Tanda-Tanda Sederhana dan Kasat Mata Kalau Kita (Sebenarnya) Mengalami Gangguan Jiwa. Hiii…

loading...

22 Maret 2017

Sebagian besar dari kita mungkin sepakat bahwa seorang psikolog ada untuk menangani orang-orang yang mengalami gangguan jiwa. Tanpa disadari, sebenarnya kita yang merasa normal dan baik-baik saja juga membutuhkan seorang psikolog untuk konsultasi. Ya, orang gila juga tidak sadar bahwa dirinya gila, dia akan merasa dirinya normal dan baik-baik saja. Kecenderungan yang seperti ini sebenarnya yang menjadi sebuah kesalahan besar di persepsi banyak pihak, merasa baik-baik saja padahal secara tidak sadar, dirinya sudah terseret kepada gangguan kepribadian yang berujung gangguan jiwa.

Ada sedikit perbedaan antara seorang psikolog dengan seorang dokter. Jika seorang dokter ketika pasien datang dengan segala macam keluhan yang ada, cukup menganalisa dengan seksama gejala yang terjadi pada fisik, lalu memberikan obat untuk kesembuhan pasien. Sedangkan seorang psikolog cenderung pasif, dia memberikan pengobatan tanpa disadari oleh pasien itu sendiri, dengan mengajaknya berbincang sang psikolog baru akan tahu gangguan kepribadian apa yang dialami oleh pasien itu.

Dan sebagian besar pasien kejiwaan merasa dirinya baik-baik saja, dan tidak mengalami gangguan kejiwaan sedikitpun. 

Karena biasanya gangguan kepribadian bisa tercipta dari kejadian-kejadian masa lampau seseorang, yang menyebabkan perubahan sikap. Kali ini saya ingin berbagi sedikit hal kepada kalian tentang beberapa hal sepele, namun ternyata itu adalah sebuah gangguan kepribadian. Hal ini jika dibiarkan dalam jangka panjang akan mendarah daging dan menjadi watak yang sulit dihilangkan. Akibatnya bisa sangat fatal, menganggu dirimu dalam bersosialisasi, meniti karir, dan menjalin hubungan.

Dari beberapa hal di bawah ini mungkin salah satunya kalian alami. Dan tandanya kamu butuh sedikit “penyembuhan” agar gangguan tersebut tak berlangsung lama. 

1. Takut yang berlebihan alias paranoid ternyata salah satu bentuk gangguan kejiwaan

Setiap orang memiliki perasaan takut, tapi segala hal yang berlebihan pasti tidak baik. Dan takut yang berlebihan pada seseorang menyebabkan gangguan kepribadian yang sering kita dengar dengan sebutan paranoid. Takut di sini bukan karena setan atau sejenisnya, namun gangguan kepribadian paranoid yang dimaksud adalah tindakan ketidakpercayaan kepada orang lain dan kecurigaan berlebih bahwa orang di sekitarnya memiliki motif jahat.

Mereka yang mengalami paranoid memiliki kecenderungan enggan memercayai orang lain dan cenderung menyalahkan mereka serta menyimpan dendam, meskipun kesalahan ada pada dirinya. Orang yang mengalami paranoid menjadi sangat pencemburu dan tanpa alasan dapat mempertanyakan kesetiaan pasangan atau kekasihnya. Orang yang mengalami gangguan kepribadian paranoid dipenuhi keraguan yang tidak beralasan terhadap kesetiaan orang lain atau bahwa orang lain tersebut dapat dipercaya.

Mereka dapat melihat dari sudut pandang negatif atau ancaman pada berbagai kejadian. Dan gangguan ini justru paling banyak dialami oleh kaum laki-laki dibandingkan kaum perempuan. 

Ada beberapa gejala dari seseorang yang mengalami paranoid, yaitu enggan untuk memaafkan karena dianggap penghinaan dan cenderung menjadi pendendam, sensitif terhadap hal-hal kecil, cenderung suka menyalahkan ke orang lain, selalu curiga bahwa orang lain akan menngkhianatinya atau menyakitinya, dan suka mengambil kesimpulan tersendiri terhadap perilaku seseorang kepadanya. Hal tersebut jika dibiarkan akan menjadi beban tersendiri dan akan mengganggu kelangsungan hidup orang yang mengalami paranoid.

Apabila tidak dilakukan penyembuhan, hal tersebut bisa seperti bom waktu dan menjadikan seseorang itu mengidap paranoid kronis, yang penyembuhannya bukan lagi hanya sekadar konsultasi, tetapi sudah merambah meminum beberapa obat.

