Jangan Jadi Radikal Hanya Karena Politik yang Dibumbui Agama, Wahai Sauadarku Se-Indonesia!

loading...

13 Maret 2017

Apa kabar saudaraku? Bagaimana kabarmu? Semoga baik-baik saja dan selalu dalam sertaan-Nya. Saudaraku yang baik, apakah akhir-akhir ini kau merasa terganggu oleh karena aku yang mungkin tak sepaham? Apakah kau mengganggapku sebagai pengkhianat? Apakah kau merasa aku bukan saudara sebangsamu lagi?

Baiklah saudaraku, mari kita duduk sejenak dan berbicara. Indonesia adalah negara besar saudaraku, jangan kau mengganggap hanya sebesar RT dan RW yang kau tempati, atau sejangkauan media sosial yang kau hinggapi. Indonesia ini luas saudaraku, banyak orang yang ada di bumi Indonesia ini, banyak macam orang, kebudayaan, ras, suku, dan agama yang mungkin berbeda dan mungkin asing bagimu.

Jangan kau menjadikan kepercayaanmu terlalu kuat, bahkan terlampau erat, sehingga kau mengajak semua orang untuk sepaham dan senada dengan warnamu. Ini bukan soal aku yang benar dan aku yang salah, tetapi soal bagaimana kau hidup bak orang yang percaya akan adanya kepercayaan, yaitu agama.

Indonesia adalah negara yang banyak masyarakatnya menganggap agama adalah tujuan utama dalam berkehidupan sosial, politik, dan melawan klenik, sehingga ini dimanfaatkan oleh sebagian orang yang berkepentingan untuk mendapat satu kursi yang empuk di ruangan ber-AC yang dinamakan gedung pemerintahan.

Akan tetapi, menggunakan agama dan ras sebagai tolak ukur apakah orang itu boleh atau tidak menduduki kursi itu, sehingga orang yang lain, yang tak sepaham akan merasa tersudut oleh hanya karena label “kau tak boleh menduduki kursi itu karena kau tak sepaham denganku”.

Dan mirisnya, kau membelanya mati-matian padahal kau ini tidak dibayar. Untuk apa? Aku yakin untuk kepuasan rohanimu bahwa kau adalah martir yang membela kepercayaanmu.

Saudaraku yang katanya sebangsa, kau lulus SMP kan? Apakah kau tak ingat bahwa dulu gurumu pernah menceritakan betapa heroiknya pahlawan memperjuangkan Indonesia untuk merdeka, tanpa memandang apakah kamu ini senada denganku? Apakah suaramu sewarna denganku? Tidak saudaraku.

Mereka para pahlawan memperjuangkan Indonesia dengan bersatu, bukan membatu, bukan berkata “INI INDONESIAKU! BUKAN INDONESIAMU YANG BERWARNA UNGU! ATAU BIRU SEPERTIMU!”. Tidak. Tapi mereka bersatu dan berkata “AYO SAUDARAKU, NUSANTARA INI MILIK KITA!”.

Lantas mengapa kamu masih menanyakan apakah kamu senada denganku? Padahal para pendahulu kita, mereka saling membahu untuk membangun bangsa. Saudaraku yang baik, untuk urusan berkewarganegaraan tentu aku senada denganmu, yaitu kita adalah Indonesia, bukan kamu Indonesia hijau sedangkan aku yang cokelat. Ayolah saudaraku sadarlah, jangan kau memaksa saudaramu yang lain mempercayai pahammu padahal aku sudah memiliki paham sendiri, dan kau lantas marah-marah, membakar semua rambutmu agar orang tahu bahwa aku ini orang yang dungu karena aku adalah beda denganmu.

Saudaraku, presiden kita yang pertama terpilih oleh karena kepemimpinannya dalam organisasi yang dipimpinnya, dan ide, serta karyanya bagi bangsa ini. Bukan karena Pak Karno adalah orang Jawa atau Sumatera, tapi karena beliau memang pantas karena jasanya pada negeri ini, dia mencetuskan Pancasila yang menjadi dasar negara kita ini.

Memang dulu bukan seperti ini pancasilanya, tapi para pendahulu kita menyetujui yang kini, karena yang dulu, pancasila terkesan milik satu warna, padahal Indonesia adalah banyak warna, Bhinneka Tunggal Ika.

Saudaraku, masa kini bukan masa penjajahan lagi, akan tetapi mengapa pemikiranmu masih terjajah oleh karena kita beda pendapat dan beda cara pandang tentang agama dan politik?

