih peruntungan di bidang yang sama. Pada 1991, Acub membintangi film Zig Zag yang disutradarai oleh Putu Wijaya. Dalam film tersebut, Acub bermain dengan para aktor kenamaan waktu itu, semisal Jeffry Waworuntu, Dian Nitami, dan Cok Simbara.

Namun Acub tak kerasan jadi aktor dan kapok main film. Di masa senjanya dia lebih giat mengurusi sepakbola sebagai pemilik klub Perkesa 78 dan Arema Malang.

The Singing General

Yang juga tak kalah populer adalah Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso. Setelah pensiun, mantan Kapolri periode 1968-1971 ini beralih ke dunia dunia seni musik dan gelar wicara. Hoegeng memang menaruh minat dan berbakat dalam menyanyi. Sejak 1968, tatkala menjabat Kapolri, Hoegeng tergabung dalam orkes tempo doeloe.

Ketika sudah tak aktif lagi di Kepolisian pada awal 1970-an, Hoegeng bersama grup musik Hawaian Seniors tampil berkala di TVRI dalam acara bertajuk Irama Lautan Teduh. Lebih menarik lagi, Hoegeng kerap berduet dengan sang istri, Merry Hoegeng. Sesekali ikut pula putri mereka, Reny Hoegeng.

Suara yang merdu dipadu penampilan panggung yang apik menyebabkan Hoegeng dijuluki The Singing General oleh majalah berita Jakarta Ekspress. Yang juga membuat kami senang, kami memiliki banyak penggemar di seluruh Nusantara, tutur Hoegeng dalam otobiografinya Hoegeng: Polisi Idaman dan Kenyataan karya Abrar Yusra dan Ramadhan K.H.

Selain mejeng di TVRI, Hoegeng kondang pula sebagai penyiar pemandu acara Obrolan Mas Hoegeng, yang disiarkan radio Elshinta saban minggu pagi. Acara ini menjadi program unggulan Elshinta karena ramai pendengar. Tema yang jadi perbincangan seringkali berkaitan soal keadilan dan ketertiban namun dikupas secara kelakar dan lucu.

Memang, ternyata acara Obrolan Mas Hoegeng itu mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Bukan disebabkan pembawa acaranya adalah seorang Kapolri, melainkan masalah yang dibicarakan selalu aktual dan dibawakan dengan gaya bahasa yang asyik, catat Aris Santoso dkk dalam Hoegeng: Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa.

Hanya kurang lebih satu dekade Hoegeng tampil dan bersiaran. Pada 1980, dia terpaksa berhenti dari panggung hiburan. Pemerintah mencekalnya lantaran terlibat Petisi 50.

Baca juga: 

Perwira yang Nyaris Ditembak Soeharto
Nasib Jenderal Pembangkang di Era Soeharto
Lima Jenderal yang "Dimatikan" Soeharto