Wage Rudolf Supratman dan notasi lengkap lagu "Indonesia Raya" menurut Panitia Lagu Kebangsaan Indonesia Raya tahun 1944. Foto: repro "Lagu Kebangsaan Indonesia Raya."

PADA suatu sore, Wage Rudolf Supratman, wartawan suratkabar Sin Po, tersentak oleh artikel dalam majalah Timbul. Musababnya sebuah kalimat, Alangkah baiknya kalau ada salah seorang dari pemuda Indonesia yang bisa menciptakan lagu kebangsaan Indonesia, sebab lain-lain bangsa semua telah memiliki lagu kebangsaannya masing-masing!

Kalimat itu mengusik Supratman. Sepengetahuannya saat itu telah ada lagu Dari Barat Sampai ke Timur sebagai lagu kaum pergerakan. Tetapi, lagu itu belum mengesankan dan menggugah semangat berjuang. Dari situ muncul ide membikin lagu kebangsaan bukan sekadar lagu pergerakan.

Hingga suatu kali di pertengahan 1926, Supratman dikunjungi kakak iparnya, Oerip Kasansengari. Dia mendapat kawan diskusi yang menyenangkan. Selama seminggu keduanya banyak berdiskusi, umumnya soal politik. Termasuk tentang artikel majalah dan idenya tentang lagu kebangsaan.

Begini Mas, Supratman membuka pembicaraan, saya pernah membaca majalah Timbul yang terbit di Solo, Jawa Tengah, yang isinya antara lain menanyakan kapan ada komponis kita yang dapat menciptakan lagu kebangsaan Indonesia, yang dapat menggelorakan semangat rakyat!

Supratman menunjukkan majalah itu kepada Oerip. Kalau bangsa Belanda punya lagu kebangsaan Wilhelmus, mengapa Indonesia belum punya. Sebab itu sekarang saya sedang mulai mengarang lagu dan saya beritahukan juga kepada bapak dan saudara-saudaraku untuk mendapat restunya, kata Supratman.

Selamat dan semoga berhasil dengan cita-citamu itu, kata Oerip.

Menurut Anthony C. Hutabarat dalam biografi Wage Rudolf Soepratman, hasratnya untuk menggubah lagu yang dapat menjadi lagu kebangsaan semakin bertambah, setelah tersiar berita dari Indonesische Studieclub yang dipimpin Bung Karno, bahwa perlu adanya segera lagu nasional.

Meskipun tak berorganisasi, Supratman akrab dengan orang-orang pergerakan. Dia meliput kegiatan-kegiatan mereka. Dia juga bergaul dengan anggota Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI).

Dalam Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Bondan Winarno mencatat Supratman mulai sering ikut berdiskusi dengan para pemuda yang selalu berkumpul di Gedung Perkumpulan Indonesia (Indonesische Clubgebow) di Gang Kramat (sekarang Jalan Kramat 106 Jakarta Pusat).

Atmosfer itu yang mendorong Supratman membikin lagu kebangsaan. Dengan lagu itu dia bisa berkontribusi dalam pergerakan nasional. Tidak jelas berapa lama dia menggubah lagu kebangsaan.

Menurut Bondan dalam prosesnya Supratman dibantu Theo Pangemanan, tokoh kepanduan yang mahir bermusik. Ketika nadanya telah tercipta, dia langsung menetapkan judul Indonesia untuk lagunya. Sementara liriknya mengambil inspirasi dari jargon dan ungkapan aktivis pergerakan yang akrab didengarnya dalam percakapan-percakapan di Gang Kramat.

Ketika lagu itu selesai digubah, para pemuda pergerakan di Batavia sedang sibuk mempersiapkan Kongres Pemuda II. Supratman menulis surat kepada panitia guna memperkenalkan lagunya dan menjajaki kemungkinan lagu itu diperdengarkan dalam kongres. Panitia mengizinkan lagu itu diperdengarkan dalam penutupan kongres.

Dia membawa ciptaannya itu dan memperdengarkannya antara lain kepada Sugondo Joyopuspito, Arnold Mononutu, dan A. Sigit, tulis Bondan.

Supratman kemudian membawakan lagu itu dengan biolanya usai sidang pleno ketiga Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928. Penampilannya mendapat sambutan hangat peserta kongres.

Setelah Wage Rudolf Supratman mengakhiri permainan biolanya, serentak para hadirin memberi sambutan dengan tepuk tangan gemuruh. Sebagian malah ada yang berdiri sejenak untuk bertepuk tangan. Sebagian lagi ada yang meneriakkan pujian, tulis B. Sularto dalam Sejarah Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.