Aku beri tahu satu hal wahai saudaraku, tentang satu prinsip yang kupegang dalam hidupku untuk urusan yang kau ributkan, yaitu beragama dan berpolitik.

Begini, agamaku ya adalah agamaku, bukan agamamu, agamaku hanya untukku dan Tuhan saja yang cukup tahu apakah aku orang yang beragama dengan baik atau tidak, mengapa demikian? Karena aku percaya, jikalau aku ini hidup dengan senada, dengan ajaranku, dengan komposisi dan takaran yang pas, aku akan dianggap oleh Tuhan sebagai orang beragama yang baik.

Tak perlu kau berkeringat untuk berdebat agar kau dipandang sebagai seorang yang taat akan beragama, dan saling menerakakan karena orang lain tak sepaham agar kau terlihat heroik dan ikonik di mata manusia. Aku percaya bahwa semua kepercayaan mengajarkan hal yang baik dan tidak ada yang buruk. Kasih sayang terhadap makhluk lain seperti binatang, apalagi terhadap manusia?

Pasti itu semua diajarkan oleh kepercayaanmu atau kepercayaanku. PASTI! Dengan takaran yang pas dan komposisi yang tepat tentunya, karena Tuhan tahu semua yang berlebihan akan mengakibatkan keburukan, seperti kelebihan rinduku dan rasa cintaku kepada kekasihku misalnya.

Saudaraku, hal yang kedua yang kupegang adalah jika kau tak terjun ke dalam dunia politik, maka ya sudah biarkan politik itu berjalan sesuai intrik yang dilaksanakan oleh yang bersangkutan. Jangan kau ikutan hanya karena politik yang kau dukung dan kau pegang mengusung atas nama kepercayaanmu, lantas kau heroik membelanya dan bahkan yang paling kubenci adalah saat kau mulai memandang orang-orang yang tak sepaham denganmu adalah orang kafir, orang tidak benar, orang murtad, orang hina. Bahkan, kau menganggapnya sebagai binatang yang tak sederajat denganmu.

Orang-orang berkepentingan, mereka akan selalu menggunakan cara agar ia bisa duduk di kursi empuk itu dengan membuat sesuatu yang tidak benar tentang pesaingnya yang tidak sepaham. Dan kau adalah sasaran empuknya agar kau menyebarkan “pesan moralnya” kepada sesamamu, agar orang yang kau pilih menjadi penguasa yang sesuai harapanmu, kau membelanya mati-matian dan padahal kau tidak dibayar, dan dia yang kau pilih tidak akan mengunjungi rumahmu, membawakan sekompi truk berisi struk ucapan terima kasih.

Berpolitiklah secukupnya dan sewajarnya saja, jangan jadikan itu hal pokok masalah hidupmu.

Bukannya aku membela kaum A atau kaum B. Akan tetapi, aku membela moral yang kini sudah terinjak-injak hanya karena hal semacam itu sobat. Kita menjadi orang yang radikal dan seolah kita adalah makhluk paling bermoral dan yang lainnya tidak sama sekali. Kau menyebarkan pesanmu dengan media sosial yang kau punya, grup-grup chatting yang kau gabung di dalamnya, dan cerita radikal yang kau tanamkan pada orang yang lebih awam darimu agar dia ikut berjuang denganmu.

Duh Gusti, aku sudah capek dengan drama ala FTV seperti itu. Sudahilah saudaraku, cukuplah, karena kita itu sebangsa yang beraneka warna dan beraneka suku dan budaya, bukan hanya hijau, cokelat, kuning, jingga, dan lainnya. Tapi beraneka warna yang bersatu itu menjadikan Indonesia ini lebih indah dan berwarna.

Saudaraku yang baik, semoga kau selesai membaca ini sadar bahwa kau ini adalah orang berkepercayaan dan ber-Tuhan. Jadi, lakukanlah perintah kepercayaanmu dengan takaran dan komposisi yang pas, bukan dengan takaran yang berlebihan, seperti cintaku pada kekasihku yang berlebihan, yang membuat dia tidak nyaman dan gelisah.

Tak perlu juga kau campur adukkan kepercayaanmu dengan politik yang kau pegang, padahal kau ini bukanlah orang yang akan bertarung di dunia politik, melainkan kau adalah makanan bagi mereka yang berdansa di panggung politik, agar mereka semakin kenyang dan besar perutnya.

Salam.

Comment dong...