2. Kamu yang suka malas, hati-hati ternyata itu bisa jadi tanda kamu mengidap gangguan mental

Semua orang pasti pernah mengalami situasi benar-benar malas melakukan aktivitas apapun. Hal ini wajar dan juga jadi salah satu sifat alami seseorang, apabila batas kelelahan yang dia rasakan sudah mencapai batas maksimal. Tapi faktanya, terlalu sering malas justru salah satu tanda kamu sedang mengalami gangguan mental loh. Rasa malas timbul disebabkan oleh hilangnya motivasi seseorang untuk mengerjakan sesuatu hal. Ini buruk jika berlanjut, karena akan merusak kinerjamu dalam segala aspek.

Malas itu termasuk dalam hal menolak tugas, tidak disiplin, tidak tekun, rasa sungkan, suka menunda sesuatu, dan mengalihkan diri dari kewajiban. Karena rasa malas, seseorang seringkali tidak produktif bahkan mengalami hal buntu, badan terasa lesu, semangat dan gairah menurun, ide pun tak mengalir. Dan itu bisa menjadi suatu penyakit ‘kronis’ jika tidak cepat diatasi.

Rasa malas bisa timbul dan menjadi sifat manusia, biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor, bisa orang tua, teman, lingkungan kerja, ataupun lingkungan sekitar. Rasa malas bisa timbul akibat suatu dorongan diri yang merasa kecewa karena apa yang dia lakukan tidak mendapatkan apresiasi atau tidak dihargai oleh lingkungannya. Biasanya timbul karena merasa apa yang dia kerjakan tidak sepadan dengan timbal balik yang dia terima. Dan karena hal tersebut tidak bisa tersampaikan, maka rasa malas menjadi pengganti rasa kecewa tersebut.

Hal ini lagi-lagi harus segera dilakukan penanganan yang cepat dan tepat agar tidak menjadi hal yang kronis dan sulit untuk disembuhkan. 

3. Terlalu perfeksionis bisa jadi tanda kamu mengalami salah satu gangguan kepribadian obsessive compulsive

Sebagian orang mungkin mengira sifat yang perfeksionis adalah suatu kelebihan, karena biasanya sifat detail dan tidak ingin ada kesalahan membuat sang perfeksionis menjadi andalan dalam beberapa hal. Tetapi ternyata perfeksionis itu bisa menjadi salah satu gangguan kepribadian yang biasa disebut Obsessive Compulsive. Orang dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif terlalu fokus pada kesempurnaan. Penderita gangguan ini biasanya memiliki kecenderungan harus melakukan segalanya “benar”, yang ternyata sering mengganggu produktivitas mereka.

Terlalu perfeksionis cenderung membuat penderita terjebak dalam hal yang detail, namun kehilangan gambaran yang lebih besar. Terlalu menetapkan standar yang tinggi, namun tidak masuk akal untuk diri mereka sendiri dan juga orang lain. Orang yang perfeksionis sangat kritis terhadap orang lain ketika mereka tidak hidup sampai saat ini dengan standar yang tinggi. Susah sekali untuk bisa bekerja dalam tim, percaya orang lain terlalu ceroboh atau tidak kompeten. Mereka menghindari membuat keputusan karena mereka takut membuat kesalahan dan jarang murah hati dengan waktu atau uang. Mereka sering mengalami kesulitan mengekspresikan emosi.

Hal ini tentunya akan memengaruhi kestabilan dalam hubungan apapun, karena cenderung menjadi orang yang sulit sekali memaafkan jika orang lain melakukan kesalahan, dan cenderung mengidap krisis kepercayaan kepada orang lain. Jika terus dibiarkan, akan membuat ketidaknyamanan bagi dirinya dan juga orang sekitarnya. Selain itu, mereka akan cenderung menjadi individualis dan enggan bersosialisasi.

4. Kamu yang moody-an jangan merasa baik-baik saja, bisa jadi itu juga salah satu gangguan kepribadian, hmmm

Suasana hati yang sering berubah-ubah atau yang biasa kita kenal dengan sebutan moody-an juga ternyata bisa menjadi salah satu tanda bahwa kita mengalami gangguan kepribadian loh. Khususnya pada wanita, moody-an seringkali menjadi senjata untuk pemakluman terhadap dirinya. Padahal jika diteliti lebih lanjut lagi, hal itu bisa jadi salah satu gangguan kepribadian yang kita miliki loh.

Hmmm, sebutan ilmiah buat gangguan kepribadian ini adalah Borderline personality. Hal ini menunjukan adanya ketidakstabilan dalam suatu hubungan, mood, dan citra diri (self-image). Borderline yaitu ambang, dikatakan ambang karena memang diketahui para penderitanya berada pada “ambang” psikosis, penderita gangguan ini mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi yang mereka miliki. Biasanya ini terjadi justru di atas usia 18 tahun.

