Jangan Salahkan Cinta Jika Kamu Pernah Terluka. Lebih Baik, Mari Introspeksi Saja!

loading...

8 Maret 2017

Anganku kembali pada siang hari 6 bulan yang lalu. Waktu pertama kali aku melihat sepasang mata yang indah, senyum yang menawan, dan wajah yang manis.

Aku terhenyak sejenak dengan keindahan yang ada. Aku tersipu melihatmu, ketika kau memberi senyum indahmu itu padaku. Ya Tuhan, inikah yang disebut bidadari yang orang banyak katakan? Aku hanya tertunduk malu saat itu. Sejak siang itu, aku merasa ada yang beda dengan hatiku. Aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi, ingin menjadi penikmat keindahan dari dirimu, dan ingin memilikimu.

Enam bulan sudah berlalu, aku kini berhasil mengenalmu lebih jauh. Aku berhasil menjadi penikmat keindahan dari dirimu. Yaa… Aku berhasil menjadi orang yang kau andalkan saat ini dan aku bahagia dengan keadaan ini, namun aku belum berhasil menjadikanmu milikku. Aku tak tahu siapa yang salah. Kau yang terlalu membuka diri atau aku yang terlalu berharap padamu? Pikiran itu kerap kali menghantuiku. Aku sadar bahwa kehadiranku hanya sebagai kerikil dihubunganmu dengan dia. Yaa… dengan dia, lelakimu. Aku memang tak tahu diri.

“Aku kini sampai di persimpangan, ketika aku harus memilih pergi atau tinggal”

Entah apa yang sebenarnya ku pikirkan. Aku tahu betul cintamu bukanlah untukku, namun hatiku sungguh tak mampu menepis bayangmu dari pikiranku. Aku begitu yakin dengan hatiku, yang kerap kali membawaku semakin jatuh cinta pada dirimu. Sampai-sampai aku tak peduli akan perih yang pasti akan ku rasakan, ketika kau akhirnya memilih dia sebagai pelabuhan hatimu. Aku bodoh karena cintaku. Aku biarkan saja cinta terus membawaku, karena cinta tak pernah salah.

“Cinta ku jadikan alasan untukku bertahan meskipun itu berujung perih karena aku yakin cinta takkan pernah salah”

Aku menikmati setiap waktu bersamamu dan tanpa ku sadari, aku semakin membawamu jauh dalam hidupku, hingga saat ini aku sulit untuk melupakanmu. Meski dari kau sendiri, tak sedetik pun kau mengingatku, malah justru kau kerap kali mencoba menolak diriku hadir dalam harimu. Aku hanya berharap, suatu hari nanti kau akan menyadari betapa cinta ini tulus dan satu. Hanya kau yang ku cinta, bahkan sejak pertama kali aku melihatmu.

Aku tersadar dari lamunanku, dan aku baru tahu kalau siang ini teriknya sama seperti enam bulan lalu, ketika pertama sekali kita bertatap. Hari itu seolah terulang kembali siang ini. Kini kau berdiri tepat di depanku. Tatapan mata indahmu tak berhenti membuatku jatuh cinta dan senyummu tak berhenti membuatku terpesona. Namun, aku melihat ada sesuatu yang berbeda dari tatapan dan senyuman itu. Mengapa matamu tak sepenuhnya indah? Mengapa senyummu tak selepas waktu itu? Ada apa dengan wanitaku ini? Perlahan kau berjalan mendekatiku dan kau bisikkan kata, “Maaf… Terima kasih… Selamat tinggal”.

Dan aku berbisik dalam hati, “Cinta tak pernah salah”.

Kau pun pergi meninggalkanku dengan sejuta harap. Aku tak bisa berbuat apapun, karena cinta telah membawamu padanya dan itu takkan pernah salah.  

“Putus ketika kita belum sempat untuk menjalin dan hilang sebelum kita sempat menemukan, hingga kini kita saling melupakan”

Comment dong...