4 Alasan Istilah ‘Mudik ke Jawa’ Itu Salah Kaprah Tingkat Dewa, Terlebih Kalau dari Orang Jakarta

loading...

23 Februari 2017

“Lebaran pulang ke Jawa nggak nih? Dari Jakarta kamu naik apa? Jangan lupa bawa oleh-oleh yaa!”

Jawa. Pulau Jawa. Tentu tak perlu dijelaskan lagi bila pulau terpadat di Indonesia ini terbagi menjadi 5 daerah administratif: Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Namun, selama ini kita biasa saja kalau mendengar orang Jakarta menyebut Jogja sebagai Jawa. Orang Jawa yang lama merantau ke Jakarta pun sering ketularan dan bilang ‘mudik ke Jawa’ untuk menyebutkan kata pulang, alih-alih nama kotanya langsung. Berbeda ketika orang Jawa Barat mau mudik. Dengan tegas mereka menyebut ‘mudik ke Tasik’, atau ‘balik ke Sukabumi’.

Tidak hanya di Jakarta, warga beberapa kota besar di Jawa Barat pun tampaknya memiliki kebiasaan yang sama. Seolah-olah pulau Jawa terbelah lautan, yang memisahkan Jawa Barat dan Jakarta dengan provinsi-provinsi di Pulau Jawa lainnya. Kenapa sih orang Jakarta dan Bandung menyebut Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jogja sebagai ‘Jawa’? Memangnya kamu tidak tinggal di Pulau Jawa? Buat kamu yang penasaran, Hipwee sudah merangkum beberapa alasan yang mungkin. Yuk cus!

1. Istilah ‘Jawa’ merujuk pada suku. Memang sebagian besar suku Jawa mendiami wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jogja

Tanah Pasundan

Kalau Jawa Barat terkenal sebagai ‘Tanah Pasundan’ via www.goodnewsfromindonesia.id

Menurut sejarahnya, pulau Jawa terbagi menjadi dua wilayah yaitu tanah Jawa dan tanah Pasundan. Jika dirunut ke garis sejarah maka kita akan kembali ke era kerajaan Majapahit dan kerajaan Pasundan, yang terbelit tragedi. Pernikahan Prabu Hayam Wuruk (Raja Majapahit) dengan Dyah Pitaloka (Putri kerajaan Pasundan) gagal total. Keluarga mempelai wanita justru menemui ajalnya di Lapangan Bubat. Karena sejarah ini juga, konon ada mitos bahwa orang Jawa dan Sunda tidak bisa bersatu.

Berdasarkan perbedaan budaya dan suku, istilah Jawa yang disebut saat mau mudik barangkali merujuk pada nama suku. Memang dari segi demografinya, suku Jawa banyak mendiami Jawa bagian timur dan tengah. Sementara suku Sunda banyak mendiami Jawa bagian barat. Sementara Jakarta yang secara geografis lebih dekat dengan Jawa Barat dan Sunda, ikut-ikutan menyebut wilayah timur dan tengah sebagai tanah Jawa.

2. Jakarta menjadi titik temu orang dari seluruh penjuru indonesia. Saking pluralnya masyarakat kota metropolitan melatarbelakangi munculnya kebiasaan melihat Jawa sebagai entitas berbeda

Jakarta tempatnya bertemu segala latar belakang manusia

Jakarta tempatnya bertemu segala latar belakang manusia via twitter.com

Sebagai ibukota, Jakarta adalah miniatur sesungguhnya dari keberagaman Indonesia. Orang-orang dari daerah berbondong-bondong datang ke ibu kota untuk mencari peruntungan. Mungkin karena itu juga, si Kota Metropolitan menjadi titik temu dari berbagai penjuru Indonesia sehingga menciptakan pluralitas tingkat tinggi. Kamu bisa menemukan orang Jawa, Sunda, Betawi, Manado, Toraja, Tionghoa, dan suku-suku lainnya di Jakarta. Keberagaman yang luar biasa ini agaknya menjadi identitas terbaru untuk orang-orang Jakarta. Sehingga Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jogja yang didominasi oleh orang Jawa, menjadi satu dunia yang berbeda.

3. Sama-sama penduduk Indonesia, kesenjangan antara kota-desa merupakan realita tak terbantahkan. Tidak bisa dipungkiri, istilah ‘Jawa’ juga melambangkan strata sosial yang lebih rendah

Kesenjangan sosial yang tinggi

‘Jawa’ identik dengan daerah pedesaan dan daerah tertinggal. via bpunjombang.wordpress.com

Kalau mau berprasangka buruk, bisa jadi perbedaan fasilitas dan kesenjangan sosial yang menciptakan istilah ‘Jawa’ bagi sesama penghuni pulau Jawa. Ya tidak perlu diragukan sih bila fasilitas di Jakarta jauh lebih memadai daripada kota-kota lainnya. Perputaran ekonomi pun lebih cepat di Jakarta. Sementara Jakarta sudah asyik-masyuk dengan sinyal 4G, di beberapa kota kecil lain sinyal 3G saja masih empot-empotan. Kesenjangan sosial dan gap sarana-prasarana hidup ini-lah yang mungkin melatarbelakangi berkembangannya penggunaan istilah ‘Jawa’ untuk wilayah Jawa yang tidak sesuperior ibukota. Mereka yang hidupnya dimudahkan dengan berbagai fasilitas, tentu ogah disamakan dengan yang fasilitasnya masih terbelakang.

4. Sisi positifnya, Jawa yang dianggap sebagai entitas berbeda dari Jakarta, juga mengisyaratkan kekentalan budaya. Warisan lokal yang senantiasa terjaga

Perayaan Grebeg Syuro

Perayaan Grebeg Syuro via foto.persma-agrica.com

Soal kesenjangan sosial dan fasilitas memang fakta. Tapi lebih baik kita positive thinking saja. Mungkin orang yang tinggal di Jakarta melihat wilayah timur dan tengah Jawa sebagai wilayah yang kental budayanya. Di Jakarta, pluralnya masyarakat dan kehidupan modern yang serba cepat membuat budaya lokal sedikit demi sedikit mulai terkikis. Sementara di wilayah Jawa bagian timur dan tengah, kebudayaan lokal warisan leluhur masih terjaga dengan baik. Sehingga Jawa, menjadi tempat pulang ke kehidupan yang tenang dan damai, jauh dari ingar-bingar kota yang berisik.

Namun terlepas dari semua alasan di atas, sebenarnya menyebut mudik ke Jawa tentulah kurang tepat. Apalagi jika benar-benar ingin merujuk nama tempat. Istilah mudik ke Jawa ketika sebenarnya kamu sedang berada di Jakarta justru sejatinya terdengar sedikit bodoh. Tak ada salahnya lho kalau menggunakan nama tempat atau kota yang tepat. Selain secara tidak langsung memperparah sentimen perbedaan dan kesenjangan sosial, ya sebaiknya salah kaprah yang selama ini dibiarkan saja ini diluruskan sedikit-sedikit ya….

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Comment dong...