Tulisan Dariku, Perempuan yang Lidahnya Selalu Kelu Saat di Hadapanmu

loading...

22 Februari 2017

Saat kita bertemu untuk pertama kalinya, aku masih serupa daun yang berserakan di bawah pohonnya. Ketika itu, aku masih berharap bisa kembali pada ranting yang ku peluk erat, bahkan ketika angin memaksaku lepas. Ku punguti lembar demi lembar yang masih bisa ku selamatkan. Ku biarkan beberapa yang membusuk–yang terlalu lama dibiarkan terinjak. Kita masih sebatas teman yang duduk di bangku yang sama, di kelas yang sama. Kamu terlihat samar, menyatu dengan mereka, bahkan tak nampak.

Aku sama sekali tak berniat untuk tertarik pada siapapun di ruangan itu. Bagiku kelas itu hanya ruang kosong dengan riuh nama yang tak bisa ku ingat jelas, cenderung hampa.

Hingga pada suatu waktu, entah bagaimana kita menjadi dekat. Aku tidak tahu bermula dari mana, atau sejak kapan kita menjadi sering berkirim pesan. Sapaan, pujian, pesan rindu hingga kita saling menyatakan rasa. Kamu memang bukan seseorang yang telah lama aku kenal. Kamu hanya seseorang yang tiba tiba hadir dengan membawa suasana menggelitik, lucu.

Yang aku tahu, cinta bukan tentang seberapa lama kita mengenal seseorang. Tapi tentang bagaimana kamu membuat bahagia sejak pertama kali saling mengenal.

Kamu adalah laki laki yang banyak diam.

Aku ingat saat pertama kali kamu mengajukan diri untuk menjawab soal dari dosen di depan kelas. Aku melihat ada keyakinan dibalik sikap diam yang selama ini tergambarkan. Dan aku menyukai kamu yang membuktikan diri, tanpa terlalu banyak berbicara tentang kehebatan diri. Aku ingat saat melihatmu pertama kali di lapangan menggiring bola. Aku suka sekali melihat rambut ringanmu yang naik turun ketika kau bawa berlari.

Kemudian aku melihatmu meneguk minuman yang ku berikan, sambil mengamati keringatmu yang ingin sekali ku seka dengan tanganku.

Aku juga ingat ketika kita menyusuri jalan Salatiga-Semarang berdua. Kamu yang justru tertawa melihatku ketakutan saat kau pacu motor itu begitu cepat. Aku ingin mengulanginya lagi, bercerita banyak hal sambil sesekali memukul pundakmu karena tidak melihat jalan.

Aku tidak tahu bagaimana, tapi bagiku, kamu adalah seseorang yang menyenangkan untuk diajak bercerita–tentang apapun– bahkan untuk hal sederhana seperti “aku ingin ke sana” atau “hari ini sarapan apa?”. Kamu seseorang yang–tanpa ku minta–bersedia mendengarkan hal hal tidak penting dari cerita ku setiap harinya.

Kepada kamu, laki laki yang kini bersamaku.

Mencintai kamu adalah sebuah pilihan. Kali ini sungguh aku tak sedang jatuh. Kamu adalah seseorang yang ku yakini sebagai jawaban atas doaku pada Tuhan. Ketika aku meminta seseorang yang membuatku bertahan saat hati membutuhkan sandaran. Ketika aku meminta seseorang yang baik, untuk diajak memperbaiki diri bersama.

Kamu adalah seseorang yang pada akhirnya, untuk pertama kalinya, membuatku bersedia menjalin ikatan.

Sebelum bertemu kamu, bagiku menjalin ikatan hanya akan mengekang.

Ketakutanku akan sebuah komitmen membuatku selalu nyaman akan kesendirian. Aku seseorang yang terbiasa melakukan apa apa sendiri. Ke mana-mana sendiri. Aku wanita mandiri yang penuh mimpi. Dalam hitungan tahun tahun ke depan, yang ku rencanakan adalah bagaimana mencapai mimpi. Umur sekian aku harus ke sini, umur sekian aku harus begini.

Sungguh, menikah belum ada dalam rencana hingga empat tahun ke depan. Aku masih ingin melanjutkan pendidikan hingga luar negeri. Bekerja di sana, mencapai karir di sana. Mimpi yang begitu tinggi. Namun ku beri tahu padamu sesuatu.. Mimpi-mimpiku menjadi berubah arah ketika bersamamu!

Kini, aku hanya ingin mencapai mimpi ini dan itu. Lalu tak ingin ke mana mana. Bersamamu, di manapun pasti terasa menyenangkan. Biarkan aku mewujudkan beberapa mimpi lagi, setelahnya aku akan mengabdi sebagai seorang istri.

Aku tidak punya apapun untuk ku berikan. Aku tidak menjanjikan apapun untuk kamu dapatkan. Yang terpikirkan olehku hanyalah bisa terus melihatmu tersenyum. Dan aku akan bahagia ketika bisa menjadi alasanmu tersenyum.

Kita pernah sama-sama terluka. Maka berjanjilah untuk tak saling melukai.

Luka yang tergores terlalu dalam, meski tak lagi perih, namun tetap saja membekas. Tapi percayalah, terkadang seseorang dihadirkan memang untuk menjadi pelajaran. Maka biarkanlah apa apa yang menjadi masa lalu, tersimpan rapat rapat dan menjadi milik masing masing. Lalu kita samakan langkah, menuliskan masa depan yang bersama sama akan kita bangun.

Comment dong...