Mirisnya Nasib Pejuang Devisa Indonesia. Setelah 3 Tahun, TKW Ini Baru Sadar Ginjalnya Telah Dicuri

loading...

28 Februari 2017

Miris, tiap tahunnya kita pasti mendengar betapa menyedihkannya nasib para pejuang devisa di tanah asing. Dari yang gajinya ditahan, disiksa, sampai dibunuh oleh majikan, penderitaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tampaknya tidak ada habisnya. Pemerintah kita juga bukannya tidak berbuat apa-apa. Pada tahun 2015 kemarin, pemerintah akhirnya memutuskan untuk menghentikan pengiriman TKI sektor informal seperti pembantu rumah tangga secara bertahap. Jokowi bahkan mencanangkan pemberhentian total di tahun 2018.

Belum juga rencana ini berhasil direalisasikan, kemarin kita dikejutkan dengan kisah Siti Rabitah. Menurut laporan TheJakartaPost, mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Lombok ini mengaku menjadi korban pencurian organ ketika bekerja di Qatar pada tahun 2014. Maksudnya? Ternyata sewaktu bekerja sebagai TKW, secara diam-diam ada oknum yang mengambil paksa sebuah ginjal Siti. Siti sendiri baru menyadari dan mengetahui kondisi tersebut setelah tiga tahun lamanya.

Bukan lagi korban penipuan, kekerasan fisik maupun seksual, ternyata tenaga kerja dari Indonesia tampaknya juga jadi korban perdagangan organ ilegal. Untuk meningkatkan kewaspadaan kita bersama, yuk simak bahasan Hipwee News & Feature dibawah ini.

Meski risikonya besar, menjadi pembantu rumah tangga di luar negeri masih jadi pilihan populer banyak lulusan SMP atau SMA di Indonesia. Termasuk Siti Rabitah

Gaji mata uang asing jelas lebih menggiurkan dibanding pekerjaan serabutan di Indonesia via www.thejakartapost.com

Niat awal semua orang yang menjadi TKW jelas ingin membantu perekonomian keluarga. Mencari uang di negara sendiri dirasa susah dan butuh perjuangan ekstra. Mungkin karena alasan itu pula Siti Rabitah, perempuan 25 tahun asal Lombok memutuskan untuk mencari nafkah di luar negeri sana.

Sejak tahun 2008 ia sudah memilih jalan sebagai TKW. Sebelum di Qatar, Siti bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi dan Malaysia. Berbekal pengalaman tersebut, Siti berangkat ke ibukota Qatar untuk kembali bekerja sebagai asisten rumah tangga pada tahun 2014. Meski telah mengikuti semua prosedur dengan benar dan terhitung punya pengalaman, Siti langsung menemui nasib malang beberapa hari setelah kedatangannya di kota Doha, Qatar.

Sial itu ia dapatkan di hari ketiga ia bekerja di Qatar. Baru bekerja di majikan pertama, ginjalnya sudah diambil paksa!

Siti menunjukkan rekam medis yang mengkonfirmasi dugaan ini via Tribunnews.com

Baru sehari bekerja untuk keluarga Palestina yang bermukim di Doha bernama Madam Gada, Siti Rabitah kemudian ditugaskan untuk merawat orangtua dari majikannya yang berada di tempat berbeda. Menurut Siti, “orangtua tersebut sakit-sakitan dan jalannya pincang”. Nah kesialan yang tak pernah ia duga bermula dari sini.

Siti Rabitah diajak ke rumah sakit oleh keluarga Madam Gada. Alasannya adalah untuk medical check-up karena fisiknya dinilai lemah. Dengan alasan melakukan operasi pengangkatan penyakit, Siti kemudian dibius total. Meski menolak, namun usahanya sia-sia. Setelah terbangun, Siti melihat banyak selang infus dan menemukan jahitan operasi di perutnya. Tidak lama setelah prosedur misterius tersebut Siti juga mengaku mengalami kencing darah.

