Diilhami dari Kisah Nyata, Komitmen LDR dan Rindu di Ujung Senja Kalimantan

loading...

24 Maret 2017

Sudah lima bulan semenjak aku melangkahkan kaki untuk kembali ke perantaun, dan lima bulan juga aku harus berjuang melawan rindu. Oh maksudku kita, kita bersama-sama berjuang melawan rindu, sama-sama berjuang menepis sepi. Seberapa berat beban rindumu hari ini? Masih cukup kuat kan untuk menahannya? Pejamkankanlah matamu yang sayu itu, dan mari kita sama-sama berkhayal tentang sesuatu yang indah. Saat aku pulang nanti (lagi).

Semua ini hanya sementara saja.. Mendekatlah sayang biar kupeluk bayangmu dari kejauhan, biar kita tuntaskan perihal rindu ini dari khayalan. Bukankah kita sudah berjanji untuk saling  menjaga dalam keterjagaan kita. Bukankah kita sudah saling komitmen untuk setia pada apa yang telah kita mulai, kita akan berjalan bersama sampai sebuah titik. Jika kadang langkah kita tersendat amarah, maka dengan besar hati berilah aku maaf. Sayang…cerita kita itu seperti papan keyboard yang aku sentuh sekarang ini, saat ada spasi diantara kita itu hanya sebuah jarak yang akan dengan mudah dihilangkan dengan tombol Bakcspace. Seperti yang kita jalani sekarang ini, jarak ini kelak akan hilang. Aku janji. Cerita kita harus tetap banyak komanya ya, yang selalu menjadi irama dalam setiap paragraf tanpa harus terhenti bercerita.

Ku dengar suara dari kejauhan lewat hp kecilku. Iya..suara manja dari seberang sana (tempat yang sangat jauh) dan seperti biasa suara merdu senandungmu lirih namun menusuk. Seperti biasa kamu juga tak lupa bertanya “kapan kamu pulang? ” dan di sini dari kejauhan aku hanya bisa bergumam lirih ” sabar ya..maaf aku belum bisa datang menemuimu (lagi)” .

Aku tahu apa yang sedang kita jalani sekarang, sebuah hubungan yang kalau orang mencibir ini adalah kesia-siaan saja. Hubungan yang karenanya kita harus mampu setiap detik membunuh rindu, yang dengan tega kita melawan itu semua. Tapi bukankah itu semua bukan masalah? Di saat hati memang benar-benar komitmen, dan di saat hati berjanji untuk tidak “bermain” dengan hati yang lain. Sebenarnya bukan LDR-nya, karena banyak cinta yang satu kampus akhirnya putus. Cinta di satu gang, akhirnya juga hilang. Entah seperti apa yang ada sekarang, dan seperti apa cerita yang kita lalui semoga semuanya akan bermuara kepada keindahan.

Menuju hari dimana aku pulang untuk mengetuk pintumu dan kali ini bertatap langsung seraya aku mengucap “hai..”. Bukan lewat line atau BBM, tapi hari dimana kita bisa saling memandang dan menatap. Apakah hatimu ingin menyerah? Aku harap tidak dan jangan pernah kalah oleh jarak ini. Karena aku tau ketika kita sama-sama saling menguatkan itu semua terasa hambar tanpa sebuah pelukan, tapi percayalah kesetiaan dan komitmen tidak semurah itu untuk menyerah. Dan tidak segampang itu bisa di kalahkan oleh rindu.

Aku tau hanya orang tertentu yang bisa dan mampu memilih untuk menjalani sebuah hubungan dengan melawan jarak. Hanya orang “pilihan” yang mampu membunuh rindu sembari menunggu pasangannya datang bertamu (lagi). Dan aku harap kita adalah salah satu dari mereka, salah satu dari sekian banyak cerita LDR yang bermuara pada keindahan. Selama kita masih menatap langit yang sama, berarti kita masih di tempat yang sama pula. Bertahanlah kasihku.

Comment dong...