Sebuah Puisi Kedamaian Berfaedah

Sebuah Puisi Kedamaian Berfaedah

air


Bilakah deru kesibukan merajai.


Konser pun tercipta beriring amarah.


Panggung hiburan berjalan di atas kejenuhan.


Akankah terulang kembali ?


Ingin ku merasakan,


Inderawi tajam menusuk tulang rawan.


Menyejukkan sampai ke sanubari.


Tanpa tercampur huru-hara.


Semilir angin pagi sampai malam.


Menemani derap langkah nan mendayu.


Ketika terhenti ,


Mereka setia mengawal raga yang termakan aktivitas ini.


Gemercik air pun mengiringi.


Berulang-ulang seperti terdorong menantang udara.


Oleh tangan-tangan berdosa nihil.


Dengan suasana pikiran yang belum teroplos.


Indahnya alam tersebut,


Sepertinya hanya waktu yang dapat menarikku.


Kembali berkaos oblong beralas kaki tanah.


Bermain dengan cangkul dengan tanaman bertimbal balik.


Masih berlangsung,


Deru mesin knalpot beriring klakson bernyanyi.


Memecahkan jiwa raga secara perlahan.


Aku masih merasakan karena terjebak oleh waktu.


Suatu waktu terdapat musim tas ransel dan sandal merajalela.


Beriring tas koper dan kaos oblong.


Namun apadaya,


Aku tetap dalam masa tahanan.


Aku pun memasang lengan baju.


Menghadap atasan dengan tangan dan kepala dingin.


Meminta hak sebagai manusia biasa.


Karena ku yakin, seburuk apa pun yang diputuskannya, maka hal itu sebenarnya adalah sebuah boomerang.


Beberapa saat kemudian,


Ketok palu pun terdengar.


Aku harus langkahkan kaki.


Pesangon pun tergenggam.


Loyalitas dan absensi tergiang di pikirannya, padahal ia hanyalah manusia.


Kataku dalam sukma,


Oke. Mungkin inilah yang terbaik.


Segenggam bekal di tangan dan segendong bawaan plus orang tersayang.


Aku pun meluncur ke tempat impian itu.


Berharap segenggam emas dapat kuraih.


Haaahhh..Aku senang.


Bebanku selama ini sudah dilepas oleh semilir angin ketika sampai.


Anak istri terhanyut dalam syahdunya.


Gemercik air beriring canda tawa.


Sungguh sukma ini seperti terisi air sejuk pegunungan.


Di balik air tersebut,


Rupanya terdapat secuil api.


Api tersebut mendorongku melalui otak kanan.


Alam serta isi kampung pun mendukung.


Aku  kerahkan tenaga dari fajar menyingsing hingga mega merah.


Tenaga yang terkontaminasi  rasa dari otak dan sukma.


Aku  pun tak hanya bertangan dua, melainkan seribu.


Lampu bohlam itu perlahan kian benderang.


Akhirnya,


Proyekku dapat terselesaikan.


Mesin bertemankan air penghidup sumber penghidupan disana, yaitu padi.


Buah dari mengalirnya inspirasi alam.


Rupiah pun kini mengalir.


Bukan hanya ke kantongku,


tetapi juga ke kantong warga sekitarku.


Kini ku bisa merasakan,


Arti damai yang hakiki.


Semoga bermanfaat