Ciri-ciri gangguan ini bisa berupa sikap dan perasaan terhadap orang lain berubah-ubah dengan cepat dalam waktu yang singkat. Emosinya juga tidak teratur dan perubahannya tidak luwes. Sangat sensitif terhadap argumen orang lain dan mudah marah jika tidak sesuai dengan keinginannya. Cepat mengambil keputusan atas tindakan orang lain, yang sebenarnya justru karena si penderita tidak mampu berpikir yang jernih atas suatu masalah dan satu-satunya cara adalah menghindarinya, dan jika sudah akut si penderita bisa melakukan bunuh diri atas sikap pelarian dirinya dalam sebuah masalah. 

Dia yang moody-an cenderung memiliki hubungan personal yang tidak bertahan lama dan sangat singkat, serta kurangnya jarang melakukan evaluasi diri. Dan ternyata, moody-an itu bisa jadi awal gangguan kepribadian lainnya seperti paranoid, perilaku boros juga termasuk dalam efek samping dari sifat mood yang tidak stabil. Ternyata, masa lalu yang sering menerima perlakuan kasar dari sekitar, baik secara fisik ataupun verbal menjadi salah satu pemicu moody-an pada saat dewasa dan menjadi sebuah gangguan kepribadian jika tidak dikonsultasikan kepada ahlinya. 

5. Kamu yang sering mengalami insomnia, waspada mungkin kamu mengalami PTSD

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) adalah salah satu gangguan kejiwaan yang bisa membuat sifat seseorang berubah drastis dalam waktu singkat atau dalam kurun waktu yang cukup lama dari kejadian yang membuatnya trauma. Gangguan stres pascatrauma atau PTSD (post-traumatic stress disorder) adalah kondisi kejiwaan yang dipicu oleh kejadian tragis yang pernah dialami oleh seseorang. Contoh peristiwa traumatis yang bisa memunculkan gangguan ini adalah kecelakaan lalu lintas, bencana alam, tindak kejahatan seperti pemerkosaan atau perampokan, atau trauma akibat ditinggal mantan pacar nikah  orang tersayang meninggal. Gangguan ini biasanya berkembang oleh 30%-35% seseorang yang mengalami kejadian traumatis ini. 

Gejala yang timbul akibat gangguan kejiwaan ini adalah selalu mengingat detail mengerikan dari kejadian tragis atau sering mimpi buruk tentang kejadian tersebut, kecenderungan menghindari lokasi, orang, atau aktivitas yang mengingatkan dia tentang kejadian itu, pola pikir yang cenderung menjadi negatif terhadap diri sendiri, orang lain dan masa depannya yang berkaitan dengan traumanya. Perubahan emosi yang menjadi gampang uring-uringan, waspada berlebihan, insomia, mudah terkejut, dan takut. 

Sifat dan watak seseorang terbentuk akibat kumpulan yang didasari oleh aksi dan reaksi dari suatu hal.

Ketika dirimu menemukan hal-hal yang dijelaskan di atas, entah untuk dirimu sendiri atau orang lain. Jangan langsung melakukan penolakan ataupun judgement seketika, apalagi mengucilkan diri sendiri terutama orang lain. Artikel ini dibuat agar kita sadar bahwa tidak semua watak atau sifat seseorang terbentuk karena keinginannya, terkadang hal tersebut di luar kendalinya atau sebagai salah satu bentuk pertahanan dirinya untuk hal yang tidak menyenangkan di masa lampau.

Kita belajar melihat sudut pandang yang berbeda, agar tidak mudah menghakimi seseorang atas tindakan yang dilakukannya. Selain itu, juga belajar evaluasi diri sendiri. Dan kita belajar menyadari bahwa ternyata hal-hal kecil yang mungkin kita rasa adalah sifat yang wajar, justru bisa menjadi sebuah penyakit gangguan mental yang kronis jika tidak dilakukan penanganan segera.

Jangan ragu untuk konsultasi kepada terapis ataupun psikolog untuk memperbaiki gangguan yang terjadi, setidaknya mengurangi kemungkinan untuk menjadi lebih parah. Bercerita kepada orang yang tepat agar kamu juga mendapatkan kelegaan dan penanganan yang tepat, mungkin beberapa sifat negatif yang dimiliki terbentuk karena luka masa lalu dan bisa berangsur hilang jika kamu mengobatinya segera.

Jangan lupa dekatkan dirimu juga kepada Tuhan, agar kamu dikuatkan dengan segala hal yang kamu alami dan bisa menjadi pribadi yang kuat dan tetap menyenangkan.

Comment dong...