Ads Top

Design Thinking Langkah Awal Dalam Membuat Startup



Bayangkan kamu berada di tahun 2009, bayangkan juga kamu berada di posisi ingin mencari transportasi umum berbasis motor (ojek) ditengah malam. Apa yang kamu lakukan? Saya yakin pemikiran kamu sama dengan saya, yaitu bingung. Bingung mencari dimanakah ojek yang dapat saya gunakan pada malam-malam seperti ini, padahal kamu membutuhkannya pada saat itu juga.


Dulu tak terpintas di benak kita atas adanya inovasi transportasi berbasis teknologi saat ini yang sampai saat ini masih ramai-ramainya diperbincangkan. Go-Jek, Grab Bike, Uber adalah contoh inovasi yang hadir dari sebuah kebiasaan orang Indonesia yang ingin mendapatkan akses transportasi yang nyaman dan cepat sampai tujuan. Dari manakah ide Startup besar seperti mereka bisa berkembang pesat? Jawabannya, OJEK. Lantas ada apa dengan OJEK?


Apa itu Design Thinking?


Design Thinking adalah A human-centered, prototype-driven process for innovation that can be applied to product, service, and business design.


Design Thinking adalah proses untuk menghasilkan inovasi yang berpusat pada orang sebagai fokus inovasi dan didukung dengan pembuatan prototipe. Inovasi yang dihasilkan bisa berupa produk, jasa, atau desain bisnis.


Sehingga Design Thinking adalah cara yang bisa kamu lakukan apabila ingin mendirikan sebuah Startup. Melalui Design Thinking ini kamu bisa eksplor berbagai kondisi saat ini untuk kemudian mencari celah-celah untuk kemudian bisa dikembangkan menjadi luar biasa.


Bingung? Yuk baca contoh Design Thinking pada salah satu perusahaan Startup di Indonesia di bawah ini


Men-design Thinking-an Ojek



Ojek sudah menjadi transportasi yang umum di Indonesia. Ojek adalah transportasi yang menggunakan motor sebagai modal utamanya. Ojek dapat digunakan apabila kita ingin mendapatkan akses transportasi yang cepat sampai tujuan (bisa nyalip-nyelip). Dulunya, profesi ojek mayoritas dilakukan oleh orang dengan usia rata-rata diatas 30 tahun. Ciri khas dari sebuah ojek adalah pangkalan ojek. Apabila kita ingin menggunakannya maka cara yang paling sederhana adalah mendatangi pangkalan ojek.


Teknologi dan perkembangan jaman tidak bisa dihindari, kalimat itulah yang cocok menggambarkan kondisi Indonesia saat ini. Hadirnya layanan ojek berbasis aplikasi adalah contoh men-design thinking-an ojek. Ojek yang sebelumnya hanya bisa didapatkan di pangkalan-pangkalan saja namun untuk saat ini apabila anda membutuhkan ojek maka 99% dari anda menjawab Pakai saja Go-Jek/Grab/Uber, setuju?


Dalam kasus ini ojek berhasil di design thinking kan oleh para pelaku startup berbasis transportasi online menjadi sebuah ladang bisnis yang tumbuh subur di tanah air. Ojek di design thinking kan dengan cara seperti:



  1. Mengembangkan cara menggunakan ojek dengan cara yang lebih sederhana

  2. Merubah paradigma masyarakat untuk semakin menggemari ojek

  3. Mengembangkan transportasi umum yang nyaman dan aman bagi masyarakat


Sehingga munculah inovasi-inovasi antara lain:



  1. Kemudahan mendapatkan ojek melalui pemesanan online

  2. Kemudahan menggapai akses tujuan yang kita inginkan dengan cepat


Berawal dari 2 inovasi itu yang membuat pelaku Startup berbasis transportasi online untuk terus mengembangkan ide bisnisnya.


Sudah mulai paham kan apa itu Design Thinking? Nah baca lagi ya dibawah ini biar kamu makin paham!


Proses Design Thinking



Ada 5 tahapan yang harus kamu pahami apabila ingin menggunakan Design Thinking sebagai awal kelahiran ide brilliant kamu.


1) Empathize (empati), tahapan ini adalah kondisi kamu dalam melihat masalah orang-orang (user) yang ada disekitar kamu. Berinteraksi dengannya akan membuat kamu tau apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Maka dengan begitu kamu akan mengetahui apa yang mereka butuhkan. Dengan demikian kamu bisa menggali pemikiran kamu untuk bisa menjawab apa saja yang mereka katakan pada kamu pada saat berinteraksi.


2) Define, nah pada tahapan ini kamu sudah mulai menemukan apa yang cocok untuk menjawab pertanyaan yang didapat pada saat tahapan emphatize. Sasaran yang ingin dicapai dalam tahapan ini adalah mengembangkan pemahaman yang mendalam dari user dan menjadikannya sebagai ruang untuk desainnya. Barulah kemudian kamu dapat merumuskannya sebagai sebuah pernyataan masalah yang tepat untuk di eksekusi, atau yang dinamakan sebagai Point of View (POV).


3) Ideation, tahap ini merupakan tahapan kamu untuk mengungkapkan semua curahan ide-ide yang kamu dapatkan pada tahapan sebelum ini. Ide yang muncul pada tahapan ini bisa menjadi bahan untuk membuat prototipe startup milikmu untuk dites kepada user.


4) Prototype, inti dari tahapan ini adalah merubah ide-ide yang kamu dapatkan menjadi bentuk nyata. Untuk membuat prototipe yang memiliki kemungkinan keberhasilan yang besar maka libatkanlah orang-orang di tim-mu. Seperti tim khusus desainer, programmer, dll. Ada beberapa alasan mengapa kamu harus membuat prototipe: eksplorasi atas ide-ide yang didapat, testing untuk mengetahui kesalahan dan berikanlah solusi atas kesalahan tersebut, membangun inspirasi dalam tim-mu, membuatmu belajar lebih dalam lagi, problem solving situation dalam tim-mu (adanya ketidaksepahaman).


5) Test, tahapan ini dilakukan secara berulang kali untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Hal ini dilakukan guna memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ditemukan pada saat membuat prototipe. Alasan untuk melakukan test antara lain ialah; memperbaiki prototipe, mempelajari user lebih dalam, melakukan tes atas POV yang kamu buat.


Selesai..itu artikel tentang Design Thinking. Yuk mulai sekarang kamu yang ingin mendirikan Startup harus memikirkan siapa user yang cocok untuk kamu Design Thinking-an.


Semoga bermanfaat



Powered by Blogger.