Ads Top

Inilah Sepenggal Kisah Buya Hamka yang Jarang Diketahui


Perbedaan adalah rahmat. Bahkan anugerah yang diberikan Tuhan pada manusia. Sebab dengan perbedaan, sesama insan bisa saling mengenal dan melengkapi. Dari perbedaan, tercipta keindahan. Seperti lukisan, jika banyak warna, terlihat begitu indah.


Pelangi pun, jika hanya satu warna, tak akan terlihat indah dan menggetarkan. Jadi jangan pertentangankan perbedaan. Apalagi sampai dipertengkarkan. Indonesia adalah negara yang majemuk. Penduduknya terdiri dari ragam suku, agama dan budaya.


Sumber foto: Serambiminang.com

Jadi sejak dulu, bangsa ini memang terbiasa dengan perbedaan. Dan hidup damai dengan keberagamaan. Karena itu, ada Bhineka Tunggal Ika. Itu bukan sekedar semboyan. Tapi itu spirit dari bangsa ini, bahwa keberagaman bisa jadi kekuatan.


Sumber foto: jurnalmuslim.com

Nah, ada sebuah kisah inspiratif, tentang indahnya merawat keberagaman. Kisah ini tentang sosok ulama besar yang pernah dimiliki negeri ini, Buya Hamka.


Dalam buku Wisdom of Gontor yang ditulis Tasirun Sulaiman, terbitan Mizania, diceritakan bagaimana salah seorang pendiri Gontor, KH Imam Zarkasyi, mengagumi Buya Hamka. Kyai Zarkasyi dalam beberapa kesempatan sering mengulang salah satu kisah tentang Buya Hamka, ulama besar asal tanah Minang tersebut.


Kisah yang selalu diceritakan Kyai Zarkasyi kepada santri- santrinya di Pesantren Gontor, adalah kisah Buya Hamka saat menjadi imam solat subuh. Dikisahkan suatu waktu, Buya Hamka jadi imam solat subuh di sebuah mesjid yang mayoritas jemaahnya adalah kalangan Nahdliyin atau pengikut Nahdlatul Ulama (NU).


Saat mengimami itulah, para makmum yang berderet rapi dibelakang Buya Hamka, dibuat kaget. Buya Hamka ternyata membaca doa qunut. Bahkan dibaca dengan fasih dan lancar. Para makmum tak menyangka, seorang ulama yang notabene petinggi Muhammadiyah membaca qunut saat solat subuh. Awalnya para makmum mengira, Buya Hamka akan meluputkan doa qunut. Ternyata tidak.


Pelajaran yang bisa ditarik dari kisah Buya Hamka dan solat subuh di mesjid NU adalah,  betapa indahnya perbedaan yang ditegakan dengan sikap saling menghormati. Dan Buya Hamka mencontohkan itu dengan perbuatan.


Semoga bermanfaat



Powered by Blogger.