Ads Top

Gawat! Tahun 2018 Menjadi Tahun Rawan Bencana Alam Gempa Bumi


images(12)


Gempa bumi adalah bencana alam yang kerap kali melanda secara tiba-tiba tanpa bisa diduga dan diprediksi. Berbeda dengan badai dan tornado yang bisa diprediksi dan dilacak bahkan beberapa minggu sebelum menerpa daerah tertentu, gempa bumi selalu terjadi tanpa peringatan.


Wajar jika gempa bumi, apalagi gempa skala besar, selalu menelan begitu banyak korban.


Namun kini, ada sebuah studi baru yang menunjukkan bahwa 2018 kemungkinan besar akan menjadi tahun yang dilanda oleh banyak gempa bumi.


Dilansir dari TIME, prediksi ini bukanlah tanpa alasan; peneliti mendapati bahwa rotasi planet Bumi kini menjadi sedikit lebih pelan.


Mungkin teknologi kita masih belum dapat memprediksi kemunculan gempa bumi secara akurat. Namun jika ditilik ke belakang, riwayat seismik Bumi menunjukkan sejumlah pola yang berbeda kepada ahli geologi.


Studi baru ini dipresentasikan pada pertemuan tahunan Geological Society of America di Seattle dan dimuat di Geophysical Research Letters. Peneliti yang bertanggung jawab, ahli geologi Roger Bilham dari University of Colorado, Boulder, dan Rebecca Bendick dari University of Montana menganalisa berbagai bencana gempa bumi 7 SR atau lebih yang pernah terjadi di seluruh dunia sejak tahun 1900.


Dalam 117 tahun terakhir, total rata-rata gempa bumi skala besar yang terjadi di dunia setiap tahunnya adalah 25-30 bencana.


Pada periode di mana Bumi lebih rentan terkena gempa, peneliti mendapati bahwa kecepatan rotasi Bumi melambat.


Ya, planet Bumi kita yang nampak solid, nyatanya tidak sesolid yang kita duga apalagi sebagian besar Bumi terdiri dari air dan udara. Lapisan luar inti Bumi memiliki ketebalan 2.200 km dan mayoritas terdiri dari besi cair dan nikel. Cairan ini sering bergerak mengikuti sebuah pola yang dapat diprediksi dalam siklus yang berulang.


Namun, pergerakan yang terjadi di dalam Bumi ini dapat mengubah kecepatan putaran Bumi. Hal ini dapat menambah, atau mengurangi, beberapa mili detik dari rentang waktu 24 jam waktu standar Bumi berotasi.


Perubahan ini nyatanya terekam secara reguler oleh jam atomik.


Apabila rotasi Bumi melambat, maka cairan di dalam inti Bumi akan mengikuti hukum fundamental Newton. Hukum ini menyebutkan bahwa sesuatu benda yang bergerak akan mencoba sekuat mungkin untuk tetap bergerak.


Nah, tekanan ini akan merambat keluar dari inti Bumi melalui bebatuan dan lempeng serta celah Bumi secara perlahan. Menurut kalkulasi peneliti, energi yang dikirim dari inti Bumi membutuhkan waktu 5-6 tahun untuk sampai ke lapisan terluar planet, di mana gempa Bumi terjadi.


Artinya, saat jam atomik mendapati kalau Bumi mulai bergerak lebih lambat, maka kita punya waktu 5-6 tahun untuk bersiap-siap, sebelum gempa Bumi terjadi.


Terakhir kali rotasi Bumi kita melambat adalah di tahun 2011. Dan belakangan ini di tahun 2017, pola yang diprediksi pun terjadi: Gempa Bumi besar 7,1 SR yang melanda Kota Meksiko, gempa 7,3 SR di perbatasan Iran-Irak dan gempa 7 SR di Kaledonia Baru. Dan hal ini diprediksi akan berlanjut sampai tahun 2018 nanti.


Studi baru ini juga mengindikasikan bahwa gempa Bumi akan terjadi di dekat garis ekuator, dalam rentang garis lintang 30 ke utara atau selatan.


Kendati demikian, peneliti tidak bisa mengkonfirmasi kalau 2018 akan menjadi tahun di mana Bumi, secara geologi, menjadi kurang stabil dari tahun 2017. Namun tentunya, ilmu sains kini menjadi sedikit lebih akurat dalam memprediksi gempa Bumi. Tidak ada salahnya jika kita mulai bersiap-siap dalam menghadapi gempa mulai dari sekarang.


Semoga bermanfaat



Powered by Blogger.