Rainbow Warrior usai dilumpuhkan agen intelijen Prancis. Sumber: greenpeace.org.

BEBERAPA waktu lalu (17/3), Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Susi Pudjiastuti mengunjungi kapal Rainbow Warrior (lasykar pelangi) yang tengah berlabuh di perairan Sorong, Papua. Kapal milik kelompok pecinta lingkungan Greenpeace tersebut tengah memulai muhibahnya yang bertajuk Jelajah Harmoni Nusantara. Papua Barat merupakan tujuan pertama mereka dalam kegiatan tersebut.

Sejatinya kapal tersebut bukanlah Rainbow Warrior yang pertama. Nama Rainbow Warrior sendiri awalnya diambil dari sebuah buku berjudul Warriors of the Rainbow karangan William Wiloya dan Vinson Brown (diterbitkan oleh Naturegraph pada 1962). Buku tersebut berkisah tentang suatu ungkapan dari para ahli nujum suku Indian Cree di Amerika Utara yang meramalkan akan datang suatu masa ketika planet Bumi sakit parah akibat ketamakan manusia. Dalam situasi kritis tersebut, Sang Dewa Agung lantas mengutus sekelompok manusia idealis yang datang dari berbagai latar budaya untuk melakukan suatu aksi nyata menyembuhkan Bumi yang tengah sekarat tersebut. Orang-orang Indian Cree menyebutnya sebagai Para Ksatria Pelangi (Warriors of the Rainbow).

Pada 1971, muncul suatu gerakan menentang percobaan nuklir Amerika Serikat di Pulau Amchitka (masuk dalam gugusan kepulauan Aleutia di Pasifik Utara). Guna menentang aksi percobaan itu secara nyata, para aktivis lingkungan yang tergabung dalam gerakan tersebut menyewa sebuah kapal pencari ikan (kapal itu lantas dibeli). Terinspirasi dari cerita Wiloya dan Brown, salah seorang dari mereka yakni Bob Hunter (jurnalis yang merupakan salah satu pendiri kelompok pecinta lingkungan hidup Greenpeace) lantas memberi nama kapal tua itu sebagai Rainbow Warrior alias Lasykar Pelangi. Demikian seperti yang dituturkan oleh Bob Hunter dalam sebuah buku berjudul Greenpeace Story.

Sejak itulah Rainbow Warrior setia mengikuti setiap sepak terjang Greenpeace. Kapan dan di mana pun para pecinta lingkungan hidup itu beraksi, Rainbow Warrior pasti selalu menyertai. Hingga pada suatu hari di bulan Juli 1985. Saat itu Rainbow Warrior terlibat dalam aksi nekad menentang percobaan nuklir Prancis di Pulau Moruroa, Pasifik.

Stepahanie Mills, salah seorang aktivis senior Greenpeace yang terlibat dalam aksi tersebut, berkisah: ketika Rainboaw Warrior memasuki 12 mill zona terluar di pulau karang Moruroan pada pagi hari 10 Juli 1985, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh aksi sekelompok agen DGSE (Direction G n rale de la S curit Ext rieure/Dinas Intelejen Prancis) yang menyerang Rainbow Warrior. Dalam gerakan cepat mereka memecahkan jendela dan melemparkan gas airmata ke anjungan Rainbow Warrior.

Demi menghadapi situasi tersebut, nahkoda kapal lantas menghentikan mesin dan mengarahkan para awak Rainbow Warrior untuk menuju dek bawah kapal. Sementara itu, sekelompok agen DGSE yang lain merobek lambung kapal.

Saya sedang ada di ruang radio ketika mereka memukulkan kapak ke pintu dan melemparkan lagi gas air mata melalui lubang patahan pintu. Nafas kami tercekik, saya mengatur untuk melarikan diri melalui jendela kapal bersama operator radio Thom Looney dan juru kampanye Perancis Jean-Luc Thierry,ujar Mills dalam The Bombing of Rainbow Warrior.

Satu persatu awak Rainbow Warrior ditangkap dan diinterogasi. Selesai penginterogasian, mereka dikembalikan lagi ke kapal dan Rainbow Warrior digiring kembali ke perairan internasional. Namun ketika hampir mencapai Auckland Harbour, Selandia Baru, tiba-tiba sebuah ledakan mengguncang tubuh Rainbow Warrior dan mengakibatkan tewasnya photographer Greenpeace Fernando Pereira. Rupanya sebelum meninggalkan Rainbow Warrior, para agen DGSE itu terlebih dahulu menanam bom di satu sudut kapal.

Rainbow Warrior sendiri kemudian tenggelam. Karamnya Si Lasykar Pelangi ini menjadi penanda suksesnya Prancis melancarkan aksi intelijen yang bersandi Op ration Satanique (Operasi Setan) itu. Selanjutnya kasus ini lantas ditangani Kepolisian Selandia Baru. Mereka menangkap dua agen intelijen Prancis dan memenjarakan mereka selama 10 tahun dengan tuduhan melakukan pembakaran kapal, bekerjasama untuk membakar kapal, menjalankan aksi pengrusakan dan melakukan pembunuhan.

Dunia merespon keras insiden tersebut. Beberapa hari sesudah kejadian itu, ribuan orang di berbagai kota besar Eropa dan Amerika Serikat turun ke jalan guna memprotes aksi brutal atas nama pemerintah Prancis itu. Tak tahan oleh kritik dan protes internasional, Menteri Pertahanan Prancis Charles Hernu lantas menyatakan mundur dari tugasnya.

Aksi heroik Rainbow Warrior lantas didokumentasikan dalam sebuah film untuk televisi pada 1992. Judulnya The Rainbow Warrior (The Sinking of the Rainbow Warrior) yang disutradarai oleh Michael Tuchner, produser Sam Strangis, penulis skrip Martin Copeland dan Scott Busby, serta diperani oleh Sam Neill, Jon Voight, Lucy Lawless, Kerry Fox dan lain-lain. Selain film tersebut, ada juga tiga film yang menceritakan kisah yang sama yakni The Rainbow Warrior Conspiracy (1989), dan film Prancis Operation Rainbow Warrior dan Le Rainbow Warrior. Keduanya diproduksi pada 2006.