Ads Top

True Story! Begini Cara Napi Berduit Puaskan Hasrat Birahi Dalam Bui


Hidup di penjara seperti di neraka. Begitu perumpamaan yang sering didengar. Tapi, bagi orang kaya, atau berduit, meski telah dibui, tetap bisa menikmati kesenangan duniawi. Termasuk dalam memuaskan hasrat birahi dalam bui.


Sumber foto: terselubung.in

Mendiang Ahmad Taufik, mantan wartawan Tempo dalam bukunya Penjara The Untold Stories, merekam bagaimana tahanan atau napi tetap bisa memuaskan birahi dalam penjara.


Lima perempuan tinggi semampai, cantik dan seksi langsung masuk menuju sebuah ruangan di pojok dalam lembaga pemasyarakatan Cipinang, begitu yang dituturkan almarhum Ahmad Taufik, dalam bukunya.
Ahmad sedang bercerita tentang sisi lain kehidupan di penjara. Salah satunya cara para napi atau tahanan memuaskan hasrat birahinya di dalam bui. Ahmad, mendengar kisah napi melakukan pesta seks di dalam sel dari seorang tahanan yang dikenalnya saat dia ditahan di sebuah rumah tahanan karena menentang rezim Orde Baru.


Para perempuan itu menuju ruangan seorang narapidana kasus perbankan yang menempati ruang bekas terpidana politik gerakan 30 September 1965, kata Ahmad di bukunya.


Sumber foto: Liputan6.com

Menurut Ahmad, siapa bilang tak bisa memasukan wanita penghibur dalam sel. Asal punya duit, semuanya bisa diatur, termasuk menyelundupkan wanita penghibur dalam sel demi memuaskan birahi.


Malam itu- menurut teman sekamar sang bankir, seorang pembunuh polisi- ada pesta. Apalagi kalau bukan pesta seks, kata Ahmad.


Saat birahi memuncak, tinggal menghubungi mucikari, pemuas hasrat pun segera dikirim. Tentu bukan gratis. Apalagi dalam penjara. Ada fasilitas, ada biaya. Mirisnya lagi, bisa menggelar pesta sex, berhubungan intim rame-rame.


Ada empat lelaki dan lima perempuan, sang bankir kebagian dua. Pesta lengkap mulai dari minuman keras, narkoba, sampai obat kuat. Para perempuan itu dipasok seorang mucikari yang sempat di tahan di LP Cipinang, tulis Ahmad di bukunya.


Sumber foto: Cityvariety.com

Praktek miring dalam penjara, memang sering kita dengar. Tapi, selama ini hanya sayup terdengar sebagai kabar burung. Hanya katanya, katanya. Hanya konon dan kabarnya. Tapi buku yang ditulis Ahmad Taufik, seakan membuka tabir, bahwa itu bukan gosip dan kabar burung. Tapi benar-benar terjadi.


Buku Ahmad sendiri, merupakan catatan pribadi mantan wartawan Tempo itu selama ia diterungku dalam penjara. Banyak kisah menarik, bahkan mengagetkan yang diungkap Ahmad dalam bukunya itu. Kisah kelam dan miring di balik jeruji besi.


Semoga bermanfaat



Powered by Blogger.