Shock dan kebingungan setelah kunjungan medis yang tak terjelaskan itu, majikannya menghilang tanpa jejak. Siti akhirnya meminta bantuan penyalur TKI untuk dipulangkan ke Indonesia

Sudah jatuh tertimpa tangga pula via wartakota.tribunnews.com

Begitu keluar dari rumah sakit, Siti Rabitah kemudian dibawa ke kantor TKI Al Jazira karena majikannya langsung menghilang. Belum jelas juga sih detail mengenai rumah sakit yang mengijinkan praktik tersebut. Berniat meminta keterangan dan pertanggungjawaban dari majikannya, Siti Rabitah dan pengurus TKI asal Indonesia kemudian mendatangi rumah majikannya di tiga lokasi berbeda dalam waktu tiga hari berturut-turut. Sialnya majikannya sudah lari dan tak diketahui di mana rimbanya.

Ia kemudian dipindahkan ke majikan lain. Namun dengan alasan Siti Rabitah ‘tak bisa bekerja’, pada akhirnya ia dipulangkan ke Indonesia. Tak sampai disitu, dipulangkan pun ia tak sampai dibiayai ke kampung halamannya di Lombok. Ia hanya diantar sampai Surabaya. Hal terakhir yang ia bisa lakukan pada saat itu adalah melapor ke Kepolisian Surabaya. Itupun bukan karena kecurigaan terkait prosedur aneh yang dialaminya di rumah sakit Qatar, tapi karena dipulangkan dalam kondisi yang tidak jelas.

Selepas dipulangkan ke Indonesia, sejatinya ia masih bisa beraktivitas seperti biasa. Namun kondisinya lantas memburuk dan jadi sakit-sakitan. Sejak itulah timbul kecurigaan lain

Hasil rontgen menunjukkan kalau ginjalnya sudah tidak ada via tempo.co

Siti Rabitah tak pernah menyangka kalau ternyata organ dalam tubuhnya telah hilang. Pasalnya, aktivitasnya sekembali dari Qatar berlangsung normal. Hanya saja, kondisinya menurun dan jadi sakit-sakitan seiring berjalannya waktu. Barulah 3 tahun kemudian, tepatnya Februari 2017 ia memeriksakan kondisinya ke rumah sakit.

Dari hasil rontgen barulah ketahuan kalau ternyata satu ginjalnya sudah tidak ada. Barulah ada kejelasan dari kejadian aneh yang dialaminya pada Juni 2014 silam. Ia hanya bisa meminta bantuan pihak kepolisian dan pemerintah Lombok. Pihak kepolisian pun tengah mendata dan memeriksa pihak penampung hingga penyalur yang membawanya ke Qatar sana. Pemerintah juga seharusnya segera mengevaluasi penemuan baru ini. Bukannya tidak mungkin ada lebih banyak lagi korban seperti Siti Rabitah yang belum sadar bahwa dirinya jadi korban pencurian dan perdagangan organ tubuh.

Disamping menguak masih rentannya nasib para pejuang devisa kita, kejadian ini juga membuka mata kita akan bentuk kriminalitas lain yang perlu diwaspadai. Tidak hanya di Qatar seperti pengalaman Siti Rabitah, di Indonesia sendiri tahun 2015 kemarin telah terungkap sebuah sindikat perdagangan organ ilegal di sebuah desa di Jawa Barat. Menurut laporan Al Jazeera ini, sejumlah warga rela menjual ginjalnya seharga $5,000 atau Rp67 juta karena himpitan ekonomi. Pasar gelap perdagangan organ tubuh memang selalu menjamur ditengah tingginya kebutuhan medis pasien yang membutuhkan transplantasi organ. Apalagi kesadaran masyarakat untuk mendonasikan organ masih rendah, masalah ini benar-benar harus diwaspadai.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Comment dong...