[INDONESIA MEMANGGIL] Memperbaiki Sikap Sebagai Generasi Milenial di Zaman yang Serba Gila Ini

loading...

20 Maret 2017

Halo sahabatku, apa kabar?

Pernahkah kita membayangkan keringat dan darah para generasi pendahulu kita saat memperjuangkan kemerdekaan? Atau pernahkah kita berpikir bagaimana Indonesia kita yang seluas ini bisa bersatu? Mungkin kita hanya tahu semua cerita itu dari buku pelajaran atau cerita kakek nenek kita.

Sahabat, saat aku menulis surat ini, tidak sedikit pun terbersit keinginan untuk menjadi sok pintar atau sok tahu. Aku hanya ingin, agar kita sedikit merenung dan kemudian bersikap. Sebagai generasi bangsa yang hanya menikmati segala jerih payah pendahulu kita, sudahkah kita berkontribusi kepada negara tercinta?

Aku tidak sedang berbicara tentang berapa jumlah “like” atau “share” yang kita bagikan di akun Facebook atau Twitter kita. Aku juga tidak berbicara tentang komentar-komentar serta foto jelajah Indonesia dalam postingan Instagram. Aku berbicara mengenai aksi nyata apa yang sudah pernah kita lakukan untuk Indonesia.

Sahabat, sudah selayaknya kita patut bersyukur. Dulu, kakek dan nenek kita harus bersusah payah untuk merebut kemerdekaan. Perjuangan yang tak mungkin bisa kita bayangkan ini, merupakan hasil rasa cinta mereka terhadap bangsa Indonesia. Dan sekarang, kita menikmatinya dengan cuma-cuma.

Kita tak perlu lagi mendengarkan suara tembakan atau tangisan anggota keluarga yang hilang akibat perang. Kita tak perlu mendengar teriakan anak kecil yang mencari ayah ibunya, yang entah kemana di medan pertempuran. Namun, perjuangan kita juga tak kalah berat.

Sahabat, kita dikenal sebagai generasi milenial. Generasi yang sejak lahir sudah mengerti TV, telepon atau komputer. Kita adalah generasi yang disebut sebagai generasi dinamis. Dengan segala perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, sudah selayaknya kita harus mampu untuk lebih berkontribusi dibandingkan para pendahulu kita.

Sayangnya, banyak dari kita yang justru lebih memihak pada kebencian dan hal negatif. Berapa kali berita hoax kita sebarkan? Berapa kali makian yang kita lontarkan dalam media sosial? Dan seberapa sering kita mengumpat atas apa yang terjadi di sekitar dan menyalahkan orang lain? Negara ini tidak butuh generasi penyebar kebencian dan komplain tanpa sumbangan solusi.

Sahabat, kita ingin Indonesia menjadi besar, tapi umpatan negatif yang selalu kita lontarkan. Kita ingin pendidikan maju, tapi membaca buku berkualitas sangat jarang kita lakukan. Kita ingin bangsa ini menjadi sehat, tapi sampah saja kita buang sembarangan.

Negara ini tidak selalu butuh kontribusi besar layaknya jaman dahulu.

Negara kita tidak butuh kita maju perang atau menyumbang berjuta-juta rupiah agar berkembang.

Bangsa ini perlu kontribusi nyata dari kita, apapun itu. Bagi yang bisa memasak, buatlah masakan untuk mereka yang membutuhkan meski hanya sesuap. Bagi yang bisa mengajar, ajari mereka yang kurang beruntung untuk bisa membaca dan berhitung. Bagi mereka yang pandai melawak, buatlah orang lain tersenyum dan tertawa positif. Bagi yang bisa menulis, buatlah tulisan yang mengajak pada kebaikan dan menginspirasi orang lain. Bagi yang bisa bermain musik, alunkanlah ritme indah untuk sekitarmu.

Buatlah perubahan positif sekecil apapun, karena sesungguhnya itu semua akan jauh lebih bermakna dibandingkan dengan menyebarkan kebencian.

Sahabatku, tidakkah kita capek dengan segala permusuhan ini? Jika memang kita tidak berkenan membuat perubahan, setidaknya kita tak perlu menambah permasalahan yang ada. Aku sangat yakin, suatu saat nanti kita akan mampu membawa kebanggaan bagi negeri ini.

Lihat di sekelilingmu. Temukan masalah yang ada dan mulai pikirkan bagaimana kita bisa menjadi bagian dari solusi masalah tersebut.

Sahabat, Indonesia perlu kita. Indonesia memanggil kita. Tidakkah kita mendengar teriakan minta tolong? Sekaranglah saatnya kita bangkit dan segera memulai. Karena kalau bukan kita, siapa lagi yang akan membantu Ibu Pertiwi?

Ku tulis surat ini sembari membayangkan, berapa banyak kebaikan yang bisa kita ciptakan jika kita mampu dan mau bergerak maju?

Dan kemudian aku tersenyum karena aku tahu, kita memiliki tujuan yang sama. Indonesia yang berjaya. 

Dari sahabatmu,

Kunto Nurcahyoko

Ngabang, Kalimantan Barat

5 Maret 2017

Comment dong...