Kota Paris tahun 1923. Foto: Bibliothque nationale de France.

LETAK hotel Progrs dan toko buku di quartier Latin dekat dengan satu taman-kota, yaitu Jardin du Luxembourg (Taman Luxembourg). Taman ini khas gaya Prancis, dan kerap dikunjungi baik warga kota maupun turis. Dapat kita duga Mohammad Hatta tentu pernah berjalan-jalan di taman ini.

Di dalam memoirnya, Hatta mengenang bahwa "dengan Sastromoeljono aku dapat pergi bersama-sama ke Htel des Invalides, makam Napolon dan ke sebuah museum lukisan-lukisan yang kesohor."

Sastromoeljono adalah mahasiswa senior di fakultas hukum Universitas Leiden, yang di kemudian hari, setelah pulang ke Hindia Belanda, menjadi salah satu anggota tim pembela Sukarno tahun 1930. Ia sudah tiba di Paris lebih dua minggu sebelum Hatta. Hatta mengenang bahwa "dialah yang pertama kali dari mahasiswa Indonesia yang menemui hotel Progrs itu." Yang lebih menarik lagi, Hatta mengatakan dirinya "tercengang menyaksikan lancarnya ia berbahasa Prancis."

Mengunjungi Museum

Htel des Invalides adalah gedung museum militer yang juga menjadi makam Napolon. Tentu saja, ini adalah salah satu tempat menarik di kota Paris.

Hatta tidak menyebutkan lengkap museum apa yang dikunjunginya bersama Sastromoeljono. Mungkin mereka mengunjungi museum Louvre. Ini adalah museum utama di Paris, yang memang menjadi mekah-budaya di kota itu. Dari Htel des Invalides tentu bisa berjalan kaki ke museum Louvre dengan menyeberangi Sungai Seine, sungai utama di kota Paris.

Kita tidak tahu persis apa yang dimaksud Hatta dengan "lukisan-lukisan yang kesohor". Mungkin sekali Hatta melihat lukisan Mona Lisa di museum Louvre, yang senyumnya diperbincangkan umum. Apakah Hatta juga melihat beberapa lukisan impresionis karya Claude Monet dan douard Manet, yang saat itu sedang naik daun? Apakah karena tidak menyebutkan secara lengkap adalah tanda bahwa Hatta muda tak begitu peduli dengan karya seni rupa, tak sedalam seperti kecintaannya pada buku? 

Dalam kunjungannya yang pendek di Paris, Hatta muda mengumpulkan sejumlah buku yang akan dipakai sebagai rujukan dalam tulisan. Ia juga telah mengelilingi sejumlah tempat di Paris, kota yang saat itu menjadi metropolis utama di Eropa.

Kehidupan Monoton

"Pada hari keempat aku di Paris, dengan kereta api pagi aku berangkat ke Lyon. Pada sore hari aku sampai di sana," kenang Hatta usai tiga hari di Paris.

Di Lyon, bersama Soebardjo, Hatta mengusahakan tulisan-tulisan untuk majalah Hindia Poetra nomor 5 dan 6.  Iwa Koesoema Soemantri juga bersama mereka, namun lebih banyak belajar mempersiapkan diri untuk ujian.

Hatta menyebut bahwa "begitu monoton hidup kami, sehingga melihat pabrik sutera yang kesohor di Lyon pun kami tidak sempat." Ini tentu karena waktu mereka habis untuk mempersiapkan majalah.

Sebagai laki-laki dewasa

Selama di Lyon pula, Hatta berulang tahun. Yaitu, pada tanggal 12 Agustus. Sebenarnya, ini perayaan yang istimewa. Sebab, ia berusia 21 tahun, usia dewasa dalam hukum perdata Barat. Ia sudah bukan lagi pemuda tanggung, tapi sudah dianggap sebagai laki-laki dewasa secara hukum.

Hatta tak menyebutkan apa yang mereka kerjakan pada hari ulang tahunnya itu. Mungkin ia merasa hal itu kurang begitu penting. Mungkin juga ia merasa itu adalah bagian kehidupan pribadinya yang tak perlu diumbar ke publik. Meski demikian, boleh dikata tahun 1923 menjadi titik balik dalam kehidupannya.

Hatta dan rekan-rekannya berada di Lyon selama lebih dari sebulan. "Dekat pertengahan September, kami kembali ke Nederland, dengan singgah di Paris, di mana kami menginap di Hotel Progrs dan tinggal barang lima hari."

Lebih Panjang

Jelaslah, perjalanan kedua Hatta di kota Paris ternyata lebih panjang daripada perjalanan pertamanya. Mungkin karena kerja mengurus majalah sudah kelar sehingga bisa menghabiskan waktu lebih lama di Paris. Mungkin juga, ini adalah bagian dari perjalanan perayaan. Apa saja yang Hatta dan rekan-rekannya lakukan selama lima hari di Paris kali ini?

Kita tidak tahu pasti. Sebagai pemuda, yang kini sudah dewasa, Hatta tentu bisa (dan boleh) melakukan apapun yang ia kehendaki. Mungkinkah Hatta mengunjungi kembali museum-museum? Ataukah, Hatta dan rekan-rekannya menghabiskan waktu di Luna Park (Taman Luna), yaitu taman hiburan utama yang saat itu ramai dikunjungi warga-kota Paris? Ataukah, mereka juga menonton pertunjukan film A Woman of Paris yang baru diliris bulan September itu?