Tentang Objektifikasi Perempuan dan Musik Dangdut. Para Cowok Datang Bukan Lagi Untuk Musiknya!

loading...

23 Februari 2017

Ada begitu banyak hal yang tak bisa dilepaskan di dunia ini. Beberapa di antaranya adalah malam dengan gelapnya, gula dengan manisnya, dan dangdut dengan goyangnya. Mungkin pernyataan yang terakhir punya kesan memaksa. Akan tetapi, pada kenyataannya, memang begitulah adanya.

Hentakan suara kendang, suara khas gitar yang mayoritas bermain di nada minor, dan bantuan alat musik tradisional lain, seperti seruling, plus suara merdu penyanyi yang memiliki cengkok, saling bersekutu untuk membuat orang yang mendengarnya bergoyang. Dangdut jelas berbeda dengan genre rock, yang patokan keberhasilannya adalah membuat pendengar berangguk-angguk. Lalu, kini yang menjadi daya tarik dangdut adalah goyangan seksi para penyanyinya. Apakah keindahan musik dangdut saja tidak cukup untuk membahagiakan hati para penggemarnya?

Dangdut, sebuah jenis musik yang tak bisa dipisahkan dengan tarian atau goyangan.

Goyang dan dangdut itu satu

Goyang dan dangdut itu satu via i.ytimg.com

Hanya segelintir jenis musik yang mampu membuat pendengarnya melakukan tarian atau goyangan. Maka tak heran jika ada orang yang menyamakan kata dangdut dengan “goyang”. Camelia Malik, penyanyi dangdut senior, tak ragu menyebut dangdut sebagai jenis musik yang unik.

“Dangdut itu hiburan yang bukan hanya kita dengarkan, tetapi penonton dan penikmatnya bisa masuk ke musiknya, bisa langsung berjoget. Dan itu otomatis. Kalau musik bunyi, orang pasti joget tanpa dipaksa,” tutur wanita kelahiran 22 April 1955 tersebut.

Tak ada aturan yang bisa mencegah para penikmat dangdut untuk menari dan bergoyang. Tak ada aturan langkah kaki, gerak tangan, hingga posisi tubuh untuk goyang dalam dangdut. Kontras dengan salsa, samba, cha-cha atau tarian sejenisnya. Itulah hal yang membuat penikmat dangdut lebih leluasa, merdeka dan percaya diri ketika bergoyang dangdut.

Umur dangdut memang belum genap seabad lamanya. Namun tak ada yang meragukan bahwa jenis musik inilah yang paling mampu disebut musik khasnya negara. Meskipun kemurniannya dipertanyakan akibat hasil sintesis dari musik India dan Melayu, akan tetapi stigma dangdut sebagai musik rakyat sudah terlanjur dikenal ke penjuru Indonesia, bahkan dunia.

Sebuah momen berjuluk “fenominul” jadi titik baru kehidupan dangdut. Banyak penyanyi menggunakan metode yang digunakan Inul

Inul membuktikan bahwa untuk sukses, ya, harus beda

Inul membuktikan bahwa untuk sukses, ya, harus beda via cdn.tmpo.co

Musik dangdut hari ini terlanjur mendapat tudingan miring. Ini terjadi akibat maraknya penyanyi-penyanyi yang lebih mengutamakan lekuk tubuhnya ketimbang suaranya. Dangdut sebenarnya tak harus diidentikkan dengan baju minim dengan suara nan mendesah-desah. Namun tren di masa kinilah yang makin mengentalkan dangdut dengan perbuatan seronok.

Lahirnya tren tersebut ditengarai disebabkan oleh seorang perempuan desa yang berubah jadi fenomenal di tahun 2002. Akibat goyangannya yang dianggap seronok, penyanyi tersebut bahkan sampai ditegur Rhoma Irama. Benar, dia adalah Inul Daratista. Bahkan, akibat fenomena tersebut, ada media yang pernah menamainya dengan “Fenom-Inul”.

Bukan tanpa halangan. Kisah kesuksesannya menjadi prahara di tahun 2003. Menurut Andre Weintraub, tubuh dan goyangannya saat mendendangkan lagu dangdut jadi titik api perdebatan tentang otoritas agama, kebebasan berekpresi, dan hak perempuan. Namun akibat eksposur tersebut tak membuat Inul jatuh. Kejadian tersebut malah melahirkan sebuah metode penamaan kekhasan.

Pasca Inul menamai goyangannya dengan “goyang ngebor”, muncul penyanyi-penyanyi lain yang melakukan hal serupa untuk meraih ketenarannya di jagat hiburan Indonesia. Sebut saja Uut Permatasari dengan “goyang ngecor”-nya, Annisa Bahar dengan “goyang patah-patah”-nya, Dewi Persik dengan “goyang gergaji”-nya, sampai Duo Serigala dengan “goyang dribel”-nya.

Dangdut dan obyektifikasi gender. Kini perempuan jadi objek utama pertunjukan dangdut

Kayanya susah cari penyanyi cowok yang punya goyang khas

Kayanya susah cari penyanyi cowok yang punya goyang khas via teguh212.weblog.esaunggul.ac.id

Berbicara soal dangdut, dewasa ini, kita tak bisa melepaskannya dengan perkara bernama gender. Keidentikan dangdut dengan perempuan sebagai biduan dan goyangan, membuat dangdut menjadi ruang menarik untuk berdiskusi wacana gender, objektifikasi perempuan, dan relasi kuasa atas tubuh.

Persoalan tentang gender memang sudah bisa jadi pembahasan menarik sebelum tren-nya di abad ke-21. Di sisi lain, lagu-lagu dangdut banyak sekali yang mengandung objektifikasi perempuan. Judul lagu Gadis Atau Janda, misalnya. Ia adalah satu dari banyaknya lagu yang menyinggung persoalan gender.

Namun seiring berjalannya waktu, terutama selepas tahun 2002, objektifikasi makin meluas dan mendalam ke ranah goyangan. Seperti sudah disampaikan sebelumnya, sosok Inul ‘lah yang jadi pencetus metode goyangan khas untuk meraih ketenaran. Benar, goyangan adalah sinonim dari dangdut, dan itu adalah dua hal yang tak bisa dilepaskan.

Goyangan khas yang diciptakan para penyanyi perempuan merupakan sebuah konstruksi yang syarat makna. Lebih dari sekadar struktur atau masalah estetika, melainkan juga ideologis, politis, sampai persoalan yang utama, yaitu ekonomi.

Sulit kita hindari bahwa pelabelan terhadap dangdut yang bagus saat ini tak hanya soal suara merdu dengan cengkok dangdut, melainkan lagu yang penyanyinya perempuan dan ada goyangan yang eye catching. Oleh karena itu, kesan dangdut dengan perempuan pun kini makin mengental. Kasarnya, dangdut adalah arena kekuasaan perempuan.

Kalau tak percaya, simak saja arti kata “biduan”. Kata tersebut sangat lekat dengan sosok seorang penyanyi perempuan, bukan? Padahal jika kita tilik secara harfiah, arti kata biduan adalah penyanyi yang berlaku lintas gender.

Soal upaya laki-laki agar bisa mengimbangi perempuan di arena tarik suara dangdut, haruskah penyanyi laki-laki menggunakan metode yang sama? Kalau mau dicoba, ya, silahkan saja. Tapi tetap saja, rasanya sulit. Paling yang masih bertahan sekarang, ya, cuma goyang barbel.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Comment dong...