Jangan Khawatir Tentang Perpisahan. Jika Pernah Mengalami, Kamu Akan Lebih Siap Lagi Untuk Mencintai

loading...

3 Maret 2017

Aku terdiam sejenak. Ketika menuliskan kembali sebuah kisah, aku harus berjuang kembali menahan perih, kala setiap ingatan memutar ulang peristiwa lalu.

                                                                                              ***

“Aku pikir pertemuan-pertemuan itu akan selalu seperti sebelum-sebelumnya. Dan memang benar adanya. Perpisahan datang sebelum kita sampai pada tujuan. Aku selalu sial perihal cinta, selalu saja usai sebelum sampai”. 

Aku pikir, sekarang mulai mengerti dan sepenuhnya mengerti. Tentang ini. Bahwa perjuangan perihal cinta bukan hanya tentang ‘Kamu jatuh cinta dan tumbuh bersamanya’. Bukan. Tetapi bagaimana kamu memperjuangkan dan menangkan, bukan yang kamu paksa pertahankan lalu pasrahkan.

Kita terlalu terburu-buru berlari, kita terlalu tergesa-gesa menafsirkan bahwa kisah ini akhirnya sampai. Ah maaf. Bukan kita, tapi aku. Aku yang terlalu tergesa-gesa menempatkan hati pada rumah yang aku pikir; selamanya.

Nyatanya? Setangkai mawar telah lebih layu di hati. Sekeping hati berantakan karnanya. Ya, aku sepenuhnya mengerti bahwa tidak ada yang perlu dicari. Sebab, kualitas dirilah yang akan mendekatkanmu pada kualitas diri yang tidak jauh berbeda denganmu. Setelah patah hatilah baru aku mengerti.

Sang waktu sama sekali belum berpihak pada jarak. Lagipula, waktu tidak pernah menyepakati apapun. Kita saja yang terlampau sepakat pada hal yang tidak pasti. Maaf, aku yang terlampau memberi beban pada waktu. Maaf, Aku salah.

Pada akhirnya, pertemuan kita hanya sekadar selingan pembuka bagi pertemuan lainnya. Barangkali saat kita bertemu dan berpikir telah memiliki cinta, rupanya pada akhirnya kita pun tetap dengan terpaksa harus berkemas dan pulang ke pelukan lainnya. Selamat, jika kamu telah beruntung bisa segera menemukan seseorang lain untuk dipeluk. Selamat, hatiku masih berusaha kembali terbentuk setelah remuk.

Aku memang tidak pandai mencintai dan tidak pandai memakimu yang meninggalkan jejak. Tidak. Menurutku, kenapa harus memaki dan membenci kamu yang pernah dilayani hati? 

Ya, maafkan jika ternyata aku lebih tidak pandai melupa. Bahkan, beberapa hari serta bulan setelah perpisahan itu, aku pun masih berharap agar perasaanku padamu hanya seperti jejak-jejak kaki di atas pasir pantai, yang kita tinggalkan lalu hilang saat gelombang datang. Nyatanya, tidak. Sialnya, aku. 

Kau terlalu erat menggenggam tanganku. Kau terlalu penuh saat mengisi ruang-ruang di antara jemariku dengan jemarimu. Kau tahu, aku memang tidak pernah mengatakan. Ah bukan. Aku malu mengatakannya, bahwa tanganmu selalu bisa membuatku gemetaran ketika sengaja atau tak sengaja menyentuhnya. 

Ah, sial sekali ingatan ini semakin penuh perihalmu.

Mereka cukup beruntung jika bisa dengan mudah kembali mencintai. Menurutku, aku juga tidak harus terburu-buru mencintai kembali. Walau mungkin tentang kisah ini, suatu hari akan berganti kisah. Tapi aku yakin pada suatu ketika hari-hari merekah. Di pertemuan nanti, sebuah pelukan akan membuatku lupa pernah berkisah tentang luka, sebab percakapan sederhana itu akan membuat ombak air mata membeku dalam tangis bahagia. 

Sampai saat ini, aku memang belum menggenggam hati siapa-siapa. Dan aku sedang tidak menggenggam jemari siapa-siapa. Sebab sekarang aku mengerti, untuk lebih memahami maksud Ilahi sesungguhnya, ialah berusaha memperbaiki diri, berusaha memantaskan diri. Lebih. Lebih. Dan lebih. Aku takut ketika belum pantas, Ilahi lebih dulu menjemput diri ketimbang dia yang kamu nanti.

Dan ya, aku hanya sepenuhnya percaya. Hanya sepenuhnya yakin. Bahwa hati dan genggaman yang telah ditakdirkan menyatu, maka akan saling menemukan, dan segera saling meyakinkan. Menyamakan langkah. Menuju rumah-Nya yang megah.

……

Pada suatu ketika jika tanpa sengaja kita bertemu, anggap saja kita adalah lelaki dan perempuan yang pernah sepakat mengakhiri kisah. Sepakat berdamai dengan luka.

Comment dong...