Sinta saat ditemukan Hanoman/Foto: Lukisan karya SM Pandit.

TERPIKAT oleh kecantikan Sinta, istri Rama, Rahwana nekat menculiknya. Akibatnya, Rahwana mesti bertarung melawan raja monyet Hanoman yang diminta bantuan oleh Rama. Hanoman menang dan berhasil menemukan Sinta. Saat ditemukan, wajah Sinta digambarkan putih bersinar bagai bulan purnama yang redup oleh kabut.

Sinta selalu diibaratkan dengan bulan dan digambarkan penuh kebaikan. Ketika aku lihat Ramayana, Sinta dipuji sebagai sosok yang cantik. Dia selalu digambarkan dengan hal-hal yang terang. Jadi perempuan yang didefinisikan sebagai cantik itu yang kulitnya terang, kata Luh Ayu Saraswati, dosen kajian perempuan Universitas Hawaii, menjawab pertanyaan Historia.

Bulan menjadi kiasan paling banyak digunakan untuk menggambarkan kecantikan perempuan. Dalam Ramayana, metafora bulan digunakan tiap delapan atau sepuluh baris dan paling banyak digunakan selain api dan matahari.

Bulan, tulis Ayu dalam bukunya Putih: Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional, juga dijadikan pembanding untuk menunjuk hal-hal yang memiliki warna putih, terang, dan bercahaya sekaligus menggambarkan perasaan positif.

Namun, gambaran kecantikan tidak pernah disampaikan dalam kiasan bulan sabit. Hanya bulan purnama yang digunakan untuk menggambarkan kesempurnaan, kecantikan, kulit putih, juga cemerlangnya seorang perempuan. Dalam kisah Ramayana, metafora ini menyiratkan sebuah rasa khusus seperti kecintaan pada perempuan cantik. Jadi kita selalu dibuat untuk merasa senang ketika melihat perempuan yang kulitnya terang seperti bulan. Kita jadi dibuat senang dengan dia. Karena cantik itu banyak versi tapi bagaimana rasa menjadi penanda bahwa putih itu cantik. Jadi yang kulitnya terang, bukan putih seperti orang Kaukasia, kata Ayu.

Warna putih sendiri ditampilkan sebagai hal yang diidamkan karena identik dengan kecantikan, kebersihan, dan kemurnian. Untuk memperoleh kulit putih dan cantik, perempuan dalam kisah Ramayana menggunakan serbuk sari pandan sebagai bedak wajah.

Jika tokoh baik digambarkan berkulit terang, putih, dan bercahaya, tokoh-tokoh jahat digambarkan berkulit gelap, menyeramkan, dan menyiratkan rasa negatif seperti yang terdapat pada diri para pembantu Rahwana.

Gambaran tentang warna kulit juga terdapat dalam tipologi perempuan Jawa kuno. Dalam Tafsir Baru Kesejarahan Ken Angrok, Suwardono menulis empat tipe perempuan dari yang paling tinggi: padmini, citrini, sankini, dan hastini.

Dari empat tipe itu, hanya dua tipe yang menggambarkan warna kulit, yakni padmini, perempuan berwarna wajah keemasan seperti bunga campaka; dan sankini, disebut berkulit sawo matang. Perempuan tipe hastini tidak dijelaskan warna kulitnya tapi hanya digambarkan pucat. Pucat dalam arti lesu, kusam, bukan penanda warna kulit.

Kulit terang sebagai hal yang didambakan dalam kecantikan perempuan Jawa kuno juga berkaitan dengan kasta. Ketika Sinta dan Rama akan berangkat ke hutan karena diusir dari istana, Sinta diminta untuk mengoleskan arang ke seluruh tubuhnya agar tak terlihat oleh rakyatnya sebagai putri raja.

Kalau kita baca Ramayana, kulit orang biasa, bukan orang kerajaan, lebih gelap dibanding putri raja. Jadi bagaimana cara kita mengasosiasikan yang cantik dan menarik itu yang putih juga berkaitan degan kastanya, kata Ayu.