Saya Sedang Belajar Mencinta dengan Benar, dengan Terus Perbaiki dan Menyandarkan Diri

loading...

22 Februari 2017

Saya mulai mengerti dan sepenuhnya sangat mengerti. Tentang ini. Tentang perasaan yang tidak pernah seirama dengan logika. 

Kamu tahu bahwa debar-debar perihal cinta bukan hanya tentang ‘Kamu jatuh cinta lantas kamu tumbuh bersamanya’. Bukan!  Setelahnya, kamu dan saya akan mengerti ‘Sesungguhnya cinta adalah apa yang kamu perjuangkan dan akhirnya kamu menangkan bukan yang kamu paksa pertahankan dan pasrahkan.’

Sebenarnya tidak ada yang perlu dicari. Sebab kualitas dirilah yang akan mendekatkan pada kualitas diri yang tidak jauh berbeda. Sebuah jiwa yang sama pada akhirnya akan saling mengenali masing-masingnya. Bahkan tanpa kamu sadari pun, dia yang tidak kamu ketahui namanya, terus-terusan memperbaiki dirinya demi sang kekasih sejati dan demi teman pendamping di hidupnya.

Ya, dia yang mengharapkan pertemuan denganmu segera. Dan dengan harapan semoga.

Saya pernah salah mengartikan cinta. Saya juga pernah salah menjatuhkan cinta yang sesungguh-sungguhnya. Saya benar-benar pernah salah menerka bahwa dialah dermaga yang Tuhan maksud. Nyatanya dusta terbungkus indah.

Maaf, saya manusia dan saya akui pernah salah. Saya kira, kamu pasti merasakan hal yang sama. Saya harap setelahnya kita menjadi lebih memahaminya. Sekarang saya mengerti, untuk lebih memahami maksud Ilahi sesungguhnya. Ialah dengan berusaha memperbaiki diri. Berusaha memantaskan diri. Lebih. Lebih. Dan lebih.

Saya takut ketika belum pantas, Ilahi lebih dulu menjemput diri ketimbang dia yang sedang saya nantikan. Saya akhirnya menemukan, meski belum tahu apakah ini jawaban. Namun sangat yakin. Tanpa tuntutan. Inilah luas yang sebenarnya.

Saya tidak lagi harus berpura-pura telah berbahagia. Telah melepas. Tidak lagi. Setelah hati mengerti, setelah diri memahami bahwa dengan hanya menerima, dan membuka hati, bahagia sepenuhnya tercipta tanpa tergesa.

Senyum bisa kembali mekar. Hati telah menguasai ilmu ikhlas sesungguhnya. Tanpa beban. Tanpa kecemasan! Bahagia ternyata hadir setelah kamu menerima dirimu apa adanya dan membuatnya berharga.

Saya memang tidak pernah lagi merasa debar-debar rindu dan cinta. Tidak lagi. Debar-debar ini sekarang berbeda.

Kerinduan ini terasa jauh berbeda. Dan semuanya membuat saya lebih harus merendahkan hati dan diri untuk meminta. Saya sekarang bukan siapa-siapa tanpa-Nya. Saya tidak bisa apa-apa tanpa-Nya. Segala kejadian adalah skenario dari-Nya. Dan jika saya sendiri saja yakin akan janji-Nya yang pasti, kamu pasti akan memahaminya juga.

Saya tidak mampu menggenggam hati siapa-siapa. ‘Menggenggam hati yang bukan milikmu adalah kesia-siaan.’ Dan saya sedang tidak menggenggam jemari siapa-siapa. Saya hanya sepenuhnya percaya. Hanya sepenuhnya yakin. ‘Hati dan genggaman yang telah ditakdirkan menyatu akan saling menemukan, dan segera saling meyakinkan, tentu saling menyamakan langkah menuju rumah-Nya yang megah’.

Saya yakin bahwa kamu sekarang sudah sepenuhnya memahami. ‘Memintalah dengan penuh kesungguhan dan keyakinan akan terkabulnya keinginanmu.’

Jangan meminta Dia mengabulkan pintamu, tapi memintalah Dia memberimu pilihan-Nya. Sebab jika benar-benar menginginkannya, maka terbangun pada sepertiga malam-malam yang sunyi adalah kebahagiaan bagimu. Mengharap dengan doa-doa semoga. Yakin dan percaya, pilihan-Nya adalah terbaik.

Semoga segera saling menemukan dan berhenti mencari.

Comment dong...