Nyaris Bangkrut, CEO Perusahaan Ini Turun Gaji dari Rp10 Miliar Jadi Rp 13 Ribu Perak

Nyaris Bangkrut, CEO Perusahaan Ini Turun Gaji dari Rp10 Miliar Jadi Rp
13 Ribu Perak

gopro

Mungkin hal ini tak pernah terbayangkan dalam benak Nicholas Woodman, CEO perusahaan kamera aksi, GoPro Inc jika nasibnya bakalan terjun bebas seperti sekarang. Kamera yang dikenal bagi kalangan petualang ekstrem itu mulai naik daun pada tahun 2004 lalu, saat sebuah perusahaan Jepang memesan 100 unit kamera. Tahun demi tahun setelahnya, penjualan Go Pro terus melambung pesat hingga akhirnya mampu menjual 2,3 juta kamera pada 2012.


Lebih menakjubkan lagi, GoPro berhasil mencatatkan pendapatan sebesar 986 juta dolar, dengan pembukaan  28,65 dolar per lembar, dan berhasil menutup harga saham 31,34 dolar. Tahun 2014, keberuntungan masih dipihak Nicholas, di mana ia mendapat paket unit saham terbatas seharga 284,5 juta dolar, membuat pria berusia 40 tahunan itu menjadi pimpinan nomor satu perusahaan Amerika dengan pendapatan terbesar.


sumber: cnbc

Namun siapa sangka, jika pada awal tahun 2016 lalu, menjadi saat yang paling apes bagi GoPro hingga harus memecat 100 orang pekerjanya, lantaran pendapatan perusahaan yang kian menurun. Gejala itu bukannya tak disadari, karena sejak tahun 2015, pendapatan GoPro memang tak mencapai target. Lantaran pendapatan yang menurun, harga saham pun turut anjlok menjadi 24 dolar per lembar.


Hingga awal tahun 2018 ini, kondisi GoPro tak jua membaik, mereka bahkan memecat lagi 200-300 pegawai, termasuk memangkas gaji CEOnya sendiri dari yang awalnya 800 ribu dolar plus bonus 300 ribu dolar (Rp14 miliar) hingga ia harus rela menerima gaji sebesar 1 dolar saja alias cuma Rp 13 ribu perak. Kini, perusahaannya tengah menunggu investor yang tertarik membeli demi menyelamatkan perusahaan.


sumber: thanandlaura

Di tengah kesulitan perusahan, GoPro harus berkompetisi ketat dengan produk-produk kamera aksi serupa dengan harga lebih murah seperti keluaran Olympus, Sony, dan Xiaomi. Kegagalan GoPro lainnya, adalah saat meluncurkan produk drone, Karma yang kemudian dinilai cacat hingga harus menarik sekiatr 2500 unit produk dronenya pada akhir tahun 2016 lalu. Sedangkan, di satu sisi pasar drone sudah dikuasai oleh Dji asal China yang menguasai hingga 85 persen pasar drone dunia.


Semoga bermanfaat