Sujatin (paling kanan) bersama Fatmawati ketika perayaan Kartini 1953. Sumber: Mencari Makna Hidupku.

DENGAN kebaya merah jambu, kain jarik motif kawung warna putih, dan rambut disanggul, Sujatin memerankan Kartini dalam sebuah tableau (penampilan tanpa dialog) mewakili seksi Perempuan Jong Java. Penampilan itu dia lakukan tahun 1923 pada pawai Perayaan 25 tahun Ratu Wilhelmina di Yogyakarta.

Untuk perayaan itu, dia mendapat pinjaman sebuah truk dari bupati Kulon Progo yang juga pamannya. Bak truk kemudian disulap menjadi kamar Kartini lengkap dengan meja-kursi kuno. Beberapa lukisan dipajang di sebuah dinding yang dicat putih.

Tak disangka, tableau Kartini itu mendapat sambutan meriah. Sujatin mendapat hadiah utama berupa lampu meja bertudung (schemerlamp) dari Sultan Hamengkubuwono VIII.

Sujatin muda dan tua. Foto: Sumbangsihku bagi Pertiwi Jilid I.

Demi Perempuan

Sujatin merupakan pengagum Kartini. Dia bertekad menyebarluaskan pemikiran Kartini dan memperbaiki nasib kaum perempuan.

Sujatin merasakan sendiri betapa perempuan dianggap tak seberharga lelaki di masyarakat. Ketika dia lahir, ayahnya, yang sejak lama mendamba bayi lelaki, sempat kecewa karena kembali mendapat bayi perempuan. Ayahnya bahkan sempat ogah menggendong bayi Sujatin dan hanya mau menengoknya saja.

Sujatin mendapatkan kisah itu dari kakaknya, begitu dewasa. Sejak itulah dia berusaha membuktikan bahwa perempuan mampu berbuat sesuatu, bisa berjasa, dan punya prestasi. Aku ingin membela kaum perempuan yang tertindas, yang kelahirannya mengecewakan orangtua karena jenis kelaminnya, kata Sujatin dalam biografi yang ditulis Hanna Rambe, Mencari Makna Hidupku.

Beruntung, Sujatin mendapat didikan dari orangtua agar menjadi perempuan kuat dan mandiri. Ayahnya ingin dia bekerja dan punya tujuan hidup. Sang ayah tak hanya mendidiknya dengan nilai-nilai humanis dan antifeodal, tapi juga mendorongnya rajin membaca.

Sujatin amat menggemari buku kumpulan surat Kartini Door Duisternis Tot Licht, yang terjemahannya, Habis Gelap Terbitlah Terang, dia dapatkan saat remaja. Tak ada buku bacaan lain, di antara sekian buku bacaan yang pernah kunikmati, yang lebih berpengaruh kepadaku selain yang satu ini. Bukan saja menamatkannya, bahkan membacanya berulangkali, kata Sujatin.

Sujatin, yang menyepakati cita-cita Kartini dan ingin melanjutkan serta menyebarluaskan pemikirannya, kemudian aktif di seksi Perempuan Jong Java ketika bersekolah di MULO (setingkat SMP). Seperti Kartini, sejak remaja dia aktif menuliskan buah pikiran tentang perempuan. Keaktifannya menulis membuatnya dipercaya menjadi penulis dan redaktur majalah Jong Java. Dia menggunakan nama pena Gerbera, diambil dari nama bunga gerbera yang sederhana namun tahan segala cuaca, dalam tulisan-tulisannya.

Kesepemahanan dengan pemikiran Kartini tentang pentingnya pendidikan membuat Sujatin kemudian menjadi guru begitu tamat MULO. Dia mengajar di HIS (sekolah dasar) swasta pada 1926 karena merasa lebih dekat dengan bangsanya; dia ogah mengajar di sekolah pemerintah karena penjajah.

Sujatin juga memperjuangkan hak-hak perempuan dengan mendirikan organisasi Poetri Indonesia pada 1928. Di tahun itu juga dia menginisiasi Kongres Perempuan Indoensia.

Aku sadar dan yakin hanya pendidikan yang dapat mengubah nasib perempuan. Pendidikan membuka mata kita, memberi pikiran jernih, dan kemampuan keluar dari kesulitan yang dihadapi. Makanya, aku giat belajar, membaca, dan mengurus perkumpulan kami, kata Sujatin dalam memoarnya di Sumbangsih Bagi Pertiwi.

Sujatin terus melawan feodalisme dan perlakuan diskriminatif keraton terhadap perempuan, yang hanya didamba ketika masih diinginkan raja tapi bisa dijadikan hadiah begitu raja bosan. Dia juga tak pernah sepakat terhadap pembedaan perlakuan keraton kepada istri Padmi dan selir, antara perempuan ningrat dengan rakyat. Saya bukan hanya membenci perlakuan semena-mena pada perempuan tapi juga pembedaan perlakuan terhadap sesama manusia, kata Sujatin.

Semangat perlawanan itu mendorong Sujatin menjadikan Perayaan 25 tahun Ratu Wilhelmina sebagai momen perlawanan. Dia mengusulkan untuk menampilkan Kartini, ikon anti-penindasan, dalam perayaan itu. Ketika ternyata memenangkan perayaan itu, Sujatin berpikir keras apakah mesti melakukan sembah atau tidak sebelum menerima hadiah dari sultan.

Sujatin akhirnya menghadap sultan dan menerima hadiah di Gedung Societet Yogyakarta (kini Taman Budaya Yogyakarta), disaksikan residen, bupati, dan pembesar Belanda lain. Dia tak menyembah sultan. Kalau menyembah sama saja aku mengakui feodalisme, kata Sujatin.