Museum Bahari menambah daftar panjang cagar budaya dan situs sejarah yang terbakar/Foto: Randy Wirayudha-Historia.

KEBAKARAN yang melanda Museum Bahari Selasa (16/1) lalu telah menghapus sebagian jejak masa lalu perjalanan sejarah bangsa. Gedung A, C, dan D museum yang merupakan bangunan cagar budaya hampir ludes kecuali dinding-dindingnya. Bersama kebakaran itu, sejumlah koleksi museum ikut sirna pula.

Celakanya, kecelakaan itu terjadi dengan penyebab yang tak jauh beda dari musibah-musibah lain sebelumnya. Kepala Museum Bahari Husnison Nizar mengakui, museumnya masih minim peralatan keamanan seperti sprinkle dan alat pendeteksi asap. Pembaruan instalasi listrik pun baru dalam tahap rencana dan penganggaran. Ya kita hanya ada sedia APAR (alat pemadam api ringan). Tahun ini sebenarnya sudah kita anggarkan instalasi listrik, totalnya sekitar Rp800 juta, tutur Husnison di lokasi, Selasa (16/1/2017).

Kebakaran itu mendatangkan keprihatinan masyarakat. Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana langsung meninjau lokasi dan memberi simpati kepada Sonni, sapaan Husnison. Kita turut prihatin. Yang namanya musibah, kita mana tahu kapan dan bagaimana datangnya. Tapi semoga ini bisa jadi pelajaran ke depannya agar tidak terjadi lagi. Kita juga siap bantu dan kalau ada apa-apa, mohon beritahukan saja ke kami, cetus Putu, yang juga anggota Komisi X DPR RI, saat berbincang dengan Husnison di lokasi.

Kebakaran Museum Bahari menambah panjang daftar musibah yang terjadi pada museum, cagar budaya, dan situs-situs bersejarah di Indonesia. Pada 11 Juli 2017, Istana Bala Putih di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) juga ludes dilahap api. Menurut saksi mata, kebakaran di istana yang didirikan tahun 1931 dan dijadikan tempat tinggal Sultan Kaharudin III itu diawali dengan suara ledakan. Api lalu merembet ke seluruh bangunan yang pada 1959 dihibahkan kepada pemerintah dan dijadikan Gedung Wisma Daerah itu.

Di bulan dan tahun yang sama, kebakaran juga menghanguskan sebuah bangunan bersejarah peninggalan masa Hindia Belanda di Bandung. Kebakaran di bangunan yang kini dimiliki PT KAI Daerah Operasi II Bandung itu juga disebabkan korsleting yang terjadi di sebuah kontrakan dekat bangunan tersebut.

Pada 19 Oktober 2015, bangunan bersejarah yang ditempati Polres Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan juga habis terbakar. Penyebabnya sama, hubungan arus pendek. Akibat kebakaran itu ruangan Bagian SDM, ruangan Sat. Binmas, ruangan SPKT ludes.

Gedung yang didirikan pada 1738 itu semasa Hindia Belanda merupakan kediaman residen Selayar. Setelah dikuasai Laskar Pejuang Rakyat Indonesia Selayar (LAPRIS) dan dijadikan markasnya, gedung itu lalu dijadikan kantor Polres.

Di tahun yang sama pula, 16 Juli 2015, kebakaran melumat kelenteng berusia 150 tahun Liong Hok Bio di Magelang. Api diduga berasal dari dupa di salah satu tempat persembahyangan kelenteng. Tiga bulan sebelumnya, 2 Maret 2015, nahas serupa menimpa Vihara Dharma Bhakti di Petak Sembilan, Jakarta Barat. Menurut penyelidikan, api berasal dari lilin dan dupa yang ada di sana.

Vihara Dharma, sebagaimana dijelaskan jakarta.go.id, merupakan salah satu vihara tertua di ibukota. Awalnya, vihara yang berdiri pada 1650 itu bernama Kelenteng Guo Kun Guan. Belanda menghancurkan kelenteng itu pada 1748 usai Geger 1740. Tapi kapitan Tionghoa membangunnya kembali pada 1755 dengan nama Kelenteng Jin De Yuan.

Kebakaran terhadap bangunan bersejarah juga terjadi pada rumah betang terpanjang dan tertua di Kalimantan Barat, Uluk Palin, pada 13 September 2014. Api diduga berasal dari kayu bakar yang digunakan warga setempat untuk memasak. Menurut catatan, rumah adat suku Dayak sepanjang 286 meter dan lebar 15 meter ini didirikan pada 1941. Rumah itu disekat 53 bilik untuk dihuni 560 jiwa.

Diharapkan musibah ini jadi pelajaran bagi pemerintah karena rumah betang bisa punah. Apalagi Uluk Palin ini bernilai sejarah tak ternilai. Meski arsitekturnya sudah diperbarui, nilai budayanya tak seperti dulu lagi, ungkap Ketua Komunitas Masyarakat Pariwisata Kapuas Hulu Hermas R Maring, dikutip harian Kompas 15 September 2014.

Pada tahun itu pula kebakaran menghanguskan kelenteng tertua di Banyuwangi, Jawa Timur, Hoo Tong Bio, pada 13 Juni. Api berasal dari tempat persembahyangan sisi kanan kelenteng. Akibatnya, beberapa dokumen sejarah dan prasasti pendirian kelenteng yang dibangun pada 1784 itu ikut musnah.

Di kota pahlawan Surabaya, Gedung Balai Pemuda mengalami nahas serupa pada 20 September 2011. Api dari korsleting menghanguskan gedung yang berdiri pada 1907 itu. Pada masa kolonial, gedung bernama De Simpangsche Societeit itu merupakan tempat dugem orang-orang Belanda. Setelah direbut dan dijadikan markas Pemuda Republik Indonesia (PRI) pada masa revolusi fisik, gedung itu kemudian diambilalih penguasa militer (kini Kodam) pada 1950. Tujuh tahun kemudian, gedung itu diserahkan ke Pemerintah Kota Surabaya, sekaligus mengubah namanya menjadi Balai Pemuda.

Tujuh belas hari sebelum kebakaran Balai Pemuda, kebakaran menghanguskan Rumah Bolon di Museum Batak TB Silalahi yang dibangun mantan menteri Pendayagunaan Aparatur Negara TB Silalahi pada 7 Agustus 2006 di Balige, Sumatera Utara. Lagi-lagi, api berasl dari korsleting.

Kebakaran terhadap bangunan cagar budaya juga menghampiri Istana Pagaruyung di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat pada 21 Maret 2010. Akibatnya, koleksi kain adat, perabotan rumah tangga, hingga sejumlah alat-alat upacara adat ikut musnah. Hanya beberapa dokumen penting perihal istana yang selamat jilatan api.

Dalam catatannya, bangunan yang oleh masyarakat setempat disebut Istana Si Linduang Bulan itu didirikan Sultan Alif Kalifatullah pada 1550. Dua abad kemudian, istana itu direstorasi karena beberapa bagiannya sempat runtuh. Kebakaran pada 2010 itu bukan kebakaran pertama Istana Pagaruyung. Selain pernah mengalaminya saat Perang Paderi (1821), istana itu kembali terbakar pada 3 Agustus 1961dan 21 Maret 2010.