Ketika Sebenarnya Cinta Tapi Gengsi. Ini Serius Soal Hati, Aku Harus Bagaimana Lagi?

loading...

2 Maret 2017

Orang yang jatuh cinta tanpa bicara, hanya menyerahkan hatinya di antara doa-doa yang mengudara, mungkin ia orang paling kaya di dunia. Dia menyimpan diamnya, yang menurut pepatah diam adalah emas. Dengan begitu, pastilah tidak lagi terhitung emas yang dimilikinya sebanyak apa.

                Kian lama, seiring tambah dewasanya manusia, ia akan sadar, menyimpan rindu pada seseorang yang tidak pernah tahu bagaimana hatinya. Untuk siapa perasaannya, sama tersiksanya dengan menimbun lemak dalam tubuh. Sesak.

                Anak kecil bisa tanpa berpikir, kemudian mendadak menyatakan perasaannya. Seiring bergantinya tahun dalam usia seseorang, untuk jatuh cinta saja perlu melibatkan logika, pemikiran yang mungkin sepanjang rel kereta api. Tapi cinta selalu tidak pernah bisa dimengerti akal pikir.

Semenjak sorot matamu dan bola mataku tidak lagi bertemu, sesaat kemudian terasa biasa, sangat biasa. Sekadar serupa kehilangan sesuatu yang kurang penting. Ku pikir, siklus kehidupan memang demikian, terjadi pertemuan, sedang sayang-sayangnya, kemudian belum sempat memberi sinyal, perpisahan datang tanpa kesiapan.

Sehari, sebulan, dan waktu selanjutnya.

Aku seperti berjalan tanpa tujuan.

Kehilangan kendali, rasanya ada yang hilang, namun dalam kondisi utuh.

Ah, iya.

Hatiku tertinggal pada saat terakhir kami berjumpa, hingga hari ini belum juga ketemu.

Kepada kamu yang masih bisa memeluk seseorang tersayang, berterimakasihlah pada Tuhan. Dia begitu baik tidak mengujimu lewat rindu.

Kepada seseorang yang teramat ku rindui, asal kamu sempat menyadari bahwa aku merindukanmu, sudah cukup meski tanpa balasan dan penjelasan.

Akhir-akhir ini, terasa rindu membuat kata-kata semakin beku. Orang bilang, obat malarindu hanya satu, bertemu. Tetapi, kembali lagi pada campur tangan Tuhan. Rasanya, jika aku tengah maju satu langkah, kemudian kamu mundur selangkah. Begitu sebaliknya. Kamu yang maju, aku kemudian malu-malu, lantas merasa lebih baik mundur.

Jadi, ini yang namanya cinta tapi gengsi? Rindu tapi malu?

Rindu itu ternyata kelabu. Berada di antara putihnya cinta yang enggan mengaku, tapi bercampur dengan hitam gengsi, sebab sama-sama merasa tidak percaya diri, menolak yakin pada hati sendiri.

Ada rindu yang tersemat dalam “Apa kabar?”

Aku yang saat itu mendapat pesan demikian darimu, seketika bertanya dalam batin, “Kamu sembunyikan di mana, gengsimu? Atau, pada hari itu kamu lupa membawanya sehingga mau menyapaku”.

Seketika keinginan mengembalikan waktu pada saat kita kerap bertemu, tapi malu-malu enggan mengakui dentuman aneh dalam dada masing-masing, menderuku. Namun, hendak berkata dan berbuat apa. Seolah takdir, waktu dan semesta telah mengambil bagiannya untuk kisah kami.

Keyboard, jari, dan pikiran kemudian bersahutan. Kalau aku boleh jujur, waktu itu gengsiku juga sedang kupinjamkan pada tetangga, jadi sempat ku balas pesanmu. Alih-alih menjawab, “Baik. kamu  apa kabar?” mestinya yang terkirim, “Aku juga kangen kamu”. Tipis, tapi sesal datang tak bisa ditepis.

Bahwa dua orang yang jatuh cinta, selalu hilang kendali dan mustahil bersembunyi di balik bisunya. Aku mengerti, kamu diam-diam menyimpan rasa yang tidak tahu boleh ku sebut cinta apa bukan. Sebentar-sebentar kamu melirikku, jauh sebelum kami berpisah, kemudian seolah membalas cerobohku akibat salah tingkah di depanmu. Kamu bicara di balik bola matamu. Aku juga mengerti, kamu sering mengkhawatirkanku, memperhatikanku lebih dari cuekmu yang kelihatan.

Kamu cukup begitu, dan biarkan waktu yang memberikan kesempatan. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Tetap mencintaimu, membiarkan gengsi sedikit menahan kita. Sebab, kalau kita terlalu memaksa Tuhan, nanti Dia menjauhkan.

Jadi…. Mulai hari ini, nikmatilah gengsi, cinta, dan rindu berbarengan mesti di tempat yang beda.

Barangkali, jika keberuntungan berpihak pada kita, cinta dalam diam yang selama ini bersemayam, membawa kita dalam kesetiaan. Karena rindu itu begitu menyiksa, dan boleh jadi pernah separah ini rindu, namun tidak juga bisa bertemu pelajaran berharga agar ketika kita bersatu, rindu sudah keburu bosan dengan kita, kemudian ia menyerah, memberikan waktu yang abadi untuk sekadar bertemu dan bertamu. Tetapi, selamanya bersatu.

Comment dong...