Lonceng tua di pendopo Kabupaten Cianjur. Foto: Hendi Jo/Historia

Di sudut sebelah barat kawasan pendopo Kabupaten Cianjur, lonceng tua itu terpuruk seperti orang sakit. Tak banyak orang tahu asal usul benda kuno tersebut. Termasuk Irvan Rivano Muchtar, Bupati Cianjur. Saya sama sekali tidak tahu riwayat lonceng itu, tapi karena saya yakin itu benda sangat bersejarah maka tak ada niat dari pemerintah Kabupaten Cianjur untuk menyingkirkannya, ujar Irvan kepada Historia.

Bagi kalangan sepuh di kota beras itu, keberadaan lonceng kabupaten (demikian orang Cianjur menyebutnya) memiliki kenangan tersendiri. Pepet Johar (71), masih ingat, bagaimana saat remaja dulu dirinya selalu menjadikan bunyi lonceng itu sebagai acuan untuk mengetahui waktu.

Pada akhir tahun 1950-an, secara rutin lonceng kabupaten kerap dibunyikan tiap hari, dan jumlah pukulannya disesuaikan dengan angka jam yang sedang berlangsung, ungkap pengelola Bumi Ageung (Museum Prawiradiredja II, bupati Cianjur ke-10) itu.

Lebih jauh lagi, tahun 1900-an, lonceng kabupaten pernah dijadikan pengingat berlangsungnya jam malam. Dari para leluhurnya, Dadan (75) mendapat cerita: seiring lonceng dipukul sembilan kali di waktu malam, maka sambil menunggang kuda, beberapa upas (petugas keamanan kabupaten) berkeliling untuk memeriksa apakah masih ada penduduk berkeliaran atau tidak.

Jika mendapatkan penduduk termasuk para bocah masih berada di luar rumah maka mereka langsung disuruh untuk ngampih (segera masuk rumah), tutur seniman senior di Cianjur itu.

Lonceng kapubaten pun di era Hindia Belanda pernah berfungsi sebagai pemberi informasi telah terjadinya suatu peristiwa penting di Cianjur. Dalam Preanger Bode tertanggal 23 Maret 1910, dikisahkan ketika bupati terkemuka Cianjur R.Prawiradiredja II mangkat pada 17 Maret 1910, lonceng kabupaten dibunyikan beberapa kali tepat pada jam 6 pagi, disusul bunyi beduk bertalu-talu dari Masjid Agung Cianjur .

Banyak versi yang beredar sekitar asal-usul lonceng kabupaten. Namun jika mengacu kepada tulisan yang tertera di kepala lonceng (BORCHHARD GEGOTEN IN T AMBAGD QWARTIR TOT BATAVIA 1774), besar kemungkinan lonceng itu dibuat di Batavia oleh Johan Christian Borchhard, seorang pengrajin lonceng Eropa terkemuka pada abad ke-18.

Lonceng buatan Borchhard tersebar dari Belanda hingga Afrika Selatan, ujar Valeron Najoan, penulis sejarah yang rajin menelusuri arsip-arsip tua berbahasa Belanda.

Borchhard sebenarnya seorang berkebangsaan Jerman, namun menjelang kematiannya pada 1777, ia kerap bermukim di Enkhuizen, Belanda. Dari penelisikan yang dilakukan oleh Valeron, ada dua lonceng karya Borchhard yang dibuat di Batavia, khusus untuk Gubernur Jenderal VOC (Maskapai Perdagangan Hindia Belanda) ke-29 Petrus Albertus van Der Parra. Lonceng pertama selesai pada 1772 sedangkan lonceng kedua rampung pada 1774, setahun sebelum van Der Parra meninggal secara mendadak.

Jika melihat kisah tersebut, saya memiliki pendapat lonceng yang terdapat di muka pendopo Cianjur itu adalah lonceng kedua. Itu dibuktikan dengan tahun yang tertera di kepala lonceng yakni 1774. ungkap Valeron.

Lantas muncul pertanyaan: bagaimana lonceng tersebut bisa berada di Cianjur? Soal itu memang belum terjawab secara pasti oleh para peneliti sejarah dan para sejarawan. Dalam buku Sejarah Cianjur karya Raden Makbul Husein dan Abdur Rauf, disebutkan bahwa lonceng itu konon dihadiahkan oleh VOC untuk Aria Waratanudatar (bupati pertama Cianjur).

Ketika Aria Cikondang sebagai utusan sang ayah, datang ke Batavia ia lantas dihadiahi sebuah lonceng sebagai tanda mimitraan (kerjasama), tulis Raden Makbul Husein dan Abdur Rauf.

Keterangan di atas jelas rancu secara historis. Logikanya, Aria Wiratanudatar berkuasa jauh sebelum tahun 1774 (waktu ketika lonceng itu selesai dibuat). Dia menjadi penguasa di Cianjur dari tahun 1677 hingga 1691. Jadi perbedaannya hampir seratus tahun.

Ada dua kemungkinan lonceng itu bisa disimpan di Cianjur. Pertama, bisa jadi itu dihibahkan pemerintah Hindia Belanda kepada Cianjur di awal abad ke-19, sebagai simbol penghargaan. Menurut Jan Breman dalam buku Keuntungan Kolonial dari Kejapaksa, sejak awal abad ke-18 Cianjur merupakan sumber devisa terbesar bagi pemerintah Hindia Belanda pasca VOC runtuh akibat korupsi. Terutama untuk komoditas kopi.

Kedua, lonceng itu dihadiahkan khusus untuk Bupati Prawiradiredja II karena prestasinya yang sangat hebat dalam membangun Cianjur. Besar kemungkinan benda itu diberikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1904 ketika pemerintahan Cianjur mengadakan pesta peringatan ke-40 berlangsungnya pemerintahan Prawiradiredja II. Bataviaasch Nieuwsblad tertanggal 26 Agustus 1904, mengisahkan bagaimana saat itu para pejabat dan pemuka komunitas Eropa, Tionghoa dan tokoh-tokoh bumiputera memberikan berbagai aneka hadiah menarik kala itu kepada sang bupati.

Namun pastinya soal ini harus ditelisik lebih serius lagi oleh para peneliti sejarah dan para sejarawan, sehingga tidak ada lagi orang Cianjur yang buta pada sejarah kotanya sendiri.